Ini saya dengarkan dari seorang pendakwah, yang menjadi favorit saya. Sebelumnya saya tidak begitu mengerti apa arti ‘barakallah’. Saya pikir ya..sesuatu yang diberkahi Allah dan berupa ‘pahala’. Mungkin ada benarnya juga itu, tapi ternyata, maksudnya tidak sesederhana itu.

Beliau menjelaskan arti barakallah sebagai: jika kita menjadi lebih baik dari sesuatu hal, atau melakukan hal baik dari sesuatu hal, hal tersebut artinya mendapat ‘berkah’ dari Allah. Dan saya meng-interprestasikannya seperti ini; kalau saya mendapat uang, lalu uang itu saya gunakan untuk kebaikan (membantu orang lain misalnya) artinya uang yang saya dapatkan itu telah mendapat berkah dari Allah sehingga dengan itu saya melakukan sebuah kebaikan. Atau ketika saya berdoa, dan dari doa saya itu ada perubahan sikap atau cara pandang yang membuat saya jauh lebih baik dari hari-hari kemarin, artinya doa saya itu (dan saya tidak tahu doa yang manakah itu karena kondisi saat saya melakukan doa berbeda-beda) mendapat berkah dari Allah.

Ada uang yang kita terima lalu kita gunakan untuk hal yang tidak benar, artinya uang itu tidak mendapatkan berkah dari Allah. Jadi pengertian berkah ini menjadi ‘muncul’ justru sebelum kita melakukan sesuatu, bukan sesudah kita melakukan sesuatu. Itu sebabnya saya pernah mendengar sebuah anjuran supaya tidak membuang-buang makanan meskipun itu hanya sebutir beras saja, mengapa ? karena berkah Allah itu ada dimana-mana yang kita tak pernah tahu… dari ratusan atau ribuan butiran beras yang kita makan ada yang mengandung berkahNya yang bisa membuat kita jauh lebih baik, atau paling tidak menjadi baik. Itu sebabnya untuk orangtua yang mengerti, mereka sering menganjurkan putera-puterinya untuk mengambil makanan secukupnya (selain mengawalinya dengan basmallah tentunya)  dan menghabiskannya tanpa menyisakan sebutir nasipun, supaya seluruh berkah yang ada dalam makanan tersebut masuk dalam dirinya . Ini sekaligus menggambarkan sifat ‘syukur’ terhadap rejekiNya, menghindari mubazir, dan bersahaja dalam makan. Subhanallah…

Demikian pula dengan makna barakallah yang disebutkan akan menghasilkan kebaikan. Saya pribadi kemudian merasa bahwa pemikiran serupa ini saja bisa berdampak sangat besar. Kita bisa mengendalikan kebaikan hanya karena berpikir soal barakallah. Seperti; saya ingin semua yang saya dapat diberkahi Allah sehingga saya cenderung dan terdorong untuk melakukan sebuah kebaikan dari yang saya dapatkan dengan anggapan karena memang Allah ‘telah’ memberi berkahNya sehingga saya melakukan kebaikan darinya. Apakah itu betul atau tidak (bahwa saya diberkahi) walahuallam, toh saya akan  tetap melakukan kebaikan dari sesuatu hal..mengangkat hari saya saat ini menjadi lebih tinggi derajatnya dari hari-hari saya yang kemarin, membuatnya menjadi HARUS lebih baik  karena saya beranggapan (paling tidak berprasangka positif) bahwa Allah telah memberikan berkahNya sehingga saya menjadi (harus) lebih baik dari kemarin. Subhanallah… dengan berpikiran seperti ini saja saya yakin semua pemikiran negatif tidak akan pernah menyinggahi kepala saya… saya akan disibukkan oleh rencana-rencana malakukan kebaikan karena berharap barakallah dari makanan saya, doa-doa saya, atau pemikiran-pemikiran saya.

Bagaimana kalau ada kejadian buruk yang tiba-tiba memotong disaat-saat saya menciptakan kebaikan ?  Buat saya itu terjadi pasti karena sesuatu yang tidak diberkahi (yang kemudian masuk dalam kategori ‘ujian’, atau hukuman atau peringatan)… saya mungkin tahu atau tidak tahu apakah sesuatu yang tidak diberkahi itu.. bisa jadi dari doa, sikap, makanan atau pemikiran saya yang salah. Bisa jadi dari omongan saya yang tidak mendapat berkah sehingga kemudian saya malah melakukan sesuatu yang buruk, atau kejadian buruk menimpa saya, banyak kemungkinan.

Yang pasti saya harus mengintrospeksi diri saya sendiri tentang apa yang sudah saya lakukan ? hal apa yang sudah saya lakukan yang tidak mendapatkan berkahNya ? Toh memang tidak semua tindakan atau keputusan yang kita lakukan dengan seijinNya mendapatkan berkahNya. Lalu inilah saatnya menelisiki dosa diri, kesalahan diri, dan memohon ampunanNya, mengharapkan kembali berkahNya dan semoga berkah yang lebih besar lagi.

Begitulah kehidupan terus berputar laksana roda pedati… saling berkaitan menjadi sebuah lingkaran besar dan berlangsung secara terus menerus, berulang-ulang.  Saya berharap berkah, saya diuji, saya dihukum, saya diperingati, saya taubah, saya melakukan kebaikan, saya berharap berkah  kembali, lalu ujian, lalu berkah, lalu taubah… dan seterusnya…dan seterusnya…..

Yang pasti jika kita menjadi lebih baik secara kejiwaan, sikap , karakter, atau yang lainnya, barakallah telah kita dapatkan dalam hidup kita. Tapi sebaliknya jika menjadi jauh lebih buruk baik moral maupun spiritual .. hidup kita jauh dari barakallah. Hanya kita yang mampu mengendalikan nafsu-nafsu kita sendiri untuk mencapai barakallah. Hanya kita  yang tahu kekurangan apa yang ada dalam diri kita yang bisa kita perbaiki untuk sebuah barakallah. .. dan hanya Allah yang memutuskan kapan Dia akan memberikan berkahNya.

Walahuallam bi sawab… yang bisa kita lakukan hanya berusaha, berdoa dan berharap.