Latest Entries »

Faith

Saya suka mengernyitkan dahi tiap kali ada postingan kawan yang ntah atheis ntah agnostik. Somehow saya ingin sekali menyela pemikirannya yg buat saya sangat ngawur. But, saya rasa diapun pikir, pikiran saya ngawur. Jadi percuma kalau diajak debat. 

Tapi bukankah kita harus menyampaikan walapun hanya satu ayat? Then leave it to Gods hands? Masalahnya saya merasa urusan faith ini agak berat jika dibanding keyakinan politik. Faith pada yang Ghaib itu jauh lebih butuh ilmu dan kata2 yg pas utk menjelaskan sebuah ayat. Nah ini yg kadang2 tak mampir ke otak saya.

Banyak kawan2 yang muslim yang goyah karena kekecewaan atau marah pada sikap sebagian muslim. Saya sendiri tak mengerti mengapa mereka bisa menjadi goyah hanya karena kecewa lalu kesal pada keyakinannya sendiri. Apakah ungkapan bahwa memegang keimanan akan seperti memegang bara api pada akhir jaman, telah menunjukkan taringnya? Entahlah. Kebanyakan mereka lalu mengarah pada agnostik : humanism dan menyingkirkan semua aturan religy. “Look, I dont care about rule! Or law! Or whatever in this religion. I just wanna be to be nice and kind and that is it!” Begitu kata kawan saya yg muslim. 

Saya hanya ngedumel ” Oh well, I am not God. HE is The Judge not me” karena meyakinkan teman saya bahwa beragama tanpa mengikuti aturannya itu sama dengan nyetir mobil tp gak ikut aturan. So…resiko untuk kecelakaan tuh gede. Tapi ya gimana lagi? 

Dikepalanya, aturan2 itu menyebalkan. Ini muncul karena aturan2 itu direpresentasikan secara berlebihan oleh kelompok muslim yg lebay2 itu. Aturan islam tak selebay dan se ekstrim itu tp juga memang tak sesederhana seperti para agnostik atau atheis. Islam, dalam hal apapun selalu letaknya di tengah2: tak ribet tak sederhanan banget… In between lah.

Kadang saya memang terbawa dengan pendapat2 sesat yang membuat kita mempertanyakan keyakinan purba kita. But alhamdulillah saya kembali kepadaNya atas lindunganNya. So… Sejauh ini saya masih setia pada kecintaan pada Sang Khalik….

Mimpi Dunia Hanya Permainan

Tadi malam mimpi seperti sedang di dufan ntah dufan yg mana. Untuk pergi ke tempat A, harus melewati rintangan. Ketika berhasil, untuk melanjut lagi, harus melewati rintangan yg lain lagi. Begitu terus menerus sampai ke tujuan akhir. 

Ceritanya saya sedang berada disebuah rintangan jenis A. Beberapa kawan nampak mudah melewatinya, sementara saya begitu kesulitan. Ada orang2 yang memberi nasehat gini gitu dan saya coba lakukan, tapi gagal. Saya coba cara macam2, tapi gagal. Muter sana sini, masih gagal. Adapun cara orang melewati rintangan itu beragam, dan mereka ada yg langsung lolos, ada yg serupa saya, terus mengulang. Akhirnya saya berhasil. Istirahat sejenak, lalu saya harus ke tujuan B dan melewati rintangan baru. 

Saya harus melewati semacam rawa yang dihuni hewan aneh bertaring semacam babi hutan, yg akan mengejar dan menggigit jika terusik. Saya harus super hati2 melewati rintangan satu ini…sabar…senyap…tanpa bunyi apapun …mengendap…. Kali ini saya merasa mudah melewatinya meskipun jauuuuh lebih tegang daripada rintangan sebelumnya. 

Selanjutnya saya harus ke tujuan C dan rintangannya lain lagi. Suasananya berubah, setting simulasi gamenya berubah. Kali ini saya harus memeras otak untuk memecahkan teka teki, mengeluarkan segala ilmu atau mencari ilmu. Begitulah rintangan demi rintangan menghadang dan membekali kita dengan ketrampilan. 

Masih hidup pemikiran saya ketika mimpi bahwa, yow…begitulah hidup. Jika Allah menghendakimu menuju ke B, lalu kau meninggalkan arena, itu akan membuatNya kesal, very upset. Since Allah in charge, sejauh manapun kita melarikan diri dari rintangan karena menolak sampai ke tujuan tertentu, selama Dia masih menyayangimu, Dia akan tetap menyeretmu sesuai kehendak rahmatNya. Dia mencintai hamba yang berusaha, jatuh bangun melewati rintangan “skill soul’ yg Dia persiapkan sebagai penempaan. 

Sama seperti perpeloncoan, di dufan kehidupan itu ada hal hal yg harus kita cari sebagai bekal. Hal hal sebagai tools untuk menghadapi rintangan2 selanjutnya. 

Begitu terus menerus sampai selesai semua tujuan dan tugas dan permainan yang menjadi jatah kita…maka sempurnalah sudah dan wafat.

Coretan Hati

Saya pernah bermimpi melihat tangan Tuhan yg besar sedang memindah-mindah manusia atau mengangkatnya ke langit, seperti pemain catur sedang asik memindah biduk2 caturnya. Tapi saya bersembunyi. Saya takut dipindah atau diangkat ke langit. Saya tau Tuhan melihat saya, dan saya ketakutan. Tapi Tuhan tak lakukan apapun pada saya.

Jadilah saya berpikir: apa susahnya Dia membuka satu pintu untuk saya dagang sukses misalnya, entah pintu baking, ntah cooking, ntah crafting, karena saya berusaha disemua itu. Tapi saya merasa Dia tak hendak. Saya seperti kecoak dalam satu kardus yang semua bolongan “kesempatannya” ditutup. Lalu Dia menunggu reaksi saya untuk banyak tujuan yang walahuallam.

Apa susahnya tangan besar itu membuka satu pintu untuk si kecoak? Sama sekali tak susah. Tapi Dia tak lakukan. Ada beberapa pintu yang Dia buka namun bukan pintu yang dikehendaki kecoak. 

Kadang saya bertanya: apa susahnya? Masih kurang apakah saya? Kurang berdarah-darah? Kurang berat amalannya? Kurang apa? Saya merasa sedang dipanaskan supaya lebur memurni, tapi sampai kapan? 

Kalau berimbal surga saya iklas… Tapi nampaknya tak semudah ini. Namun semudah inipun saya merasa tak kuasa. Mengapa begitu berat bagi saya? Padahal begitu mudah bagi Dia untuk memudahkan? 

Saya menggaruk rambut tak gatal. Bersenandung pilu tentang jalan berliku tanpa ujung….

Dera itu menderai

Anak lelaki saya akhirnya memutuskan untuk melepas jurusan Ilmu komputer sistem informasi UI (yang belakangan menjadi jurusan naik daun), dan melepas juga jurusan geologi UGM, simply karena itu semua pilihan keduanya yang ternyata tak benar2 dia sukai. “Saya suka ilmu2 science murni yang tak ada bau bau ips-nya, saya cantumkan sebagai pilihan kedua karena iseng aja” begitu alasannya. 

Pilihan pertamanya itu ITB stei dan Fisika UGM (tidak tembus dua duanya)…plus Sekolah Tinggi Nuklir. Yang belakangan ini dia coret dari daftar karena konon kabarnya tingkat radiasinya tinggi dan tingkat keamanannya tak memenuhi standar internasional meskipun dia diterima disana sebagai calon mahasiswa.

So whats the problem? 

Sebagai orangtua yang banyak berharap pada anak lelaki pertamanya, tentu saja keputusannya melepas semua itu sangat menguji kesabaran. Sungguh sebagai ibu saya harus tabah menerima ujian sabar dari anak satu ini. 

Disinilah saya belajar menekan keegoisan saya sebagai orangtua dan belajar setengah mati untuk menerima kepahitan dan megap megap mencari hikmah atas semua yang terjadi. Berjuta kali saya meyakinkan diri bahwa sebagai manusia kita tak bisa mengira ngira tentang makna dibalik sebuah kejadian. Saya meyakinkan diri bahwa saya tak tahu apapun tentang maksud semua ini. 

Seolah olah seperti kufur nikmat, tapi walahuallam karena bisa saja ini ujian riya… Bisa saja ini ujian kesabaran… Bisa juga ini sebagai jawaban atas doa doa kami, no body knows…. Only Allah The Almighty. Begitu hebat Allah menguji beberapa orang sekaligus dalam satu kasus dengan efek yang berbeda-beda. Namun begitu sebagai seorang ibu, yang meskipun sangat kecewa dan mungkin jauh lebih kecewa dari keluarga yang lain, saya harus bersikap “membela” keputusan anak saya itu dengan segala ketenangan hati supaya menulari. Mencoba menghibur neneknya dan om nya dan tante2nya yang kecewa dengan keputusan anak itu.

Dilain pihak saya juga harus memaksa diri manjadi supporter untuk anak saya meskipun diri saya sendiri kesal luar biasa. Harapan dan kebanggaan saya terasa kandas begitu saja. Namun, pengalaman mengajarkan saya bahwa, memang bukan tempatnya berharap pada manusia karena manusia tempatnya khilaf dan dosa, manusia juga tak punya kekuatan apapun untuk mewujudkan harapannya sendiri apalagi harapan orang lain jikalau Tuhan tak menghendaki. Dan anak bukanlah milik kita, dia milik Allah. Kita hanya mengarahkan semampunya dan mendukung sebisanya, anaklah yang akan menjalani semua keputusannya, maka dukunglah dia supaya kuat menjalani keputusannya dan fokus pada keputusannya. Bukan malah dijatuhkan dan dihujat simply karena dia tak memenuhi harapan kita (bukan harapannya sendiri). Biarkan anak belajar memutuskan dan bertanggungjawab pada keputusannya sendiri. Bagaimanapun kelak kita akan mati dan meninggalkan mereka sendirian di dunia ini. Kapan lagi mereka belajar memutuskan? 

Maka sayapun berserah diri kepadaNya. Seperti pinta2 saya untuk selalu dikuatkan dan diberi iklas dalam menjalani takdirNya, maka doa saya itu alhamdulillah terkabul. Ada beberapa kali saya down sesaat, tapi itu saja. Allah membuat saya kembali berdiri tegak dan tersenyum. 

Orang harus menulari kebaikan untuk sekelilingnya. Dalam situasi senegatif apapun, seorang muslim harus bisa memberi aura positif. Menerangi sekelilingnya meskipun tubuhnya terbakar laksana lilin. 

Ilmu sabar itu menguatkan jiwa, ilmu syukur itu membahagiakan hati, dan ilmu tawakal itu memberi keyakinan kuat membaja, sehingga sekeras apapun terpaan ujian mendera kita, harusnya kita tak bergeser seinchipun; tidak untuk menjadi lemah, tidak untuk menjadi jahat, tidak juga untuk menjadi seorang penghujat. Seharusnya….

Maka anak sayapun memutuskan untuk mencoba lagi tahun depan dengan kegigihan belajar gas poll 2x lipat daripada tahun kemaren supaya target pilihan pertamanya jebol atau pilihan lain adalah : mencoba bekerja dengan ijasah SMA nya, siapa tahu ada keberuntungan dari jalan situ, dan pilihan ketiga adalah: belajar otodidak seperti om nya yang meskipun begitu bisa berkarir menjadi programer handal tangan kanan bossnya si sebuah perusahaan besar milik Rusia. Anak saya sangat mengidolakan omnya itu. 

Jadi..saya hanya berkata padanya: ibu mendukung apapun keputusan kamu dan mendoakan semoga keputusan kamu itu sudah sejalan dengan keinginanNya. Bagaimanapun ibu menghargai bagaimana kamu memutuskan untuk bermusyawarah dengan Allah (istikarah) dan dengan ibu. Itu saja sudah menjadi salah satu kunci sukses kamu. Semoga ini semua cuma sebagai warming up dan tahun depan adalah kemenangan yg sebenarnya… Aamiin

Iklas

Berharap pada manusia itu seperti membeli barang ilegal, tak ada garansi apapun. Seringnya kita lalu kecewa. Tapi berharap pada Allah, bahkan kekecewaanpun ada garansinya. Sekuat itu faith menempatkan kita dalam posisi ” dalam ketenangan” apapun yang terjadi. Karena dalam hiruk pikuk dan carut marut kehidupan dunia, kita sungguh membutuhkan ketenangan semacam itu.

Pada satu titik, saya tak lagi berhasrat meminta apapun yang ternyata tak penting kepadaNya. Rasanya memang kita bisa minta apa saja, tapi bukankah Allah yg menentukan apa yang diberi, apa yg dikabulkan? Lalu untuk apa meminta buih dilautan jikalau Allah selalu menghendaki memberi ikan?

Sayapun bermanuver dalam munajat doa. Buat saya, doa ini adalah yang terdasar dalam hal menghadapi kehidupan.. MemintaNya supaya kita diberi iklas dan lapang dada ketika menjalani takdirNya, memintaNya memberikan kekuatan dan kesabaran ketika menjalani keputusanNya, memintaNya selalu melindungi kita dari kesalahan mengambil keputusan selama menjalani takdirNya, menunjukkan arah yang benar, menuntun, mengistikhomahkan, menjaga, merawat, dan menyehatkan kita selama kita bertugas menjalani takdirnya dan banyak lagi jenis doa meminta “pembekalan” terhadapNya. The basic pray that we should ask HIM instead of wealth, money, etc yang mana sifatnya hanya sebagai alat uji semata yang tanpa kita mintapun, kita sudah dijatah!

Kita sudah dalam simulasiNya, kita sudah dalam skenarioNya, so the best duas we can ask, in my opinion, adalah the basic duas yang sifatnya sebagai pembekalan diri selama berjalan di jalan takdir kita. Once kita tak dibekali perbekalan semacam itu, maka habislah kita digerus perasaan stress, benci, putus asa, jealousy, kecewa, lemah, dll you name it….

Langkah

STAY PATIENT AND TRUST YOUR JOURNEY

What you hate

Allah bilang apa yang kamu benci belum tentu jelek bagimu dan apa yang kamu sukai belum tentu baik bagimu. Somehow, apa yang kita butuhkan memang bukan yang kita inginkan. Keinginan itu seringkali menyesatkan, sementara kebutuhan adalah pelindung. 

Kejadian yang paling sering terjadi adalah kita menyukai semua keinginan kita, kita bahkan memuja keinginan2 itu. Fokus kita selalu pada keinginan2 yang tanpa batas dan terus “ngelunjak”.  Sementara apa yang terjadi dengan kebutuhan kita? Jangan2 kita malah tak tahu menahu apa kebutuhan kita yang paling fatal dan vital. Saking gak tahunya, kita sering membenci sesuatu yang diberikan pada kita karena kita sebetulnya butuh sesuatu itu! Hanya karena sesuatu itu bukan keinginan kitalah maka kita benci! 

Ini berlaku tak hanya pada benda material tapi juga pada manusia. Orang disekeliling kita. Yes. Orang yang ada disekitar kita. Ada yang setengah mati tak kita sukai, ada yang kita sukai. Ada yang bak jamu, pait dan getir, ada pula yang laksana ice cream, manis, lembut dan adem. Tapi seringkali jamu itu berfungsi sebagai obat dan ice cream malah jadi sumber penyakit. Who knows best??? Kitakah? Nope. HE IS.

Seberapa lama dan seberapa perlunya kita di “therapi” kepahitan dan kegetiran itu tergantung seberapa butuhnya kita untuk “sembuh” sesuai munajad doa-doa kita untuk diampuni, diangkat derajat dan dimasukkan dalam surgaNya. Ini therapi yang jauh lebih penting sebetulnya daripada bergelimang bahagia karena keinginan2 yang terwujud namun tak menyembuhkan “penyakit” kita. Kebutuhan2 kita tak dipenuhi.

Sesungguhnya jika kita mau menengok kebelakang, kebencian kita terhadap sesuatu yang tak kita sukai, jikalau dihadapi secara benar, justru mengarahkan kita pada jalan lurus. Jalan “kesembuhan” dan “pemulihan” menuju DIA. Jalan “perontokan dosa” dan “pembersihan jiwa”. Begitu pahit dan getirnya ketidaksukaan kita itu sehingga mau tak mau kita memilih jalan pengampunan, jalan insaf atas kebodohan dan ketidakberdayaan kita. Kita harus dipaksa begitu karena kita manusia bebal yang tak mempan panggilan nasehat. Lalu mengapa risau? Bukankah kita membaik dalam pandangan rohani? Meski memburuk secara fisik?

Lagi lagi keinginan kitalah tentang “semoga badai cepat berlalu* tapi siapa yang tau seberapa parah kita butuh “jamu pait”? Kitakah? Nope. HE IS. Dialah yang tahu pasti seberapa lama “pengobatan” itu kita butuhkan. Seberapa tinggi level therapi yang kita butuhkan, supaya syarat2 “bersih jiwa” itu terpenuhi.

Bukan perkara enak memang ketika kita sedang dalam proses pembersihan atau pengobatan. Banyak yang bahkan gagal menelan pil pahit sehingga harus diulang lalu diulang lagi. Dimuntahkan saking pahitnya tapi harus kembali mencoba menelan. Semakin mengulur waktu, membuang kesempatan, akan semakin molor pula waktu therapinya. Lalu untuk apa berdoa “semoga badai cepat berlalu” jikalau menelan pil pahit saja harus terus gagal karena dihindari atau dimuntahkan kembali? 

Telanlah pil pahitmu dengan sabar…. Begitu kira2 artinya ayat ini 

Dan untuk ini Allah telah memberikan banyak contoh dalam sejarah perjalanan para nabi dan rasul yang diabadikan dalam quran. Bahwa mereka tak pernah lekang dari masalah. Hidup mereka adalah cerita yang penuh dengan masalah, masalah yang terus berpindah pindah saja, tak pernah benar benar hilang, hanya “berganti baju”. 

Kita tak pernah suka apa yang bukan keinginan kita. Tapi jika Allah sayang dan masih sayang kita, harusnya memang Allah tak akan peduli apa keinginan kita, melainkan peduli pada apa kebutuhan kita. Seperti seorang ibu yang merawat anaknya yang sakit… Seperti itulah Allah mengetahui apa yang kita perlukan. 

Harusnya kita memang bisa selalu bijak dan ingat tentang kepahitan yang membersihkan… Bukan kesenangan yang melalaikan. Tentang kebutuhan dirawat dan bukan keinginan membiarkan. Tentang peduliNya dan bukan pengabaianNya. Tentang sayangNya dan bukan hukumanNya. 

Ya Rabb…. Bodohnya kami….. 

Mati

Saya itu punya kebiasaan, kalau ada yang mati, saya tracking semua jejak yang ditinggalkan alm. Melihat semua rekaman mereka, semua kenangan yang mereka tinggalkan dan semua tentang alm. Bahkan jenazahnya saya pandangi lama-lama. 

Selama saya melakukan itu pikiran saya menerawang kemana-mana.

God, hidup ini benar cuma main main meskipun bertujuan bak “saringan”. Tapi sungguh cuma main-main. Manusia bisa di”angkat” begitu saja. Begitu saja semau-mau Tuhan. Katanya sih soal kematian sudah jadi deal antara manusia dan Tuhan sebelum dilahirkan, tapi lalu dibuat lupa. Karena kalau manusia tahu kapan akan mati, bisa2 dia tak mampu menikmati kehidupan.

Begitulah saya memperhatikan tingkah polah si bakal jenazah sampai menjadi jenazah. Menyambungkannya pada kehidupan saya sendiri yang masih saya genggam entah sampai kapan. Rasanya sudah bukan saatnya berlebih-lebihan tertawa lagi karena usia terus maju. Kita harusnya takut, karena bekal hidup abadi masih belum cukup. Sebuah perjalanan yang jauh lebih panjang dan tanpa bantuan siapapun kecuali amalan kita sendiri, sedang menunggu untuk dijalani. Kalau kita tak mati muda karena penyakit atau cilaka, kita pasti mati karena umur tua. Itu pasti.

Manusia harus selalu ingat mati, betapapun ingatan itu seperti pagar yang mencegah kita jatuh ke jurang yang dalam lalu mati sia sia.

Harta melimpah dan rumah megah bak istana Ratu Saba, benar2 ditinggal begitu saja, tak berarti tak bernilai kecuali harta yang dipakai di jalan Allah. Tak ada yang kita bawa dalam kubur berukuran 2 meteran itu. Tak ada kecuali kain kafan pembungkus daging yang bakal membusuk dimakan ulat. Kecantikan tak terbawa, keseksian tak terbawa, semua membusuk, bakal membusuk. Hak pakai itu telah usai…

Kalau benar rasa alam barzah itu seperti yang pernah saya mimpikan, maka jiwa kita selanjutnya hampa. Ingatan tersisa cuma 1%. Kita bahkan tak tahu apa yang sedang kita alami selain tau bahwa kita sudah mati dan rasa penyesalan tentang sedikitnya amalan ketika hidup begitu menggunung dan sudah terlambat. Kita tahu kita tak lagi bisa sholat, tak lagi bisa sadakah, tak lagi bisa berbuat baik apapun. Kita telah terkunci dengan bekal sedikit, kekuatiran pada ketentuan selanjutnya. Kita bener2 mengkuatirkan diri kita sendiri..bukan anak, istri, suami atau orang tua. Bukan!.

Kadang saya bertanya, untuk apa perjalanan panjang ini harus ditempuh manusia? Untuk apa penciptaan ini? Cuma untuk kesenanganNya? Ke AkuanNya? 

Walahuallam bi sawab…. Saya hanya seorang hamba yang mencintaiNya dengan segala ketidakmengertian dalam keterbatasan manusia.

Thing is not get easier

Surat Al A’la.

Ternyata dalam surat Al A’la Allah telah memberitahukan bahwa Dia tak akan membuat situasi menjadi lebih mudah seperti yang kita mau, tapi Allah menjamin kita mudah menjalani semua ujian jika kita memang bermunajat untuk itu. 


Pantas saja…

Jika kita mendekatkan diri padaNya, memohon diberi jalan keluar atas masalah2, seringkali memang nothin happen, tak ada perubahan satu derajatpun! Tapi kita diberi kemampuan menjalani masalah tersebut dengan lebih mudah secara fisik dan mental. Semakin kita mendekatiNya, bahkan ada kemungkinan masalah menjadi semakin berat tetapi kita tetap diberi kemudahan menjalaninya. Jangan kau pikir ketenanganmu itu bukan sebuah ” pemberian” . Itu hadiah akan rasa percayamu padaNya bahwa Dia akan selalu didekatmu, membimbingmu dan membantumu melewati semua.

Kadang kita terlalu fokus pada keinginan ego kita sendiri dan lupa bahwa kita butuh pembersihan jiwa dan ruh apabila menghendakiNya. Kesucian tak pernah bisa menyatu dengan nafsu dan segala peri kesetanan dan peri kebinatangan. Itu sebabnya kita dibersihkan… 

Bicara

“Berenti bicara politik” Begitu saran beberapa kawan senior ketika di SMA dan saran kawan2 lain, lalu terakhir, masuk saran ibu saya bernada serupa. “Demi keselamatanmu” sambung mereka. Wut???

How? Bagaimana saya bisa berhenti melihat kesalahan dan kebodohan? Bagaimana saya bisa berhenti melihat panah2 fitnah diarahkan pada orang2 yang baik dan benar? Bagaimana saya bisa berhenti melihat masa depan anak cucu saya jika ditangan pemimpin yang salah? 

Oh ya, saya memang tidak dibayar. Ini cuma tanggung-jawab moral dari ilmu yang saya punya, pengetahuan yang saya miliki. Jika dari yang saya telah diberiNya itu saya bisa membalikkan satu pemikiran “ragu ragu” menjadi “pasti” saja..atau membenarkan yang salah dari satu kepalaa saja, itu sudah sesuatu untuk saya. Atau paling tidak saya membantu saling menguatkan dan berbagi informasi benar sesama teman semisi saja, itu sesuatu buat saya. 

Saya, kami tak dibayar memang tapi yang sedang kami amankan itu adalah masa depan anak cucu kami sendiri, bukan siapa siapa. Saya, kami juga bukan sok pejuang bukan pula sok pahlawan tapi hari gini medsos itu salah satu ujung tombak penyebaran informasi era digital. Hidup seseorang bisa berakhir atau cemerlang lewat medsos demikian pula urusan politik. Jadi kalau arus informasi yang cepat tanpa henti selama 24 jam itu dimonopoli berita2 tak benar, profokasi dan fitnah, mau jadi apa negeri ini? Tentu saja harus kami imbangi semampu kami sekuat yang kami bisa. Ibarat orang nelen racun satu sendok teh, harus dinetralisir dengan air berember-ember supaya bersih!

Berawal dari medsos lalu mulut ke mulut didunia nyata. Sungguh berbahaya kalau yang dibaca berita fitnah tiada henti atau info info bermuatan negatif yang tiada henti.

Saya tak mau berhenti “bicara” sebelum saya mati.