Latest Entries »

Labil

Saya tak suka orang labil, yang tak punya pendirian padahal bisa berpikir. Kadang saya lebih menghargai yang bisa ambil keputusan meski salah, daripada labil lalu tak melakukan apapun.

Mengapa ada otak tapi tak dipakai? Bukankah setiap keputusan yang diambil bisa diistikarahkan? Jikalau salah semoga tak merugikan, jikalau benar semoga membawa barokah. So why not make a decision? Why confused? And decided not to do anything? Coward.

Gak tau deh! Sejak dulu saya memang paling ga sabaran melihat orang labil semacam ini. Apalagi jikalau saya tau orang ini bukan dumb but smart.

How could a smart people gak bisa memutuskan? Not because dia ga tau tapi karena ragu dan padahal ragu nya itu bisa dia perbaiki dengan banyak berusaha mencari kebenaran by lillahi ta Alla. Mereka bisa mencari tau but mereka tak mau!

Ah asshole!

Advertisements

Tabir

Saya pikir benar bahwa baju yang paling mulia yang bisa dikenakan manusia adalah ahlaknya.

Saya hanya melihat contoh keciiiiiil dari kondisi perpolitikan Indonesia saat ini, dimana terjadi dua kubu militan pendukung dua pasang capres.

Kebetulan di salah satu capres banyak pendukung muslim militan disebabkan sejarah “penunggangan politik atas nama islam” dalam rangka menggulingkan seorang gubernur non muslim (yang sebetulnya the best governor ever). Sejak itulah para muslim yang merasa paling sunnah dan paling benar bersatu membentuk kelompok 212. Kelompok yang kemudian mengaku mendukung khilafah dan membenci Pancasila karena menurut mereka tidak sesuai dengan sistem khilafah yang diusungnya.

Begitulah lalu saya melihat banyak kelakuan perempuan2 bercadar yang seperti tidak sesuai dengan bajunya.

Menurut saya, baju bercadar itu mewakili sosok perempuan muslim yang sesuai dengan harapan islam yaitu lembut dan bersih hatinya, beradab dan santun tutur katanya, lemah lembut ahlaknya, lapang dada dan rendah hati, tidak ingin menonjol terlihat umum , intinya teguh menjadi wanita qurani. Tapi faktanya justru berbalik 180°. Dari ucapan2 mereka dan hamburan ujaran hujatan yang terucap dari mulutnya, berikut kebencian yang nampaknya mewakili hati, ahlak kasar memalukan, membuat saya berpikir : siapakah mereka ini yg ada dibalik jubah lambang ke humble an muslimah???? Hujatan dan kebencian yang mereka pertunjukkan benar2 membuat “baju cadar” menjadi olok-olok.

Apakah hijrah itu berarti ganti baju ? Atau ganti hati ? Pertanyaan saya muncul berbarengan dengan keheranan saya. Ilmu yang saya miliki berasa kontras dengan fakta yang saya ketahui.

Mungkin benar bahwa tiap orang punya setan masing2, saya tak berhak merasa lebih baik dari mereka. Tapi setidaknya saya tak makai agama saya untuk justru menjatuhkan nama baik agama saya. Dalam segala dosa dan ketidaksempurnaan saya, saya ingin menunjukkan bahwa agama saya adalah agama kelembutan hati dan jauh dari kebencian antar sesama manusia (baca: sesama pendosa).

Saya memilih hijrah hati….. Bukan hijrah penampilan. Semoga Allah meridhoi niat baik kita semua.

Gak ada yang kebetulan..

Dalam perjalanan naik kereta api dari Bandung menuju Kediri, saya mendapatkan teman ngobrol seorang pria yang saya taksir umurnya sekitar 50 an tahun. Lucunya selama ngobrol panjang lebar itu saya tak tahu wajahnya karena memakai topi. Menaksir umurnya cuma dari ceritanya tentang anak tertuanya yang konon salah satu winner DJ se DKI Raya.

Saya bilang tak ada yang kebetulan di dunia ini karena apa yang dia sampaikan pada saya seperti nasehat atau masukan2 yang perlu untuk menjalani hidup yang tak mudah. Sebetulnya dia tak hendak menasehati, toh dia asing terhadap saya, tak tau masalah saya. Dia cuma menceritakan bagaimana dia mengatasi masalah hidupnya yang kebetulan masalah saya juga!! Geeez!!

Bermula tentang cerita pekerjaannya yang 100% adalah pekerjaan sosial, pengabdian terhadap negara yaitu aktif di PCTA https://pctaindonesia-dpdjabar.com/tag/rumah-layak-huni/. Dengan semangat dia menunjukkan karya2 mereka dalam membantu rakyat yang memerlukan bantuan mendapatkan rumah layak huni.

Lalu pembicaraan menjurus ke pandangan2 hidupnya.

“Saya memulai semua pembelajaran hidup saya melalui prinsip saya tak suka katanya. Saya harus membuktikannya sendiri, mengalami sendiri, menjalani sendiri. Misal, Katanya berbisnis dengan Allah itu banyak ajaibnya, maka saya buktikan. Saya lakoni dengan rasa tawakal yg tinggi bahwa teori ini benar. Ternyata memang benar!!. Maka saya tak ragu mengajak orang membuktikan itu. Katanya pekerjaan istri lebih ringan dari suami. Maka saya buat 40 days challenge untuk diri saya membuktikan omongan itu, eeehhh hari ke 24 saya sudah gak sanggup nerusin. Sejak itu saya sangat menghargai istti saya dengan segala pengabdiannya selama ini terhadap keluarga”

” Ibu, kalau kita terjebak dalam situasi yang memaksa kita untuk berantem, pikirkan dulu apakah berantem ini nanti akan menyelesaikan masalah? Ataukah hanya akan menambah masalah? Rasanya tak ada kegiatan berantem yang menyelesaikan masalah, ya kan? Caranya saja sudah tak baik, bagaimana Allah mau bantu? Jadi jangan pakai cara itu. Carilah cara yang Allah sukai ketika menghadapi masalah. Apalagi suami istri. Makin berantem, makin jauh ridho Allah, makin jauh dari jalan keluar. Makin ditunggangi setan, makin ,malah, membebani. Malah nambah masalah.”

” Kalau saya biasanya mengajak istri untuk sama sama mengadukan masalah pada Allah. Dia yang membuat gemboknya, Dia juga yang menyimpan kuncinya. Maka mintalah padaNya. Buat apa suami istri malah saling berantem? Bukan istri atau suami yang punya kuncinya kan? Bener ga Bu?” Saya mengangguk , tersenyum pahit.
” Sesudah mengadu pada Allah , ya iklaskan saja masalah itu ada. Yang penting kita tahu kepada siapa kita mengadu.. itu sudah bisa jadi bekal kekuatan kita menjalani masalah. Bukan malah saling berantem. Wah…tambah jauh ridho Allah dan bantuan Allah Bu”. Lagi lagi saya memaksa tersenyum, getir. Mengingat saya doyan banget berantem karena saya pikir cara terbaik menyadarkan orang adalah memarahinya dengan keras!!! But..nampaknya justru itu fatality yang membuat suasana panas dan karomah menjauh tak betah. Damn!!!

“Anak2 saya itu hanya saya nasehati soal sholat saja Bu. Mereka boleh apapun tapi sholat tak boleh ditinggal. Anak saya yang besar hidupnya di kehidupan malam bu. Kuping ditindik, merokok, tapi saya biarkan asal dia sholat bener. Alhamdulillah bu sekarang sih dia sudah jauhi semua kehidupan malam itu dan jadi anak manis di rumah. Saya percaya semua itu terjadi karena dia tak meninggalkan sholat.”

” Jangan kenalkan kewajiban sholat dulu pada anak sebelum kita menumbuhkan kesadaran tentang perlunya kita sholat bu. Mereka akan lakukan dengan terpaksa dan tanpa rasa apapun terhadap Rabbnya. Melakukan bukan karena cinta tapi karena takut masuk neraka atau karena takut dimarahi. Jangan bu. Sadarkan mereka bahwa mereka perlu menghadap Allah untuk menjalani kehidupannya. Sadarkan mereka bahwa Allah mencintai mereka dan selalu menunggu mereka meminta padaNya sehari 5x. Mengadu padaNya, dll. Sadarkan, merekalah yang butuh Allah…” Saya tercenung … Gagu

” Bekerja di bidang sosial begini bu sama dengan berbisnis dengan Allah. Kami tak menarget apapun untuk urusan duniawi. Yang penting tujuan hidup saya bisa tercapai, yaitu memberikan manfaat bagi sesama. Saya tak pernah pandang bulu terhadap siapa yang saya tolong. Apapun agamanya, apapun ras nya , apapun sukunya, mereka semua sama sama ciptaan Allah bu. Saya bahkan kadang2 tak bisa makan bu karena tak ada uang. Pekerjaan saya urusannya banyak untuk kepentingan akhirat memang bukan duniawi. Jadi wajar saya tidak kaya. Tapi seperti yang saya bilang pada ibu, bisnis dengan Allah banyak ajaibnya. Dikala saya tak bisa makan, saya bersimpuh dalam sholat, mengadu pada Allah supaya sudi kiranya Ia memberi saya makan. Ibu boleh percaya boleh tidak, jika cara kita benar, inshaa allah , Allah ridho bu. Kita tidak berkeluh kesah marah2, melainkan berdoa kusuk meminta. Eehh tetangga datang kasih berkat nasi kotak dua buah untuk saya makan bu. Lauknya enak enak lagi. Ajaib. Waktu dengan istri saya jg pernah bu. Cuma ada nasi, tapi kami bersukur saja tersenyum, padahal tak ada uang sepeserpun di dompet, eehhh ada kiriman jne bu dari teman saya, se dus, isinya rendang bu. Banyak sekali sampai saya bagikan pada tetangga” Dia mengekeh seolah masih tak percaya dengan kejadian itu.

” Adab pada tetangga juga saya seriusi bu. Saya punya pohon mangga di rumah, jika berbuah panen, tetangga duluan yang saya antar. Karena saya sudah sering merasakan bu, kebahagiaan yang paling nikmat itu adalah melihat orang lain senang karena perbuatan baik kita. Jadi jangan letih berbuat baik bu, sekecil apapun itu. Dan Allah selalu memberi kita kesempatan untuk merasakan nikmat kebahagiaan akibat bisa membahagiakan orang lain bu, memberi manfaat bagi orang lain, meskipun cuma dengan membagi mangga atau menolong memasangkan rantai sepeda”

Laki laki paruh baya itu tetiba merasa lapar lalu minta ijin makan makanan yang disiapkan istrinya dari rumah. “Banyak amat nih nasinya. Istri saya pasti takut saya kelaparan makanya dibawakan segini banyak. Istri selalu memikirkan suami sampai sedetil itu ya bu. Kalau suami boro boro mikirin istri sampai detil detil amat” Saya tersenyum lebar,bener banget itu.

Selesai makan dan minum dia melanjutkan, “Istri saya itu orang berada yang hidup pas pasan dengan saya. Dia mualaf bu. Tapi kami sepakat bahwa surga dunia itu ada pada rasa sabar dan syukur. Begitu kita mampu memegang kedua hal itu, kita tak akan pernah tenggelam dilautan kehidupan ini. Sabar sukur ibarat perahu yang menyelamatkan kita. Istri saya itu tak pernah iri melihat kawan kawannya bermewah-mewah atau liburan keluar negeri bolak balik. Kenapa? Dia sudah sangat mensyukuri apa yang dia miliki sekarang. Dia sudah bahagia dengan semua itu. Orang yang sudah merasa bahagia dan cukup tak akan pernah ingin apapun lagi yang berbau duniawi bu. Dia sudah selesai dengan dirinya. Percayalah. Itulah surga, karena kita bisa lebih menikmati hidup dan melihat indahnya. Kalau tertimpa masalah mampu bersabar hati untuk tidak banyak melihat sisi negatif, bahkan menutup mata pada hal2 negatif yang menyertai masalah, cukup mengadu kepada Allah sebagai pemilik kunci pun berupa bentuk surga bu. Karena dengan begitu kita semakin dekat pada Allah. Semakin sering menangis membersihkan hati dan hati semakin jelas melihat banyak hikmah dibalik suatu masalah, bukankah itu surga kemenangan? Surga ketenangan batin? Kedamaian? Hanya Allah yang bisa memberikan semua petunjukNya bu, jadi minta saja padaNya”

” Berbuat baik, melakukan perintahNya, menjauhkan kita dari aura aura negatif yang disukai setan bu. Diri kitalah yang mampu menciptakan tameng, terhadap bisikan2 setan. Jadi banyak2 saja berbuat baik lahir dan batin bu. Inshaa Allah, Allah ridho”

Bagitu banyak yang kami bicarakan tapi di Jogja , bapak baik hati itu harus turun.

Saya merasa sedang diterangi ilmu oleh Allah melalui laki laki itu. Karena apa yang dia katakan menohok tepat dijantung permasalahan saya selama ini. Masalahnya, mampukah saya mempraktekkan ilmu itu?

Sama seperti dengan apa yang dibilang bapak itu: “mempraktekkan satu ayat lebih sulit dari menghapalkan sepuluh ayat bu, namun mempraktekkan satu ayat jauh lebih baik darpada menghapalkan 10 ayat”

Oh huffft…

The Tes

Saya baru melihat sebuah jenis ujian kesabaran yang menurut saya secara psikologis tak kalah meletihkan daripada jenis ujian financial. Bahkan mungkin jauh lebih ngetroll jiwa kita. Saya sampai kagum pada seribu satu cara Tuhan menciptakan “tekanan mental” yang benar benar berdaya rusak tinggi. Sungguh seperti sedang melihat Tuhan ingin kita membuktikan ke-arogansian kita yang merasa sudah menjadi sabar dan punya cinta. Ternyata kita masih jauh dari sabar, juga dari cinta. Jauh…. 😯

Itu sebab saya menjadi takut mengaku telah sabar atau punya sabar, takut mengaku punya cinta yang besar, takut mengaku mampu, takut juga meremehkan sesuatu yang kita belum tau karena belum menjalani. Karena ketika diuji, nilai kita bahkan tak sampai setengah. Omong besar doang, tak teruji.

Saya juga belajar dengan sangat tak nyaman hati bahwa pikiran kita itu daya hancurnya luar biasa besar. Kita ternyata tak perlu bantuan siapapun untuk menghancurkan diri, cukup pikiran kita sendiri saja, sudah bisa menghancurkan diri kita pertama mental, jiwa lalu fisik. Luar biasa! Sebaliknya, pikiran kita sendiri pula yang punya daya bangun jiwa luar biasa bahkan melebihi daya rusaknya hanya jika kita mampu mengontrolnya (pikiran) supaya selalu berada di track yang benar (positive track) dengan catatan : ini murah tapi tak mudah, tak perlu biaya cuma niat untuk tetap positif.

Seperti itu yang sedang saya dapat…

Segini dulu aja😊

Humanity

Cuma gak abis pikir bagaimana manusia yang harusnya manusiawi bisa punya karakter rasis dan berpri kebinatangan. Ironisnya lagi jika mereka adalah orang yang mengaku beragama.

Tak terpikirkah bahwa kita semua manusia sesama ciptaanNya? As simple as that..

Ibu

Mengapa ibu?

Lets see….

Alam sebagai ibu….

Benda2 yang dilahirkan dibawah lingkaran bulan, dimulai dari keadaan yang paling rendah dan tidak lengkap, dan berkembang menjadi yang paling lengkap dan paling bagus. Ini terjadi sejalan dengan berlalunya waktu dan jam, sebab alam tak menerima curahan dari benda2 angkasa secara sekaligus. Sebaliknya, ia menerimanya secara lambat laun, sedikit demi sedikit, sebagaimana seorang siswa cemerlang menerima ajaran dari guru yang pandai. ( Ikhwan Al-Shafa).

Alam adalah wilayah tempat munculnya 4 sifat : kehidupan, pengetahuan, hasrat dan kekuatan (Ibn Al-Arabi)

Ibu dalam nasehat Rasulullah saw:

Nabi ditanya: “Diantara semua orang, siapakah yang paling pantas menerima kebaikan cinta kasih (birr)?” Nabi menjawab, “Ibumu”. Penanya itu bertanya lagi, “Setelah itu siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Setelah itu siapa?” Nabi berkata,”Ibumu. Setelah itu baru ayahmu.”
Birr atau kebaikan penuh cinta adalah sifat Illahi (QS 52:28) yang menyerap eksistensi dan terwujud terutama dalam diri pada ibu. Dan sebagaimana ibu mencintai kita, kitapun harus mencintai dan baik terhadap ibu. Ibu patut menerima cinta kasih , kebaikan, dan kebaikan tertinggi sebagai balasan.

Risalah mengenai hak ibu

Hak ibumu adalah bahwa kamu mengetahui dia mengandungmu dimana tidak ada orang yang mau mengandung siapapun, dia memberikan padamu buah dari hatinya yang tidak akan diberikan orang lain, dan dia melindungimu dengan segala dayanya.
Dia tidak peduli dirinya kelaparan selama kamu bisa makan, tidak peduli dirinya kehausan selama kamu bisa minum, tidak peduli dirinya telanjang selama kamu bisa berpakaian, tidak peduli dirinya terbakar terik matahari selama dirimu bisa berlindung, .
Dia berjaga tanpa tidur demi dirimu, dia melindungimu dari panas dan dingin, agar kamu menjadi miliknya.
Kamu tidak akan mampu menunjukkan rasa terimakasih kepadanya, kecuali lewat pertolongan Tuhan yang akan memberimu keberhasilan.
(Ali ibn Al-Husayn)

Ibu sang pemilik rahim (microcosmos)

Rahim berasal dari akar kata yang sama dengan rahmah (belas kasih). Kamus mendefinisikan rahim sebagai bagian dari perut dimana bayi berasal. Rahim juga berarti ikatan darah, persaudaraan atau hubungan keluarga dekat. Rahmah didefinisikan sebagai belas kasih, rasa kasihan, kasih sayang, kelembutan, kecenderungan untuk membantu seseorang. Semua itu merupakan sifat alamiah dari seorang ibu terhadap buah dari rahimnya……

sumber: The TAO of Islam , Sachiko Murata

Menyesal? Tidak

Ada teman pernah bertanya setelah saya curcol ngalar ngidul tentang kehidupan tema : harapan dan kenyataan, ” Jadi, kamu menyesal?”. Saya menatapnya sambil menggeleng, “Tidak”. Dia nampak heran. Mungkin dia pikir saya curcol itu semacam bentuk penyesalan maha dasyat yang efeknya kehancuran total bagi jiwa.

Setelah menarik nafas panjang, menyamankan duduk, saya bilang, “Karena tak ada satu masalahpun yang akan meleset dariku jika Allah menghendaki aku belajar sesuatu untuk memantaskan diri dengan tujuan penciptaanku”

” Piye? Mosok ga nyesel ga jadi sama dokter yang sekarang punya RS besar di Aceh? Gak nyesel gak dapat Korean? Putihee jiaaan sak tae ndayak”

” Yo nda. Setiap manusia itu kan punya tahapan yg harus dilalui masing2. Jadi semisal sekarang , tahun ini , bermasalah dengan financial yaaa dengan siapapun kita nikah, masalah itu akan menguji kita. Misal bermasalah dengan suami sejak 2005 , siapapun yg kita nikahi ya tetap akan menyuguhkan masalah. Misalkan target masalah selama 15 tahun berlangsung, siapapun suami itu ya tetap akan menyuguhkam masalah selama 15 tahun. Begitu”

Seperti yang saya tulis sebelumnya soal tadaru, masalah mengarahkan kita kesana, ke tadaru, diluar tujuan untuk memaksa jiwa kita grows, tumbuh seperti yg diharapkan Sang Pencipta.

Jadi saya pikir lucu banget kalau feel nyesel. Lu kira yg diluar rencana Allah, yg lu idam idamkan sempurna itu bakal bisa menggerakkan hati lu menuju tadaru dan pertumbuhan jiwa??? In your dream!!!!! Manusia tuh gak tau butuhnya apa.. yang diketahui cuma inginnya.

Somehow kalau kamu butuh masuk surga supaya gak robek robek di neraka, ya jiwa kamu harus grow, tumbuh supaya sampai pada tingkatan ihsan, karena seperti itulah penghuni surga tingkatannya.

Dan manusia harus dipaksa grow!!! How? Problems!!!

Jadi jangan sekali kali nyesel atau mengutuk masalah. Itu buat kamu supaya bisa miber ke surga tanpa dicelup di minyak panas.

Oh well manusia mahluk lemah, boleh bete, feel down tapi bangun lagi and keep fighting !!

Tadaru

Saya pernah ngobrol dengan adik2 saya tentang kusyuk saat berdoa. Bahwa kusyuk itu tak selalu bisa dicapai dengan mudah. Harus ada penjiwaan yang sangat dalam untuk mencapainya. Dan kedalaman penjiwaan itu terkadang hanya bisa didapat melalui jalan “masalah” aka penderitaan.

Puisi cinta yang dibuat oleh orang yang mengalami sendiri jatuh cinta akan berbeda keindahannya daripada puisi cinta yang dibuat oleh jomblo which is “mereka-reka” saja tanpa ada penghayatan. Hambar tanpa makna.

Tadaru inilah bentuk kedekatan spiritual antara ciptaan dan Penciptanya. Begitu dekatnya sampai kadang yang ada hanya rasa cinta dan haru biru yang menguras semua persediaan air mata. Kedekatan ini tak bisa dibuat- buat, bahkan tak bisa diniatkan. Semua berjalan lewat cerita dan kesan…hikayat2 hikmah dari peristiwa demi peristiwa yang lalu melahirkan tadaru.

Kesimpulannya adalah, ceritamu, masalahmu sesungguhnya menggiringmu pada kondisi tadaru ini. Kondisi dimana kau bisa sedekat itu padaNya hingga kau tak sanggup berkata kata selain memeluk seluruh rasa ihsanmu, kemanusiaanmu dan kehambaanmu dihadapanNya dengan serendah-rendahnya namun sangat tinggi nilainya karena sangat jarang dialami.

Tak ada yang bisa menandingi kondisi tadaru ini. Dan yang kau sebut lega itu adalah sebenar benar perasaan setelah kau mengalami “trans” tadaru ini.

How to reach it?

Tune in saja pada masalahmu dan petik hikmahnya, evaluasi dan temukan Dia sedang melakukan cinta padamu…

Lihat postingan temen jalan2 ke Eropa, Jepang, Amrik, dll sebangsanya kok saya adem aja ya? Setitikpun gak ada rasa cemburu or sirik or kepengen juga seperti itu. Sumpah deh… Gak ke pe ngen at all!!!

So saya mikir, what makes others jealous , doesn’t make me jealous. Ujian itu menyerang kelemahan kita. Itu!!!

Jangankan jalan2 ke LN, suruh jalan 5 meter dari rumah aja saya perlu mengumpulkan kekuatan extra untuk menggerakkan kaki. Kalau itu bukan soal hidup atau mati, saya tak lakukan sama sekali gerakan keluar rumah yang cuma 5 meter itu. Parah? Ya parah. Saya malas jalan. Kamar saya, my home, adalah cangkang saya paling nikmat sejagad raya (note: selama ada internet, kopi, dan musik dan kidos 😎).

Ada pernah kejadian lucu saat suami ngajak berenang rame rame and saya ogah. And saya diseret ke mobil and di “culik” dibawa berenang. Dan disana yg terjadi adalah I didn’t enjoy it at all. Untung saya sempat nge-grab alat2 flanel craft saya and asik menjait di kursi di pinggir kolam. Once again: I did not enjoy the place!!! Arrghh!!

Ke Bali juga pernah begitu. Sudahlah perginya malas malasan, sampai di Bali maunya di kamar terus or paling jalan sedikit kedepan hotel sekitar berapa langkah lalu duduk liat laut. Diajak ke Bedugul lah, Denpasar lah, Sanur lah, Tanah lot lah, Tampak Siring lah, Kintamani lah harus disereet dulu or arguing like hell : PERGI AJA SENDIRI SANAH!!!! Padahal belum ada internet looh..😂😂

Jadi kalau temen lain jadi panas jika melihat ada yg sering jalan ke LN, saya nope. Saya panas jika melihat ada yang bisa bebas praktek bikin kue dengan segala unlimit budget dan perlengkapan baking yang keren ppfffffttt ..my Lord!!! Please gimme those kind of luxurieeeesssss 😥😥😥😥.

So .. gais, ujian beda2. Soal cemburu aja sasarannya beda2. Jadi, kalau kita sedang diuji sekarang dan ujiannya berasa laksana tiada akhir, telitilah baik2. Disitu pasti ada titik lemah kita yang jadi masalah or sumber masalah kita. Harusnya jika kita sadari dan perbaiki, kita bisa lanjut ke masalah selanjutnya (baca: perbaikan selanjutnya).

Paham ?

My beloved baking sheets

Taufik

One mistake most of us do when we start turning to Allah, prayers and Quran is that we anxiously wait for the “sweetness” of eemaan the moment we start. And when it does not happen, when our 5 times prayers seem forced, when the Quran doesn’t bring us to tears – we GIVE UP!

No yaa Ikhwaani! This is another big trap we have to save ourselves from. Indeed, the sweetness of eemaan will not come except with constant perseverance. Your standing or reciting will not make it happen instantly!

It is when Allah will see you constant in His Path, it is when He sees that you pray even when you don’t feel like it, it is when He sees that you recite His Word even when every inch of your brain tells you not to, it is when He sees you strive to stand in tahajjud though you may “hate” it… it is THEN that He will give you this sweetness and contentment as a GIFT from Him.

Reflect on the words of Sufyan ath-Thawri (rahimahullah):

“For twenty years…I struggled to remain standing in prayer at night. For those twenty years I never tasted the sweetness of the night prayer. It was only after that that I found comfort and sweetness.”

Continue ya ikhwaani and DO NOT GIVE UP. When the Lord of the worlds has not given up on you, how can you give up on your own self?

Tawfique chowdhury