Latest Entries »

Bapak, let it rain…

My hero, my bapak sungguh tak berdaya menghalang usia senja yang mulai mematikan lampu kehidupan di rumahnya satu per satu. Ia tak bisa melawan kehendakNya. Jam pasir mulai menipis, waktu mungkin hampir habis.

My hero, my bapak masih bisa bercanda dan tertawa, meski lidahnya kelu dan kerongkongannya telah menolak makanan. Laparnya ia tahan dengan sabar sambil sesekali menenangkan kami : “bapak nggak sakit… Percayalah”

My hero, my bapak mungkin sudah lupa kata kata menghiburnya yang sering dia bisikkan lewat telepon pada anak perempuannya : “selama kamu masih enak makan, dan masih enak tidur, apapun masalahmu, tetaplah bersyukur karena dua hal itu adalah nikmat duniawi tertinggi yang diberikan kepadamu”. Kata2 bermakna super dalam itu harusnya mampu menutup semua masalah yang tiba2 memang menjadi tak berarti jika masih enak makan dengan apapun dan enak tidur dimanapun…

My hero, my bapak semoga kita bisa , masih bisa, bicara 4 mata seperti biasa.. berbisik tentang rahasia dan menertawakan kebodohan, lantang tentang prinsip hidup dan meremehkan masalah atas nama Allah. Lalu saling mengacungkan jempol tanda sesuatu yg besar telah disepakati untuk kepentingan yang besar, tentang iman, hidup dan cinta.

I hope I’m seeing you sooner hero… Sooner….

Advertisements

Orangtua

Dengerin orangtua sakit itu ada yg nyesek2 gak jelas. Sebagai anak yang puluhan tahun bareng mereka, tentu saja kita ngarepnya mereka mati bareng kita aja. Jadi ga ada yg dulu duluan. Karena buat aku pribadi, pisah dari orangtua itu seperti langit runtuh. Apalagi pisah alam… Kiamat kecil mungkin bagi hati dan jiwa.

Why? Karena mereka orang yang paling tulus mencintai kita. Kamu gak bakalan tau rasanya cinta serupa itu kalau kamu belum jadi orangtua. Orang yang memiliki darah dagingnya sendiri dan mencintainya sampai berdarah darah juga.. Cinta super besar yang tak bisa kamu lihat dengan mata.

Aku sendiri baru ngerti pengorbanan sebesar apa menjadi orangtua itu setelah jadi orangtua. Oh.. gini ya rasanya anak sakit, anak telat pulang tanpa kabar, anak sedih, anak diganggu orang, anak minta sesuatu gak bisa ngabulin, anak jatuh, anak membahayakan diri sendiri, dll dll.

Baru setelah jadi orangtua juga tau rasanya yang namanya diberi amanah itu seberat apa. Harus ikut mikirin masa depan anak dll dll. Berat kalau dilihat dari sisi pengorbanan…

Tapi meskipun mereka ke kita sayang tanpa pamrih apapun, kita suka lupa mereka lebih layak kita sayang daripada sayang mereka ke kita.

Aku sih ga ingin mereka pergi. Aku mau mereka selalu ada seperti biasa untuk jadi back up aku. Tempat aku pulang dan curhat. Biarpun aku tua.. aku tetap anak untuk mereka, dan mereka tetap orangtuaku yang peluk aku seperti ketika kecil dulu, perlakukan aku seperti aku kecil dulu. Hal hal semacam itu yang bikin aku merasa manusia.. bahwa aku pernah menjadi anak yg tak tau apa apa, tak berdaya, dan orangtua adalah malaikat penjagaku.

I dont know siapa yg akan pergi duluan, mereka? Atau aku? Yang jelas, yang ditinggalkanlah yang paling lara.. dan rasanya aku gak ingin sebagai yg ditinggal. Biar aku saja yg pergi… Aku saja…

Rumah

Ntah mengapa ketika saat ke Kabah tiba, aku merasa seperti menuju ke satu tempat yang menenangkan ; seperti rumah.

Aku pikir juga aku akan sephobia biasanya ketika bicara soal pesawat. Ternyata tidak. Langkahku ringan menaiki qatar, rasa takut sebesar zarahpun tak ada. Kupikir kalau aku harus mati bersama pesawat ini, aku malah akan bahagia karena ini sebuah perjalanan pulang yang dirindukan. Sekuat itu ternyata cinta pada “rumah”. Berani menitipkan nyawa untuk selamanya bahkan tak perduli pada cinta cinta lain yang menungguku kembali. Tak terpikir! Cinta akan rumah, jauh lebih besar. Unbelievable!

Begitulah rumah bahkan membuatku cengeng ketika masih dari kejauhan aku melihat tanahnya. Rumah yang ngangeni ini mengapa bisa sedasyat itu efeknya?, aku juga gak ngerti! Rasanya ada ikatan batin yang sangat kuat yang berupa magnet, menarik lekat seluruh rasa, darah, sumsum, saraf, tulang dan daging, ruh, nafas, hati, jiwa….

Di rumah ada banyak cerita yang sedih tentang cinta dan pengorbanan yang berakhir bahagia, mungkin itu sebab rumah menjadi kesayangan jiwa. Cinta tumbuh dari sana. Rumah yang bersaksi akan perjuangan cinta yang mendera jiwa , akhirnya bisa nyata aku sentuh dengan raga dan jiwa..dan hati.

Aku tak bisa lama di rumah. Aku harus keluar kembali membenahi hidup. Tapi cinta yang dia ajarkan , aku bawa selalu dalam tugas tugasku searah tujuan penciptaanku. Itu sebab aku selalu ingat pulang… Pulang ke rumah.

Selama apapun di rumah, selalu terasa tak cukup. Ada kedekatan batin yang tak mau dipisahkan, begitu dekatnya sampai selalu mampu melelehkan jiwa tiap kali ingat harus pergi meninggalkannya…

Rumah telah jauh kembali…

Aku tinggalkan setelah puas menyentuhnya. Ada cinta yg sangat besar disana yang tak bisa aku lukiskan dengan kata kata melainkan air mata bahagia dan air mata keharuan. Cinta yang sangat besar..

Letih itu baru terasa hanya ketika aku menjauhi rumah…

Aku akan pulang kembali ke rumah… Mendekati lagi saksi cinta yang agung dan membiarkan kekuatannya menyinari sampai relung gelap hati dan bersemayam disana.

Aku rindu rumah..

Manusia tanpa daya

Kecelakaan JT610 yang menewaskan 188 manusia menjadi serpihan-serpihan tak berarti harusnya menyadarkan manusia bahwa tak ada yang mampu melawan kuasaNya.

Apapun proteksimu terhadap keselamatan dirimu sendiri tak akan mampu menahan keputusanNya, kita sungguh tak punya daya.

Manusia memang kebanyakan hanya bisa mengingat kusyuk kuasa Tuhannya pada titik nadir ketidakberdayaannya, contohnya di kecepatan 680km/jam, menukik tajam dari ketinggian 2500an kaki. Jangankan posisi menjemput kematian semacam itu, posisi duduk aman di ketinggian yang mematikan saja bisa menggentarkan hatimu pada intipan maut setiap detiknya yang disadari benar tak akan bisa kau lawan jika harus kejadian.

Sesungguhnya tak selalu harus menunggu kondisi itu untuk ingat betapa tak berdayanya kita sehingga kita malu sesumbar tentang kelebihan diri dan kemampuan. Tapi manusia memang kadang baru nyadar jika diberi “shock therapy”

Pilot itu toh berjam-terbang tinggi, juga co pilotnya, penumpangnya pun orang-orang spesial, berikut para kru nya, namun mereka sungguh tiada daya meski usaha bila Tuhan telah menggerakkan kuasaNya untuk mengeksekusi nyawa ciptaanNya.

Buat saya, tak ada yg saya lihat dari kejadian ini selain bukti kekuasaanNya yg tanpa batas. KekuatanNya menghancurkan menjadi serpihan tanpa arti, ketegaanNya mengambil kembali apa yang Ia berikan bahkan kesadisan caraNya merengut semua itu dengan begitu cepat dan terorganisir. Manusia mana yang mampu menyaingi keMaha anNya itu? Pun kesadisanNya? KetegaanNya? Kamu, saya, kita, tak ada apa apanya…

Namun kita tak pernah tau ada apa dibalik itu, bisa saja mereka yang mati adalah orang-orang pilihanNya untuk masuk surgaNya karena telah menjadi “tumbal” ujian bagi yg masih hidup dan contoh pelajaran tentang kuasa bagi yg mau belajar mengambil hikmah dari tiap musibah. Walahuallam

Yang pasti adalah… jika Dia berkehendak, maka tak ada satu teoripun yg mampu melawan kehendakNya. Tak akan ada…

What makes me

What makes me sad is when I dont like depending on other person but I should depend on other person

When I hate money but I need money

When I love it but I dont get it

When I want to help but I am helped

When I dont like to be a burden but I am the burden

When I have to smile but dont want to

When I wanna go but I cant

When what I dont like become what I must like

When whatever I adore is whatever I must not

Not about circumtenses somehow, but the feeling inside head and heart doesnt have the same sound.

Not about YOUR simulator that I condem, but the ego that I have to control.. so wild yet so disturbing.

Geezz… And you know? What makes me happy is usually wrong!

Why?

Mengapa kau bohong ? Untuk apa? Aku jadi meragukan semua ceritamu dan penderitaanmu. Ada apa denganmu?! Dan kenapa harus berbohong padaku? Kenapa aku? Apa pentingku atas semua tipu tipumu? Why?

Aku tak tau kenapa hari ini tiba2 aku melihat lihat wall fb mu lalu tertarik meneliti profile cowok yang katamu menggilaimu. Namun aku menemukan kejanggalan dan bahkan fakta bahwa cowok itu fake profile. Sosoknya cuma menjadi bagian dari kebohonganmu. Aku tak habis pikir mengapa kau membohongiku. Jadi laki2 yg sering kuajak bicara tentang kau itu adalah kau sendiri!!

Tapi untuk apa kau begitu? Apa kau gila? Kau stress? Tapi kau S2, dosen teknik universitas terkenal pula. Ada apa denganmu?

Terus terang, meskipun kau tak ada lagi di dunia ini, kau telah pergi mendului setelah koma seharian akibat pecah pembuluh darah otak, aku sedih kau bohongi.

Aku berharap kau datang di mimpiku seperti saat tak lama kau meninggal dan di mimpi itu kau bilang padaku kau baik baik saja. Aku ingin kau datang lagi dan jelaskan singkat saja alasanmu, why???

Aku penasaran… Sungguh.

Hidup

Kau pikir hidup itu harus selalu baik baik saja? Bukankah dunia ini diciptakan penuh penderitaan untuk menguji daya tahanmu?

Kau boleh berhenti membuang tangis dan memaki dirimu, orang atau bahkan Tuhan. Tapi lalu berdirilah setelah semua bebanmu kosong, hadapi lagi deritamu. Sesungguhnya masih banyak suguhan enak ketika kau menjalani hidup ini. Setidaknya snack mu, makan mu masih lebih nikmat daripada yang di palestina sana. Betul? Tuhan hanya bisa mentertawakanmu kalau kau merasa deritamu paling ekstrim sedunia.

Masalah datang harusnya untuk melatihmu menjadi lebih kuat dan lebih trampil karena selanjutnya akan ada masalah yang lebih berat lagi. Masalah harusnya tidak melemahkan tetapi memaksamu “hidup” berpikir menjadi manusia yang lebih lagi… Lebih disegala gala sudut. Karena kemampuanmu memang untuk sejauh itu.

Kau diciptakan seperti sepeda dengan 12 gear, sayangnya tanpa tantangan yang harus dipaksakan padamu, kau tak tau kau punya 12 gear. Kau hanya berkutat di gear 1 sampai 7. Masalah memaksamu menaikkam gearmu sampai 12. Karena kelak kau akan melaju dengan kecepatan itu di hidup yg akan datang. Kalau tak disini kau ditraining dimana lagi? Di alam kubur?

Hidup memang diciptakan seperti itu, sekeras dan semengesalkan itu, namun tak ada yang bisa membuatmu bertahan menghadapi memang kalau kau sendiri tak berniat mencari jalan untuk menjadi kuat dan berani …

Luka yang sial

Kau bilang kau sudah lupakan semua. Memilih jalan sepi sendiri lalu mengobati hati. Tapi tawamu sumbang ketika bicara soal cinta. Ada kepalsuan yang kau paksakan. Seolah kau ingin menjejalkan mantra yang hatimu tak bisa ucapkan. Bahkan kau coba menghipnotis dirimu sendiri supaya bisa menjadi lupa. Lalu pura pura lupa, lalu pura pura bahagia. Menyedihkan.

Sebetulnya kau ketakutan menjadi sakit dari kenangan2 manis yang kau piara untuk menyiksamu. Sayangnya memorimu itu menjadi candu bahagiamu.

Begitulah kalau kau berdiri digaris abu-abu. Antara tekad sembuh dan keinginan terus luka tak ada batas jelas. Dilain pihak kau enggan beranjak, di lain pihak kau pura pura telah beranjak.

Waktu berlalu, tapi kau tak pergi kemana mana. Kau diam dengan lukamu, mencoba menghibur diri merasa lupa. Tapi kau tak pernah lupa, kau masih luka.

Sungguh kasihannya. Dunia ini tak begitu lama , kau tau? Dan waktu terus mendetik mengurangi masamu. Kau dan lukamu itu, apakah akan kau bawa mati? Lalu mengabaikan keindahan disekitarmu? Bodohnya kau…

Cinta memang membekukan otak dan mematikan nalar. Kekuatannya membangun dan merusak perasaan sama besar. Tapi manusia punya kekuatan untuk mengendalikan cinta biar kau tau.

Kau memilih hancur maka kau akan hancur..

Kau memilih bersemi maka kau akan bersemi.. memetik bunga dan tersenyum kembali.

Sayang kau menghancurkan diri..

Me not you, you not me

Ada apa dengan kau?

Kalau aku bercerita tentang rintanganku, aku tak ingin kau menilaiku lalu instead of mencoba mengerti, kau malah bersikap seolah olah kaulah yang paling tau apa yg aku hadapi, siapa aku, jalanku, dan bagaimana aku harus, dan putusan apa yg aku mustinya ambil. Hey.. kau pikir kau dewa? Kecuali Tuhan, bahkan wakilNya pun tak berhak lakukan itu padaku.

Kau baru saja membuktikan bahwa tak semua orang pandai menyampaikan empati atau nasehat. Alih2 aku merasa tenang, aku menjadi pesakitan dari sikap sok taumu itu yg sungguh memuakkan! Yg membuatku tetap berkepala dingin adalah , aku tau maksudmu baik. Aku cuma tak suka gaya sok taumu. Cuma karena aku membenarkan beberapa hipotesamu, tak berarti kau menguasai pengetahuan tentang aku dan jalanku lalu mencoba menyetirku.

Dan yang paling mengasikkan ketika kau mencoba memojokkan pemikiranku adalah, fakta2 bahwa yang kau kira aku alami ternyata tidak aku alami. Yang kau pikir aku rasakan, tidak aku rasakan. Yang kau pikir terjadi, tidak terjadi. Kedua, adalah kau tak selesai menilaiku. Kau hanya melihatku dari sisi keluku.. kau lupa bahwa aku adalah wanita paling happy dari deretan kawan kawan wanitamu. Kau lupa mengapa aku bisa tertawa dikala kepala ruwet? Karena aku berhasil menaklukan waswasa setan dari arah masa depan..yg mana kau sendiri memelihara kata “kalau” (bagiku, “kalau/if” adalah waswasa setan dari arah past ataupun future) dalam kepalamu ketika meneropong hidupku. Gal, aku tak mau memakai kata “kalau”.. itu kata kata sumber stress yg utama. Jangan kau lempar padaku kalau tak mau aku “menghabisimu” seperti tadi. Aku bilang padamu bahwa ” jangan ber’kalau-kalau’ supaya kepalamu tak penuh prasangka buruk. “Kalau’ bisa mengundang berbagai kumungkinan buruk yang siap menyiksamu siang malam. Kalau juga akan membuatmu lupa bahwa hari ini ada yg lebih penting untuk disyukuri daripada menghayallkan kalau yg malah membuatmu memaki Tuhan. Yg pasti hari ini aku masih bisa membuat puding roti enak di dapur, di situasi yg ku keluhkan berkali kali. Puding roti lezat yg kubuat dgn dua tangan sempurnaku, mataku, otakku, kakiku, ovenku, uangku dll yg jelas tak bisa terlihat penting saat kau bicara ‘kalau’.

Aku mungkin sudah menghadapi badai2 pemikiran yang memorakporandakan isi kepalaku, jadi seranganmu itu cuma semacam gerimis untukku. Aku bukan orang bodoh seperti yang kau pikir. Semua keputusan telah aku pikirkan dan mufakatkan, itu sebab aku sampai pada kesimpulan “istikarah”.

Kau tak perlu mengajakku menjadi agnostik atau atheis karena protesku pada Tuhan. Masalah hidup bukan tandingan untuk kehilangan keimanan. Aku lelah, bosan, bingung dan marah atas sikapNya, tapi aku tetap bersujud padaNya meminta ridhoNya untuk tetap menjagaku, menguatkan dan mengarahkan. Dan aku yakin Dia lebih Maha sabar daripada seorang ibu pada anak rewelnya.

Jangan coba menilaiku. Kau boleh bertanya dan aku menjawab. Kau boleh mengira dan aku membenarkan atau menyalahkan, tapi kau jangan coba2 menilai dan memastikan penilaianmu benar menurut dirimu sendiri, karena aku peka pada perlakuan semacam itu. Sedikit saja terasa, aku akan menaikkan perisai dan memerangimu sampai kau merasa bodoh sendiri.

Ingat saja… Tak semua orang pintar memberi nasehat atau menunjukkan empati. Kau harus terlebih dahulu menyingkirkan egomu dan itu susah. Saat kau merasa paling tau dan paling benar, maka aku akan merasa dihakimi dan tertuduh. Aku tak akan melihat itu sebagai nasehat tapi sebagai ajakan perang..dan kau tak akan mampu mendiamkan aku. Sampai kau tersungkur dan mengibarkan bendera putih ..