Latest Entries »

The purpose of life

Kemaren malam tiba2 anak saya seperti kesal dan mulai misuh2. “Kenapa sih Allah menciptakan setan buat ganggu manusia?” Kenapa kita ga diciptakan seperti malaikat? Kenapa kita harus diprogram jelek baik? Kenapa gak diprogram baik aja? Apa susahnya bagi Tuhan? Apa susahnya Tuhan buat saja semua manusia baik di bumi lalu pindah ke surga semua? Kenapa juga harus repot2 dibumi dulu baru ke surga? Toh Tuhan bisa langsung buat manusia sebagai penghuni surga dan diprogram mengabdi padaNya?”

Pertanyaan anak kelas 7 tapi penjelasannya butuh pemikiran sekelas mahasiswa untuk mencernanya dengan baik so… Saya cukup kewalahan kemaren ketika mencoba menjelaskan semampu saya.

Lalu saya teringat bahwa pertanyaan2 anak saya itu persis sama dengan pertanyaan seorang profesor matematika : Pak Jefery Lang.  Orang yang biasa bergumul dengan logika telah menemukan pencerahan lewat quran dan saya ingin pencerahan yang dia dapat itu juga menjadi pencerahan bagi anak saya. Jadilah saya mendengarkan cerita beliau untuk yang ke 4 kalinya. 

Jika anak saya jadi bertanya begitu karena kesal disuruh sholat magrib dan dia harus melawan ego nya dan melawan bisikan setan, Pak Lang karena kesal pada ayahnya yang sering memukuli ibunya, padahal ibunya bak malikat baiknya, salah apa ibunya itu sehingga dapat suami bak setan? Kemana Tuhan? Baik anak saya maupun pak Lang sama sama bertanya : kemana Tuhan? Ketika semua ketidakenakan terjadi? Mengapa tak mencegah setan? Mengapa membiarkan? Who are You God??

Dan disini saya mencoba menuliskan pencerahan yang didapat Pak Lang. 

Setelah misuh2 kenapa Tuhan tak menciptakan manusia seperti malaikat? Apakah segini aja dunia diciptakan? Hanya untuk tontonan? Main-main? Karena toh Tuhan bisa langsung meletakkan manusia di surga tanpa harus repot2 berurusan dengan setan dan akhirat? Maka atheislah Pak Lang.

Beberapa belas tahun kemudian ada kawan yang memberinya quran. Iseng dia buka langsung pada cerita tentang penciptaan manusia. Lalu tentang surah Al Baqarah yang isinya membahas manusia sebagai wakilNya dibumi (khilafah). Tentang pengumuman yang dibuat Tuhan bahwa Dia akan menciptakan manusia dan manusia itu akan menjadi khilafah di bumi. Ide Tuhan ini langsung diprotes malaikat. Come on….manusia itu perusak! Suka menumpahkan darah! Mengapa mereka malah jadi wakilMu di bumi? Kenapa bukan kami?. Dan Tuhan menjawab : Aku tahu yang kau tak tau.

Singkat cerita Allah mengajari Adam nama2 dan mendemokan kemampuan Adam dihadapan para malaikatNya. Menunjukkan betapa berbedanya mahluk ciptaanNya ini. Adam memiliki intelektual, dia mampu belajar dan menguasai bahasa, sebuah pemberian yang tidak diberikan pada mahluk selainnya. Malaikatpun menyadari mereka tak tahu apa apa.

Manusia memang mahluk dengan kemampuan merusak dan menciptakan pertumpahan darah yang luar biasa besar. Tapi juga mahluk intelek yang bisa menciptakan sebaliknya: kemampu├án menciptakan kedamaian dan keindahan yang luar biasa juga. Jadi manusia itu bisa super jahat tapi juga bisa super baik, super merusak atau super merawat, super pembenci atau super pencinta, super jelek dan super cantik. 

Manusia memiliki sisi anjelik dan setanik sementara baik malaikat maupun setan hanya memiliki masing2 satu sisi.

Maka dengan kehebatan manusia inilah malaikat mau “menyembah” nya atas perintahNya. Adapun iblis menolak melakukan itu. Menyembahnya malaikat disini bisa diartikan sebagai mengakui kelebihan dan kehebatan manusia dibanding dirinya, bisa juga diartikan malaikat bersedia melayani manusia.

Manusia itu tumbuh. Manusia itu mahluk moral yanh spiritualnya bertumbuh selama dia di bumi. Sifat malaikat dan setan yang disematkan pada manusia kelak membantu pertumbuhan spiritualnya. Dunia memungkinkan terjadinya spiritual evolusi sebagai persiapan memasuki jannahNya.

Penyematan perangkat satanik dan anjelik dalam diri manusia adalah berfungsi sebagai alat “membantu” pertumbuhan jiwa manusia. Anjelik bersifat positif mengarahkan sementara setanik bersifat negatif menyesatkan. Semacam trial and eror for the best result.

Karena manusia itu mahluk moral yang dengan inteleknya dia mampu belajar mana yang benar, mana yang salah, mana yang bermoral mana yang tak bermoral. Dengan terus menerus ‘belajar’ inilah maka jiwa manusia tumbuh.

Manusia telah dipersiapkan secara benar2 untuk menjadi wakilNya di bumi. Alasan Adam dan Hawa diturunkan ke bumi adalah bukti bahwa Adam benar2 telah mampu menggunakan inteleknya untuk membuat sebuah pilihan bebas (free will). Juga sebagai awal pembelajaran bagi Adam (learning creation) bahwa setan itu menyesatkan.

Jadi, seperti yang diceritakan di quran sesungguhnya Allah sangat memberi ketentraman dan menenangkan Adam ketika Adam merasa tidak nyaman harus tinggal dibumi yg penuh setan dan penderitaan. Allah berjanji akan selalu ada dan memberikan petunjuk2Nya dan menekankan padanya bahwa dunia penting bagi manusia untuk pertumbuhan jiwa dan berproses.

So dalam hal pertumbuhan itu, Allah melengkapi manusia dengan   intelektual (satanik-anjelk), pilihan, dan penderitaan (kesulitan). Bisa dikatakan kemampuan manusia utk belajar  adalah human development. Sementara pilihan itu akan selalu muncul benar atau salah? Benarkah atau salahkah? Benarkan atau salahkan? Benerin atau salahin? 

Lalu muncul pertanyaan; kenapa gak buat manusia sudah terprogram saja serba baik serba bener? Anti salah? Tapi again, alih2 mempertanyakan itu, sebetulnya Allah sudah menyerahkan pilihan pada kita : use your intelek, kamu tinggal pilih aja ikuti petunjukKu or not? Mau percaya atau gak? Mau tumbuh atau gak?

Lalu penderitaan/kesulitan itu untuk apa? Jika ada banyak ajaran tentang bagaimana menghindari kesulitan atau penderitaan, Quran justru menekankan bahwa penderitaan/kesulitan tak terhindari didunia ini. Kita pasti menjalaninya, mengalaminya, Allah bahkan menjamin itu semua. Manusia harus berjuang ketika menderita dan kesulitan, harus jihad di jalan Allah ini. Hidup ini perjuangan memang dan pasti manusia dikondisikan untuk berjuang apapun skenario kesulitannya. Tapi Allah juga memberitakan : dan bergembiralah kamu yang sabar dalam kesulitan (ketika diuji).

Orang2 baik yang terdahulu diuji dengan sangat keras. Para rasul dan nabi, diuji dengan sangat keras luar biasa. Menderita dan selalu dalam tekanan semata mata sebagai proses pertumbuhan pemurnian jiwa. 

Allah sudah menyatakan secara jelas bahwa manusia akan diuji dengan ketakutan, kemiskinan atau kematian dan berulang ulang pula Allah menjanjikan berita gembira bagi mereka yg sabar selama diujiNya. Jadi manusia diuji untuk menumbuhkan jiwanya. Manusia akan belajar dari pengalaman untuk menumbuhkan jiwanya.

Dengan ujian oenderitaan dan kesulitan, diharapkan manusia mampu lebih empati pada manusia lain yang menderita dan dalam kesulitan. Begitulah roda berputar kadang dibawah kadang diatas…untuk bisa saling menyelami dan menumbuhkan empati yang tajam terasah pada sesama mahluk ciptaanNya.

Jika pertumbuhan manusia secara fisik terjadi didalam alam rahim, maka pertumbuhan spiritual manusia secara personal terjadi di dunia, dikehidupan ini. 

Allah bilang: Kami tak menciptakan kalian dengan tujuan main2 melainkan supaya manusia memiliki pengalaman tentang sebuah hubungan “cinta’ dengan Rabbnya hubungan personal antara dua sisi : Sang Pencipta dan mahluk ciptaanNya: hubungan tentang kasih sayang, pengampunan, generousity,pemeliharaan, cinta manusia pada Rabbnya dan Rabb pada manusia.

Ok then so why gak buat aja langsung manusia mencintai Tuhan? Just do it! Bisa kan? Kenapa harus susah2 menumbuhkan? Langsung aja buat mencintai, langsung aja masukin surga. Bisa! Tapi bisakah punya pengalaman menjalani hubungan cinta dengan Rabbnya? Punya kesan? Punya learning proses? Nope for sure.

Jadi…sesungguhnya good deed yg diinginkan oleh Sang Pencipta untuk dicapai oleh ciptaanNya apa? Menurut quran, mereka adalah: compassion, mercy, forgiving, justice, protective, defends, knowledge, generousity, truthful, peaceful, love. Sementara tentang Tuhan, quran menggambarkan sebagai yg tak tertandingi, tak terbandingkan, yg maha, yg The Most High! And we will not understand God. But wait, bukankah ditiap surah quran menggambarkan bagaimana Tuhan itu? Bukankah selalu disebut sebagai Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih, The Merciful, The Forgiving, The Most Justice, loh? Bukankah nama2 Allah itu adalah jenis2 kualitas being human yang harus kita kembangkan? Sama? Ya! Sama! But why sama? Karena untuk mendekati Allah, kita harus punya kesamaan denganNya. Menyamakan frekwensi denganNya seperti yang Dia kehendaki ketika menciptakan kita, seperti yang Dia kehendaki untuk tumbuh, seperti yang Dia kehendaki untuk kita kembangkan…demi untuk bisa mencapaiNya. We share with him what he gave us. Kualitas ketuhanan itu ada didalam diri kita. Kualitas itu bisa kita tumbuhkan dan kembangkan, bisa juga kita bunuh. Semua tentang pilihan.

Semakin kualitas itu tumbuh dan berkembang, semakin kita dekat kepadaNya, semakin kita mengenalNya dan semakin kita mencintaiNya.

Btw dengan tumbuhnya kualitas2 good deed tersebut kita otomatically akan terlindungi dari stressfulnya dunia, kejamnya dunia, jahatnya dunia, bahkan akan menjadi surga awal kita. Sebaliknya, jika kualitas itu kita bunuh (sin destroys) otomatically dunia ini akan laksana neraka, bahkan bisa lebih kejam dari neraka!

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, kualitas ketuhanan yang Tuhan berikan itu tumbuh saat kita melakukan perbuatan2 baik. Sebagai pusat kehidupan, kita harus melakukan perbuatan2 baik itu, karena kualitas2 baik pemberian Tuhan itu baru bisa tumbuh jika kita menjalaninya. Experience it!! Then it grows!

Contohnya begini: kita mencintai anjing kita dan anak kita. Note: manusia memiliki intelek. Karena cinta kita itulah kita memberikan dia kasih sayang, perawatan, perhatian, dll. Anjing akan mengembalikan bentuk kasih sayang kita padanya sebatas itu saja, namun anak kita akan mengembalikan bentuk kasih sayang kita padanya dalam bentuk melebihi anjing yg tanpa intelek itu. Anak mengembangkan kebaikan yg dia terima melalui proses belajar.

Lalu apa hubungan intelek, pilihan dan kesulitan? Dalam hal pengembangan kualitas manusia? Ketiganya itu berkontribusi penuh pada proses tumbuh kembang kualitas ketuhanan yg ditanamkan pada kita. Tanpa 3 perangkat itu kita tak akan bisa tumbuh…secara manusia diciptakan sebagai a learning creature. Kenapa tak diprogram saja sih? Maksudnya diprogram seperti komputer? Komputer bisa diprogram untuk selalu benar dan anti salah, tapi apakah komputer bisa berkembang sehingga menjadi penuh cinta kasih sayang? Bijak? Pemurah? Pemaaf? Jujur??  Tak bisa!.

Itulah istimewanya manusia… Jiwanya tumbuh dan berkembang , diharapkan mencapai kesempurnaannya supaya kelak memenuhi sarat untuk menjadi penghuni surgaNya.

Be careful with sin …. Dosa itu mengganggu pertumbuhan jiwa kita, so, sebisa mungkin hindari atau bersihkan diri berulang ulang supaya tak mengganggu proses tumbuh kembang kualitas ketuhanan yg ada dalam diri kita sebagai cara mencapaiNya, mendekatiNya, mengenalNya, mencintaiNya seperti halnya Dia telah mencintai kita….

Advertisements

Poligami

Saya bukan penentang keras soal poligami, biasa saja. Selama memenuhi syarat secara sunnah, ya silahkan saja. 

Masalahnya, salah satu syaratnya adalah suami harus bisa adil. Soal adil ini bahkan rasulullahpun angkat tangan sehingga menyarankan untuk lebih baik tidak berpoligami. Adil itu susah bangeettt! Bahkan yang sekelas Rasulullah saja mengakui hal itu.

Mengapa bisa begitu? 

Lah, keadilan itu harus istri2 yg menilai, bukannya suami. Adil menurut suami belum tentu adil menurut istri. Adil menurut istri no 1, belum tentu adil menurut istri no 2. Ribet kan? Nah yang meribetkan lagi, keadilan ini seringkali ditafsirkan lewat perasaan. Sementara perasaan wanita itu labil. Ga ada masalah aja bisa labil, apalagi ada masalah? Kena perubahan hormon bulanan aja perasaan bisa kacau balau? Nah perasaan jenis rumit tiada tara gitu apa bisa diandalkan bicara soal adil itu bagaimana??? Waahhh … Kebayang ribetnya. Gak heran Rasulullah menyarankan : kalau tak mampu, tak usah poligami.

Saya pribadi sebagai perempuan, merasa-rasa seperti ini: mungkin apabila keinginan2 saya (catat ya; keinginan, keinginan itu melebihi kebutuhan. Meluber, tumpah ruah) dipenuhi oleh suami sebagai sarat poligami, mungkin saya akan hidup tenang dan tak punya waktu untuk mikir soal keadilan. Adil gak adil, jikalau keinginan happy happy selalu dipenuhi, mungkin lupa mikir soal adil, malah cenderung : terserah kamu mau apa asal aku liburan ke eropa dua bulan atau belikan aku vila di danau toba jadi aku akan menghabiskan waktu disana, atau dll dll.

Tapi apakah suami mampu seterusnya memenuhi keinginan istri supaya teredam pikirannya dari masalah keadilan? Gak akan mampu, secara keinginan manusia itu unlimited. 

Tiap kali salah satu istri merasakan ketidakadilan, suami akan menanggungnya dan mempertanggungjawabkan perasaan istrinya itu dihadapan Allah. Berat? Ya berat sekali menjadi pelaku poligami. Kecuali dia mampu mendidik istrinya utk iklas dan selalu merasa suami sudah adil. Dan dimana mana yang namanya mendidik itu bukan perkara mudah. Sekelas Rasulullah saja ( yang “kurang adil segimana lagi” coba?) Merasa berat menjalankan poligami, apalagi sekelas manusia seperti kita???

Ini semua masih bicara tentang dua istri, bagaimana kalau 4? Kuatkah kaum lelaki mempertanggungjawabkan istri2nya dihadapan Allah???? 

Fyiuuuh!!! Dont try it man! It is not an easy task!

Wanitamu

TIDAK ADA WANITA YANG SEMPURNA

Nggak ada tebu yang kedua kepalanya manis.

– Kalau kamu memilih bersama wanita yang bekerja, kamu perlu menerima dia tidak bisa di rumah membersihkan rumah. 

– Kalau kamu memilih bersama ibu rumah tangga yang menjaga dan merawat rumah, kamu perlu menerima kalo dia tidak menghasilkan uang. 

– Kalau kamu memilih bersama wanita penurut, kamu harus menerima kalo dia bergantung padamu dan tidak mandiri. 

– Kalau kamu memilih bersama wanita pemberani kamu harus menerima kalo dia keras kepala dan punya pemikiran sendiri. 

– Kalau kamu memilih bersama wanita cantik, kamu harus menerima kalau pengeluarannya juga banyak. 

– Kalau kamu memilih bersama wanita hebat, kamu juga harus menerima kalau dia itu keras dan tak terkalahkan. 

Gak ada wanita yang sempurna, itu hanya ada dalam mimpimu saja.
Jangan sering mengeluh kalo istrimu suka menghamburkan uang, atau mengeluh kalau istri orang lain pandai mengirit uang. Apa memelihara angsa dan bebek itu modalnya sama? 

Lelaki jaman sekarang itu, semuanya berharap wanita lemah lembut, perhatian dan cantik, punya badan bagus, mandiri dan bisa mencari uang, selain itu juga menjaga rumah tangga, hormat pada orang tua, baik hati pada anggota keluargamu. 
Tapi coba, kutanyakan, kalo keinginanmu sebegitu banyak, apa kelebihanmu? Apa kamu tinggi dan tampan? Atau kamu punya tabungan tak terbatas jumlahnya? Atau kamu juga orang yang lemah lembut, perhatian, setia dan menyayangi istri? 

Kalo kamu tidak punya semua itu, jangan menuntut orang lain sempurna!

#CoPas

Curhat tak selalu perlu solusi

Somehow, wanita kalau curhat, gak butuh solusi! Kebanyakan, wanita curhat itu cuma butuh didengarkan. So instead of yang denger sibuk ikut mikirin jalan keluar, menunjukkan simpati adalah jalan terbaik untuk jadi pendengar asik. 

Jikalau wanita curhat, bukan berarti dia gak tau harus berbuat apa, dia tau!!! Tau banget!!! Bahkan lebih tau dari yang cuma jadi pendengar. So… Be a nice listener aja bukan problem solver. Daripada ikutan histeris nyariin way out (padahal gak diminta nyariin way out at all) mending suguhin kopi apa kripik kek. Perhatiin deeh… You’ll be surprise suguhan itu kadang malah jadi way out. In a blink of eyes topic curhat bisa berubah jadi ngomongin resep atau intensitas curhat mengalami penurunan drastis karena yg curhat lebih fokus menikmati kopi. Mendadak lupa kalau lagi curhat!!! Yess some women do that, termasuk saya.

So, jangan coba2 menyuguhkan jalan keluar jika TIDAK DIMINTA. Just try to be a good, cool, listener, jadilah pendengar yg baik!!! Tepuk2 bahu, usap2 tangan, a lil hug… Itu udah a big big big way out! 

Itu sebabnya mengapa banyak cewek lebih suka curhat ke sesama cewek, karena biasanya yang muncul bukan kesimpulan lalu determin way out namun simpati, empati, support, komen, courage, you name it lah. Coba curhatnya ke cowok? Kebanyakan mereka akan bilang : oke now you do A,B,C,D bla bla bla…end of problem!!!. Hellow?? Do we ask solution in the first place??? Anyhow solution yang muncul kadang bertentangan dengan perasaan yang lagi curhat sehingga alih2 suasana jadi ngademin hati eehhh malah berantem karena beda solusi. I’ve told you!! Curhat gak minta solusi! No!! Kalau minta solusi, wanita akan bilang : tolong bantu aku cari solusi! Nah! Baruu bantuin deh tu! Tapi, a big but, jika mereka tidak ask that, so jangan coba2 kasih solusi sebab, they ALREADY HAVE IT for sure! Mereka yang paling tau arena perangnya seperti apa, paling menguasai lapangan, dan paling detil menguasai masalahnya. Pendengar tak tau apa apa, zero! Pendengar cuma tau hal yang dicurhati yang mana itupun hasil seleksi. Tak semua jadi bahan curhat, ya suka suka si pencurhat aja. Orang lagi buang sampah kok, jadilah keranjang sampah yang baik bukannya sampahnya dilempar balik ke yang buang. 

Sebab risau itu bagi sebagian wanita bisa hilang dengan diceritakan, itu semacam cara membuang beban. So, dengan dia menceritakan pada orang yang dia trust aja itu sudah sebagian besar dari way out untuk melapangkan jiwa dari kotoran2 yang mengganggu, apalagi pendengarnya type mario teguh, eeaaaaaa, plus sambil ditraktir makan pulak eeaaaaaa. 

Ya gitulah. 

Faith

Saya suka mengernyitkan dahi tiap kali ada postingan kawan yang ntah atheis ntah agnostik. Somehow saya ingin sekali menyela pemikirannya yg buat saya sangat ngawur. But, saya rasa diapun pikir, pikiran saya ngawur. Jadi percuma kalau diajak debat. 

Tapi bukankah kita harus menyampaikan walapun hanya satu ayat? Then leave it to Gods hands? Masalahnya saya merasa urusan faith ini agak berat jika dibanding keyakinan politik. Faith pada yang Ghaib itu jauh lebih butuh ilmu dan kata2 yg pas utk menjelaskan sebuah ayat. Nah ini yg kadang2 tak mampir ke otak saya.

Banyak kawan2 yang muslim yang goyah karena kekecewaan atau marah pada sikap sebagian muslim. Saya sendiri tak mengerti mengapa mereka bisa menjadi goyah hanya karena kecewa lalu kesal pada keyakinannya sendiri. Apakah ungkapan bahwa memegang keimanan akan seperti memegang bara api pada akhir jaman, telah menunjukkan taringnya? Entahlah. Kebanyakan mereka lalu mengarah pada agnostik : humanism dan menyingkirkan semua aturan religy. “Look, I dont care about rule! Or law! Or whatever in this religion. I just wanna be to be nice and kind and that is it!” Begitu kata kawan saya yg muslim. 

Saya hanya ngedumel ” Oh well, I am not God. HE is The Judge not me” karena meyakinkan teman saya bahwa beragama tanpa mengikuti aturannya itu sama dengan nyetir mobil tp gak ikut aturan. So…resiko untuk kecelakaan tuh gede. Tapi ya gimana lagi? 

Dikepalanya, aturan2 itu menyebalkan. Ini muncul karena aturan2 itu direpresentasikan secara berlebihan oleh kelompok muslim yg lebay2 itu. Aturan islam tak selebay dan se ekstrim itu tp juga memang tak sesederhana seperti para agnostik atau atheis. Islam, dalam hal apapun selalu letaknya di tengah2: tak ribet tak sederhanan banget… In between lah.

Kadang saya memang terbawa dengan pendapat2 sesat yang membuat kita mempertanyakan keyakinan purba kita. But alhamdulillah saya kembali kepadaNya atas lindunganNya. So… Sejauh ini saya masih setia pada kecintaan pada Sang Khalik….

Mimpi Dunia Hanya Permainan

Tadi malam mimpi seperti sedang di dufan ntah dufan yg mana. Untuk pergi ke tempat A, harus melewati rintangan. Ketika berhasil, untuk melanjut lagi, harus melewati rintangan yg lain lagi. Begitu terus menerus sampai ke tujuan akhir. 

Ceritanya saya sedang berada disebuah rintangan jenis A. Beberapa kawan nampak mudah melewatinya, sementara saya begitu kesulitan. Ada orang2 yang memberi nasehat gini gitu dan saya coba lakukan, tapi gagal. Saya coba cara macam2, tapi gagal. Muter sana sini, masih gagal. Adapun cara orang melewati rintangan itu beragam, dan mereka ada yg langsung lolos, ada yg serupa saya, terus mengulang. Akhirnya saya berhasil. Istirahat sejenak, lalu saya harus ke tujuan B dan melewati rintangan baru. 

Saya harus melewati semacam rawa yang dihuni hewan aneh bertaring semacam babi hutan, yg akan mengejar dan menggigit jika terusik. Saya harus super hati2 melewati rintangan satu ini…sabar…senyap…tanpa bunyi apapun …mengendap…. Kali ini saya merasa mudah melewatinya meskipun jauuuuh lebih tegang daripada rintangan sebelumnya. 

Selanjutnya saya harus ke tujuan C dan rintangannya lain lagi. Suasananya berubah, setting simulasi gamenya berubah. Kali ini saya harus memeras otak untuk memecahkan teka teki, mengeluarkan segala ilmu atau mencari ilmu. Begitulah rintangan demi rintangan menghadang dan membekali kita dengan ketrampilan. 

Masih hidup pemikiran saya ketika mimpi bahwa, yow…begitulah hidup. Jika Allah menghendakimu menuju ke B, lalu kau meninggalkan arena, itu akan membuatNya kesal, very upset. Since Allah in charge, sejauh manapun kita melarikan diri dari rintangan karena menolak sampai ke tujuan tertentu, selama Dia masih menyayangimu, Dia akan tetap menyeretmu sesuai kehendak rahmatNya. Dia mencintai hamba yang berusaha, jatuh bangun melewati rintangan “skill soul’ yg Dia persiapkan sebagai penempaan. 

Sama seperti perpeloncoan, di dufan kehidupan itu ada hal hal yg harus kita cari sebagai bekal. Hal hal sebagai tools untuk menghadapi rintangan2 selanjutnya. 

Begitu terus menerus sampai selesai semua tujuan dan tugas dan permainan yang menjadi jatah kita…maka sempurnalah sudah dan wafat.

Coretan Hati

Saya pernah bermimpi melihat tangan Tuhan yg besar sedang memindah-mindah manusia atau mengangkatnya ke langit, seperti pemain catur sedang asik memindah biduk2 caturnya. Tapi saya bersembunyi. Saya takut dipindah atau diangkat ke langit. Saya tau Tuhan melihat saya, dan saya ketakutan. Tapi Tuhan tak lakukan apapun pada saya.

Jadilah saya berpikir: apa susahnya Dia membuka satu pintu untuk saya dagang sukses misalnya, entah pintu baking, ntah cooking, ntah crafting, karena saya berusaha disemua itu. Tapi saya merasa Dia tak hendak. Saya seperti kecoak dalam satu kardus yang semua bolongan “kesempatannya” ditutup. Lalu Dia menunggu reaksi saya untuk banyak tujuan yang walahuallam.

Apa susahnya tangan besar itu membuka satu pintu untuk si kecoak? Sama sekali tak susah. Tapi Dia tak lakukan. Ada beberapa pintu yang Dia buka namun bukan pintu yang dikehendaki kecoak. 

Kadang saya bertanya: apa susahnya? Masih kurang apakah saya? Kurang berdarah-darah? Kurang berat amalannya? Kurang apa? Saya merasa sedang dipanaskan supaya lebur memurni, tapi sampai kapan? 

Kalau berimbal surga saya iklas… Tapi nampaknya tak semudah ini. Namun semudah inipun saya merasa tak kuasa. Mengapa begitu berat bagi saya? Padahal begitu mudah bagi Dia untuk memudahkan? 

Saya menggaruk rambut tak gatal. Bersenandung pilu tentang jalan berliku tanpa ujung….

Dera itu menderai

Anak lelaki saya akhirnya memutuskan untuk melepas jurusan Ilmu komputer sistem informasi UI (yang belakangan menjadi jurusan naik daun), dan melepas juga jurusan geologi UGM, simply karena itu semua pilihan keduanya yang ternyata tak benar2 dia sukai. “Saya suka ilmu2 science murni yang tak ada bau bau ips-nya, saya cantumkan sebagai pilihan kedua karena iseng aja” begitu alasannya. 

Pilihan pertamanya itu ITB stei dan Fisika UGM (tidak tembus dua duanya)…plus Sekolah Tinggi Nuklir. Yang belakangan ini dia coret dari daftar karena konon kabarnya tingkat radiasinya tinggi dan tingkat keamanannya tak memenuhi standar internasional meskipun dia diterima disana sebagai calon mahasiswa.

So whats the problem? 

Sebagai orangtua yang banyak berharap pada anak lelaki pertamanya, tentu saja keputusannya melepas semua itu sangat menguji kesabaran. Sungguh sebagai ibu saya harus tabah menerima ujian sabar dari anak satu ini. 

Disinilah saya belajar menekan keegoisan saya sebagai orangtua dan belajar setengah mati untuk menerima kepahitan dan megap megap mencari hikmah atas semua yang terjadi. Berjuta kali saya meyakinkan diri bahwa sebagai manusia kita tak bisa mengira ngira tentang makna dibalik sebuah kejadian. Saya meyakinkan diri bahwa saya tak tahu apapun tentang maksud semua ini. 

Seolah olah seperti kufur nikmat, tapi walahuallam karena bisa saja ini ujian riya… Bisa saja ini ujian kesabaran… Bisa juga ini sebagai jawaban atas doa doa kami, no body knows…. Only Allah The Almighty. Begitu hebat Allah menguji beberapa orang sekaligus dalam satu kasus dengan efek yang berbeda-beda. Namun begitu sebagai seorang ibu, yang meskipun sangat kecewa dan mungkin jauh lebih kecewa dari keluarga yang lain, saya harus bersikap “membela” keputusan anak saya itu dengan segala ketenangan hati supaya menulari. Mencoba menghibur neneknya dan om nya dan tante2nya yang kecewa dengan keputusan anak itu.

Dilain pihak saya juga harus memaksa diri manjadi supporter untuk anak saya meskipun diri saya sendiri kesal luar biasa. Harapan dan kebanggaan saya terasa kandas begitu saja. Namun, pengalaman mengajarkan saya bahwa, memang bukan tempatnya berharap pada manusia karena manusia tempatnya khilaf dan dosa, manusia juga tak punya kekuatan apapun untuk mewujudkan harapannya sendiri apalagi harapan orang lain jikalau Tuhan tak menghendaki. Dan anak bukanlah milik kita, dia milik Allah. Kita hanya mengarahkan semampunya dan mendukung sebisanya, anaklah yang akan menjalani semua keputusannya, maka dukunglah dia supaya kuat menjalani keputusannya dan fokus pada keputusannya. Bukan malah dijatuhkan dan dihujat simply karena dia tak memenuhi harapan kita (bukan harapannya sendiri). Biarkan anak belajar memutuskan dan bertanggungjawab pada keputusannya sendiri. Bagaimanapun kelak kita akan mati dan meninggalkan mereka sendirian di dunia ini. Kapan lagi mereka belajar memutuskan? 

Maka sayapun berserah diri kepadaNya. Seperti pinta2 saya untuk selalu dikuatkan dan diberi iklas dalam menjalani takdirNya, maka doa saya itu alhamdulillah terkabul. Ada beberapa kali saya down sesaat, tapi itu saja. Allah membuat saya kembali berdiri tegak dan tersenyum. 

Orang harus menulari kebaikan untuk sekelilingnya. Dalam situasi senegatif apapun, seorang muslim harus bisa memberi aura positif. Menerangi sekelilingnya meskipun tubuhnya terbakar laksana lilin. 

Ilmu sabar itu menguatkan jiwa, ilmu syukur itu membahagiakan hati, dan ilmu tawakal itu memberi keyakinan kuat membaja, sehingga sekeras apapun terpaan ujian mendera kita, harusnya kita tak bergeser seinchipun; tidak untuk menjadi lemah, tidak untuk menjadi jahat, tidak juga untuk menjadi seorang penghujat. Seharusnya….

Maka anak sayapun memutuskan untuk mencoba lagi tahun depan dengan kegigihan belajar gas poll 2x lipat daripada tahun kemaren supaya target pilihan pertamanya jebol atau pilihan lain adalah : mencoba bekerja dengan ijasah SMA nya, siapa tahu ada keberuntungan dari jalan situ, dan pilihan ketiga adalah: belajar otodidak seperti om nya yang meskipun begitu bisa berkarir menjadi programer handal tangan kanan bossnya si sebuah perusahaan besar milik Rusia. Anak saya sangat mengidolakan omnya itu. 

Jadi..saya hanya berkata padanya: ibu mendukung apapun keputusan kamu dan mendoakan semoga keputusan kamu itu sudah sejalan dengan keinginanNya. Bagaimanapun ibu menghargai bagaimana kamu memutuskan untuk bermusyawarah dengan Allah (istikarah) dan dengan ibu. Itu saja sudah menjadi salah satu kunci sukses kamu. Semoga ini semua cuma sebagai warming up dan tahun depan adalah kemenangan yg sebenarnya… Aamiin

Iklas

Berharap pada manusia itu seperti membeli barang ilegal, tak ada garansi apapun. Seringnya kita lalu kecewa. Tapi berharap pada Allah, bahkan kekecewaanpun ada garansinya. Sekuat itu faith menempatkan kita dalam posisi ” dalam ketenangan” apapun yang terjadi. Karena dalam hiruk pikuk dan carut marut kehidupan dunia, kita sungguh membutuhkan ketenangan semacam itu.

Pada satu titik, saya tak lagi berhasrat meminta apapun yang ternyata tak penting kepadaNya. Rasanya memang kita bisa minta apa saja, tapi bukankah Allah yg menentukan apa yang diberi, apa yg dikabulkan? Lalu untuk apa meminta buih dilautan jikalau Allah selalu menghendaki memberi ikan?

Sayapun bermanuver dalam munajat doa. Buat saya, doa ini adalah yang terdasar dalam hal menghadapi kehidupan.. MemintaNya supaya kita diberi iklas dan lapang dada ketika menjalani takdirNya, memintaNya memberikan kekuatan dan kesabaran ketika menjalani keputusanNya, memintaNya selalu melindungi kita dari kesalahan mengambil keputusan selama menjalani takdirNya, menunjukkan arah yang benar, menuntun, mengistikhomahkan, menjaga, merawat, dan menyehatkan kita selama kita bertugas menjalani takdirnya dan banyak lagi jenis doa meminta “pembekalan” terhadapNya. The basic pray that we should ask HIM instead of wealth, money, etc yang mana sifatnya hanya sebagai alat uji semata yang tanpa kita mintapun, kita sudah dijatah!

Kita sudah dalam simulasiNya, kita sudah dalam skenarioNya, so the best duas we can ask, in my opinion, adalah the basic duas yang sifatnya sebagai pembekalan diri selama berjalan di jalan takdir kita. Once kita tak dibekali perbekalan semacam itu, maka habislah kita digerus perasaan stress, benci, putus asa, jealousy, kecewa, lemah, dll you name it….

Langkah

STAY PATIENT AND TRUST YOUR JOURNEY