Latest Entries »

Menyesal? Tidak

Ada teman pernah bertanya setelah saya curcol ngalar ngidul tentang kehidupan tema : harapan dan kenyataan, ” Jadi, kamu menyesal?”. Saya menatapnya sambil menggeleng, “Tidak”. Dia nampak heran. Mungkin dia pikir saya curcol itu semacam bentuk penyesalan maha dasyat yang efeknya kehancuran total bagi jiwa.

Setelah menarik nafas panjang, menyamankan duduk, saya bilang, “Karena tak ada satu masalahpun yang akan meleset dariku jika Allah menghendaki aku belajar sesuatu untuk memantaskan diri dengan tujuan penciptaanku”

” Piye? Mosok ga nyesel ga jadi sama dokter yang sekarang punya RS besar di Aceh? Gak nyesel gak dapat Korean? Putihee jiaaan sak tae ndayak”

” Yo nda. Setiap manusia itu kan punya tahapan yg harus dilalui masing2. Jadi semisal sekarang , tahun ini , bermasalah dengan financial yaaa dengan siapapun kita nikah, masalah itu akan menguji kita. Misal bermasalah dengan suami sejak 2005 , siapapun yg kita nikahi ya tetap akan menyuguhkan masalah. Misalkan target masalah selama 15 tahun berlangsung, siapapun suami itu ya tetap akan menyuguhkam masalah selama 15 tahun. Begitu”

Seperti yang saya tulis sebelumnya soal tadaru, masalah mengarahkan kita kesana, ke tadaru, diluar tujuan untuk memaksa jiwa kita grows, tumbuh seperti yg diharapkan Sang Pencipta.

Jadi saya pikir lucu banget kalau feel nyesel. Lu kira yg diluar rencana Allah, yg lu idam idamkan sempurna itu bakal bisa menggerakkan hati lu menuju tadaru dan pertumbuhan jiwa??? In your dream!!!!! Manusia tuh gak tau butuhnya apa.. yang diketahui cuma inginnya.

Somehow kalau kamu butuh masuk surga supaya gak robek robek di neraka, ya jiwa kamu harus grow, tumbuh supaya sampai pada tingkatan ihsan, karena seperti itulah penghuni surga tingkatannya.

Dan manusia harus dipaksa grow!!! How? Problems!!!

Jadi jangan sekali kali nyesel atau mengutuk masalah. Itu buat kamu supaya bisa miber ke surga tanpa dicelup di minyak panas.

Oh well manusia mahluk lemah, boleh bete, feel down tapi bangun lagi and keep fighting !!

Advertisements

Tadaru

Saya pernah ngobrol dengan adik2 saya tentang kusyuk saat berdoa. Bahwa kusyuk itu tak selalu bisa dicapai dengan mudah. Harus ada penjiwaan yang sangat dalam untuk mencapainya. Dan kedalaman penjiwaan itu terkadang hanya bisa didapat melalui jalan “masalah” aka penderitaan.

Puisi cinta yang dibuat oleh orang yang mengalami sendiri jatuh cinta akan berbeda keindahannya daripada puisi cinta yang dibuat oleh jomblo which is “mereka-reka” saja tanpa ada penghayatan. Hambar tanpa makna.

Tadaru inilah bentuk kedekatan spiritual antara ciptaan dan Penciptanya. Begitu dekatnya sampai kadang yang ada hanya rasa cinta dan haru biru yang menguras semua persediaan air mata. Kedekatan ini tak bisa dibuat- buat, bahkan tak bisa diniatkan. Semua berjalan lewat cerita dan kesan…hikayat2 hikmah dari peristiwa demi peristiwa yang lalu melahirkan tadaru.

Kesimpulannya adalah, ceritamu, masalahmu sesungguhnya menggiringmu pada kondisi tadaru ini. Kondisi dimana kau bisa sedekat itu padaNya hingga kau tak sanggup berkata kata selain memeluk seluruh rasa ihsanmu, kemanusiaanmu dan kehambaanmu dihadapanNya dengan serendah-rendahnya namun sangat tinggi nilainya karena sangat jarang dialami.

Tak ada yang bisa menandingi kondisi tadaru ini. Dan yang kau sebut lega itu adalah sebenar benar perasaan setelah kau mengalami “trans” tadaru ini.

How to reach it?

Tune in saja pada masalahmu dan petik hikmahnya, evaluasi dan temukan Dia sedang melakukan cinta padamu…

Lihat postingan temen jalan2 ke Eropa, Jepang, Amrik, dll sebangsanya kok saya adem aja ya? Setitikpun gak ada rasa cemburu or sirik or kepengen juga seperti itu. Sumpah deh… Gak ke pe ngen at all!!!

So saya mikir, what makes others jealous , doesn’t make me jealous. Ujian itu menyerang kelemahan kita. Itu!!!

Jangankan jalan2 ke LN, suruh jalan 5 meter dari rumah aja saya perlu mengumpulkan kekuatan extra untuk menggerakkan kaki. Kalau itu bukan soal hidup atau mati, saya tak lakukan sama sekali gerakan keluar rumah yang cuma 5 meter itu. Parah? Ya parah. Saya malas jalan. Kamar saya, my home, adalah cangkang saya paling nikmat sejagad raya (note: selama ada internet, kopi, dan musik dan kidos 😎).

Ada pernah kejadian lucu saat suami ngajak berenang rame rame and saya ogah. And saya diseret ke mobil and di “culik” dibawa berenang. Dan disana yg terjadi adalah I didn’t enjoy it at all. Untung saya sempat nge-grab alat2 flanel craft saya and asik menjait di kursi di pinggir kolam. Once again: I did not enjoy the place!!! Arrghh!!

Ke Bali juga pernah begitu. Sudahlah perginya malas malasan, sampai di Bali maunya di kamar terus or paling jalan sedikit kedepan hotel sekitar berapa langkah lalu duduk liat laut. Diajak ke Bedugul lah, Denpasar lah, Sanur lah, Tanah lot lah, Tampak Siring lah, Kintamani lah harus disereet dulu or arguing like hell : PERGI AJA SENDIRI SANAH!!!! Padahal belum ada internet looh..😂😂

Jadi kalau temen lain jadi panas jika melihat ada yg sering jalan ke LN, saya nope. Saya panas jika melihat ada yang bisa bebas praktek bikin kue dengan segala unlimit budget dan perlengkapan baking yang keren ppfffffttt ..my Lord!!! Please gimme those kind of luxurieeeesssss 😥😥😥😥.

So .. gais, ujian beda2. Soal cemburu aja sasarannya beda2. Jadi, kalau kita sedang diuji sekarang dan ujiannya berasa laksana tiada akhir, telitilah baik2. Disitu pasti ada titik lemah kita yang jadi masalah or sumber masalah kita. Harusnya jika kita sadari dan perbaiki, kita bisa lanjut ke masalah selanjutnya (baca: perbaikan selanjutnya).

Paham ?

My beloved baking sheets

Taufik

One mistake most of us do when we start turning to Allah, prayers and Quran is that we anxiously wait for the “sweetness” of eemaan the moment we start. And when it does not happen, when our 5 times prayers seem forced, when the Quran doesn’t bring us to tears – we GIVE UP!

No yaa Ikhwaani! This is another big trap we have to save ourselves from. Indeed, the sweetness of eemaan will not come except with constant perseverance. Your standing or reciting will not make it happen instantly!

It is when Allah will see you constant in His Path, it is when He sees that you pray even when you don’t feel like it, it is when He sees that you recite His Word even when every inch of your brain tells you not to, it is when He sees you strive to stand in tahajjud though you may “hate” it… it is THEN that He will give you this sweetness and contentment as a GIFT from Him.

Reflect on the words of Sufyan ath-Thawri (rahimahullah):

“For twenty years…I struggled to remain standing in prayer at night. For those twenty years I never tasted the sweetness of the night prayer. It was only after that that I found comfort and sweetness.”

Continue ya ikhwaani and DO NOT GIVE UP. When the Lord of the worlds has not given up on you, how can you give up on your own self?

Tawfique chowdhury

Allah did…

Ada cerita… Seorang yang tak punya apa apa, terpaksa harus meletakkan harga dirinya untuk berhutang sejumlah 5000 perak demi sebungkus nasi warteg. Yang dihutangi menolak membantu dengan berbagai alasan. Namun demikian, yang berhutang tak kesal ataupun marah… Maka Allah senang padanya, lalu, ada tetangga yang mengantarkan sepiring nasi “selametan” dengan lauk pauk yang terbilang wah untuk ukuran dia. Seketika dia ingat Allah. Allah menutup pintu dari temannya, tapi membuka pintu dari tetangganya.

Selang sehari kemudian, temannya yang lain mengeluh butuh uang 5000 perak untuk beli neozep. Anaknya demam tinggi. Berada dalam kondisi yang serba tak punya tapi ingin sekali membantu itu adalah sesuatu yang mengerikan dalam lingkup kesedihan. Tapi lucunya lalu ada yang memberi uang 10.000 pada orang serba tak punya ini. Segera saja dia berikan pada kawannya 5000 perak untuk membeli neozep.

See? Look how Allah works… Seseorang yang tadinya berniat berhutang malah bisa memberikan bantuan pada orang lain dengan jumlah yang sama besar!!!

Lalu kamu kasak kusuk bilang bahwa Tuhan itu tak pernah pedulikan kamu? Masalahnya kepada Tuhankah keluh kesahmu berlabuh? Atau menyebar pada orang orang sehingga menimbulkan gossip, lalu suudzon?

Saya jadi berpikir; Soal kucing yang akan saya tinggalkan beberapa lama nanti.

Awalnya saya stres. Kucing2 peranakan ini saya beli dengan harga yang lumayan. Kalau beranak peranakan pun bisa dijual kittennya. Beternak kucing bisa jadi ide yang lumayan buat ngisi dompet, meskipun sifatnya iseng. Itu sebab, saya cukup ketat menjaga mereka, dan stress sendiri kalau harus meninggalkan mereka tanpa penjagaan.

Tapi lalu saya pikir untuk apa meletakkan semua urusan duniawi hanya sebatas kepala??? Bukankah ada Dia di langit sana yang lebih powerful daripada kepala saya dengan segala waswasa dan kekuatiran yang menyesakkan dan bahkan jadi seolah menduakan DIA? Saya serahkan penjagaan kucing pada kopasus pun kalau Dia sudah berkehendak, akankah ada yang bisa menyelamatkan??? NO!!!!

Allah The Almighty adalah sebaik baik penjaga!!!!… Begitu saya akhirnya memastikan diri dan lillahi ta Alla: semua urusan yang diluar kuasa kita, serahkan padaNya. Dia will take care….

Seketika hati saya plong, kepala saya ringan, kucing saya happy karena tetiba dapat semacam freedom untuk tidak dikurung se paranoid biasa lagi oleh majikannya.

Ada yang mendapat pencerahan…

Banyak yg berpendapat bahwa semua yg terjadi adalah atas sepengetahuan Allah, termasuk semua kesalahan2 kita, so Allah lah sebetulnya yang melakukan, bukan kita. Bukankah semua adalah bagian dari skenarioNya? Selogis apapun kita, kita akan tetap melakukan kesalahan jika itu kehendakNya?

Lalu tad Nouman mencontohkan kejadian Adam dibujuk Iblis melakukan larangan Allah sehingga Adam diturunkan ke bumi.

Skenario 1: Adam mengungguli penciptaan Iblis dan Malaikat dengan gelar “Ciptaan master piece dari Sang Maha Pencipta”, ciptaanNya yang paling sempurna, sehingga iblis dan malaikat wajib bersujud di hadapan Adam. Sebagai yg merasa super senior, iblis menolak perintah itu dan kebencian tumbuh di dadanya. Malaikat patuh dan bersujud.

Skenario 2: Kebencian iblis membuatnya merayu Adam untuk melakukan kesalahan: melanggar larangan Allah. Dan Adam pun melakukan kesalahan.

Skenario 3: akibat kesalahan Adam, maka Adam diturunkan ke bumi. Padahal sebelum Adam tercipta sempurna, Allah telah mengumumkan bahwa Adam akan menjadi khalifahNya di bumi , dan inipun sempat membuat malaikat protes.

Ketiga skenario diatas menunjukkan bahwa Allah tahu tiap step yang akan Dia jadikan kun fayakun, karena sudah menjadi bagian dari rencananNya. Allah tau bahwa Iblis akan menolak bersujud dengan alasan yang sangat, sangat masuk akal. Allah tau bahwa Adam akan melakukan kesalahan, Allah tau Adam akan keberatan diturunkan ke bumi, apalagi ketika Adam diberitahu bahwa dia memang diciptakan untuk di bumi, bukan karena semata dia lakukan kesalahan sehingga dia dibumikan. Adam sangat punya alasan yang cukup kuat untuk tidak suka pada semua keputusanNya.

Tapi bedanya iblis dan Adam adalah, diluar semua skenarioNya yang membuat Adam bersalah dan terusir dari Surga, Adam tetap memohon ampunanNya dan mengakui kesalahan yg telah ia perbuat dengan rendah hati tanpa menyalahkan siapapun, sementara iblis sama sekali tak sudi mengakui kesalahannya dan tetap keukeuh mengatakan bahwa Tuhan punya kehendak sehingga Tuhanlah yang bertanggung jawab atas semua kekacauan yang dia alami.

Semua masalah, kesalahan yang kita lakukan dan terjadi dalam kehidupan kita adalah atas sepengetahuanNya dan ijinNya, namun demikian, yang Dia ujikan pada manusia adalah kemampuan untuk humble mengakui kesalahan dan memohon maaf padaNya. Kemampuan inilah yang membedakan manusia dari iblis. Kesempurnaan penghambaan dari mahluk ciptaanNya yang bernama manusia: Iklas.

So… Siapakah yang akan kamu contoh? Iblis? Or Adam?

Ronggo warsito

FALSAFAH RONGGO WARSITO
(Dalam bahasa asli dan terjemahannya)

Rejeki iku ora iså ditiru
(REJEKI ITU TIDAK BISA DITIRU)
Senajan pådå lakumu
(WALAU JALANMU SAMA)
Senajan pådå dodolan mu
(WALAU JUALANMU SAMA)
Senajan pådå nyambut gawemu
(WALAU PEKERJAANMU SAMA)
Kasil sing ditåmpå bakal bedå2
(HASIL YANG DITERIMA AKAN BERBEDA SATU SAMA LAIN)
Iså bedå nèng akèhé båndhå
(BISA BEDA DALAM BANYAKNYA HARTA)
Iså ugå ånå nèng Råså lan Ayemé ati, yaiku sing jenengé bahagia
(BISA JUGA ADA DI DALAM RASA BAHAGIA DAN KETENTERAMAN HATI)
Kabèh iku såkå tresnané Gusti kang måhå kuwåså
(SEMUA ITU ATAS KASIH DARI TUHAN YANG MAHA KUASA)
Såpå temen bakal tinemu
(BARANG SIAPA BER-SUNGGUH2 AKAN MENEMUKAN)
Såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå
(BARANG SIAPA BERANI BERSUSAH PAYAH AKAN MENEMUKAN KEMULIAAN)
Dudu akèhé, nanging berkahé kang dadèkaké cukup lan nyukupi
(BUKAN BANYAKNYA, MELAINKAN BERKAHNYA YANG MENJADIKAN CUKUP DAN MENCUKUPI)
Wis ginaris nèng takdiré menungså yèn åpå sing urip kuwi wis disangoni såkå sing kuwåså
(SUDAH DIGARISKAN OLEH TAKDIR BAHWA SEMUA YANG HIDUP ITU SUDAH DIBERI BEKAL OLEH YANG MAHA KUASA)
Dalan urip lan pangané wis cemepak cedhak kåyå angin sing disedhot bendinané
(JALAN HIDUP DAN REJEKI SUDAH TERSEDIA, DEKAT, SEPERTI UDARA YANG KITA HIRUP SETIAP HARINYA)
Nanging kadhang menungså sulap måtå lan peteng atiné, sing adoh såkå awaké katon padhang cemlorot ngawé-awé, nanging sing cedhak nèng ngarepé lan dadi tanggung jawabé disiå-siå kåyå orå duwé gunå
(TETAPI KADANG MANUSIA SILAU MATA DAN GELAP HATI, YANG JAUH KELIHATAN BERKILAU DAN MENARIK HATI.. TETAPI YANG DEKAT DIDEPANNYA DAN MENJADI TANGGUNG JAWABNYA DISIA-SIAKAN SEPERTI TAK ADA GUNA)
Rejeki iku wis cemepak såkå Gusti, ora bakal kurang anané kanggo nyukupi butuhé menungså såkå lair tekané pati
(REJEKI ITU SUDAH DISEDIAKAN OLEH TUHAN, TIDAK BAKAL BERKURANG UNTUK MENCUKUPI KEBUTUHAN MANUSIA DARI LAHIR SAMPAI MATI)
Nanging yèn kanggo nuruti karep menungså sing ora ånå watesé, rasané kabèh cupet, nèng pikiran ruwet, lan atiné marahi bundhet
(TETAPI KALAU MENURUTI KEMAUAN MANUSIA YANG TIDAK ADA BATASNYA, SEMUA DIRASA KURANG MEMBUAT RUWET DI HATI DAN PIKIRAN)
Welingé wong tuwå, åpå sing ånå dilakoni lan åpå sing durung ånå åjå diarep-arep, semèlèhké lan yèn wis dadi duwèkmu bakal tinemu, yèn ora jatahmu, åpå maneh kok ngrebut såkå wong liyå nganggo cårå sing ålå, yå waé, iku bakal gawé uripmu lårå, rekåså lan angkårå murkå sak jeroning kaluwargå, kabeh iku bakal sirnå balik dadi sakmestiné
(PETUAH ORANG TUA, JALANILAH APA YANG ADA DIDEPAN MATA DAN JANGAN TERLALU BERHARAP LEBIH UNTUK YANG BELUM ADA. KALAU MEMANG MILIKMU PASTI AKAN KETEMU, KALAU BUKAN JATAHMU, APALAGI SAMPAI MEREBUT MILIK ORANG MEMAKAI CÀRA TIDAK BAIK, ITU AKAN MEMBUAT HIDUPMU MERANA, SENGSARA DAN ANGKARA MURKA. SEMUA ITU AKAN SIRNA KEMBALI KE ASALNYA)
Yèn umpåmå ayem iku mung biså dituku karo akèhé båndhå dahnå rekasané dadi wong sing ora duwé
(KALAU SAJA KETENTERAMAN ITU BISA DIBELI DENGAN HÀRTA, ALANGKAH SENGSARANYA ORANG YANG TIDAK PUNYÀ)
Untungé ayem isà diduwèni såpå waé sing gelem ngleremké atiné ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahké uripé marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI
(UNTUNGNYA, KETENTERAMAN BISA DIMILIKI OLEH SIAPA SAJA YANG TIDAK MENGAGUNGKAN KEDUNIAWIAN, SUKA MENOLONG ORANG LAIN DAN MENSYUKURI HIDUPNYA)

Bapak, let it rain…

My hero, my bapak sungguh tak berdaya menghalang usia senja yang mulai mematikan lampu kehidupan di rumahnya satu per satu. Ia tak bisa melawan kehendakNya. Jam pasir mulai menipis, waktu mungkin hampir habis.

My hero, my bapak masih bisa bercanda dan tertawa, meski lidahnya kelu dan kerongkongannya telah menolak makanan. Laparnya ia tahan dengan sabar sambil sesekali menenangkan kami : “bapak nggak sakit… Percayalah”

My hero, my bapak mungkin sudah lupa kata kata menghiburnya yang sering dia bisikkan lewat telepon pada anak perempuannya : “selama kamu masih enak makan, dan masih enak tidur, apapun masalahmu, tetaplah bersyukur karena dua hal itu adalah nikmat duniawi tertinggi yang diberikan kepadamu”. Kata2 bermakna super dalam itu harusnya mampu menutup semua masalah yang tiba2 memang menjadi tak berarti jika masih enak makan dengan apapun dan enak tidur dimanapun…

My hero, my bapak semoga kita bisa , masih bisa, bicara 4 mata seperti biasa.. berbisik tentang rahasia dan menertawakan kebodohan, lantang tentang prinsip hidup dan meremehkan masalah atas nama Allah. Lalu saling mengacungkan jempol tanda sesuatu yg besar telah disepakati untuk kepentingan yang besar, tentang iman, hidup dan cinta.

I hope I’m seeing you sooner hero… Sooner….

Orangtua

Dengerin orangtua sakit itu ada yg nyesek2 gak jelas. Sebagai anak yang puluhan tahun bareng mereka, tentu saja kita ngarepnya mereka mati bareng kita aja. Jadi ga ada yg dulu duluan. Karena buat aku pribadi, pisah dari orangtua itu seperti langit runtuh. Apalagi pisah alam… Kiamat kecil mungkin bagi hati dan jiwa.

Why? Karena mereka orang yang paling tulus mencintai kita. Kamu gak bakalan tau rasanya cinta serupa itu kalau kamu belum jadi orangtua. Orang yang memiliki darah dagingnya sendiri dan mencintainya sampai berdarah darah juga.. Cinta super besar yang tak bisa kamu lihat dengan mata.

Aku sendiri baru ngerti pengorbanan sebesar apa menjadi orangtua itu setelah jadi orangtua. Oh.. gini ya rasanya anak sakit, anak telat pulang tanpa kabar, anak sedih, anak diganggu orang, anak minta sesuatu gak bisa ngabulin, anak jatuh, anak membahayakan diri sendiri, dll dll.

Baru setelah jadi orangtua juga tau rasanya yang namanya diberi amanah itu seberat apa. Harus ikut mikirin masa depan anak dll dll. Berat kalau dilihat dari sisi pengorbanan…

Tapi meskipun mereka ke kita sayang tanpa pamrih apapun, kita suka lupa mereka lebih layak kita sayang daripada sayang mereka ke kita.

Aku sih ga ingin mereka pergi. Aku mau mereka selalu ada seperti biasa untuk jadi back up aku. Tempat aku pulang dan curhat. Biarpun aku tua.. aku tetap anak untuk mereka, dan mereka tetap orangtuaku yang peluk aku seperti ketika kecil dulu, perlakukan aku seperti aku kecil dulu. Hal hal semacam itu yang bikin aku merasa manusia.. bahwa aku pernah menjadi anak yg tak tau apa apa, tak berdaya, dan orangtua adalah malaikat penjagaku.

I dont know siapa yg akan pergi duluan, mereka? Atau aku? Yang jelas, yang ditinggalkanlah yang paling lara.. dan rasanya aku gak ingin sebagai yg ditinggal. Biar aku saja yg pergi… Aku saja…

Rumah

Ntah mengapa ketika saat ke Kabah tiba, aku merasa seperti menuju ke satu tempat yang menenangkan ; seperti rumah.

Aku pikir juga aku akan sephobia biasanya ketika bicara soal pesawat. Ternyata tidak. Langkahku ringan menaiki qatar, rasa takut sebesar zarahpun tak ada. Kupikir kalau aku harus mati bersama pesawat ini, aku malah akan bahagia karena ini sebuah perjalanan pulang yang dirindukan. Sekuat itu ternyata cinta pada “rumah”. Berani menitipkan nyawa untuk selamanya bahkan tak perduli pada cinta cinta lain yang menungguku kembali. Tak terpikir! Cinta akan rumah, jauh lebih besar. Unbelievable!

Begitulah rumah bahkan membuatku cengeng ketika masih dari kejauhan aku melihat tanahnya. Rumah yang ngangeni ini mengapa bisa sedasyat itu efeknya?, aku juga gak ngerti! Rasanya ada ikatan batin yang sangat kuat yang berupa magnet, menarik lekat seluruh rasa, darah, sumsum, saraf, tulang dan daging, ruh, nafas, hati, jiwa….

Di rumah ada banyak cerita yang sedih tentang cinta dan pengorbanan yang berakhir bahagia, mungkin itu sebab rumah menjadi kesayangan jiwa. Cinta tumbuh dari sana. Rumah yang bersaksi akan perjuangan cinta yang mendera jiwa , akhirnya bisa nyata aku sentuh dengan raga dan jiwa..dan hati.

Aku tak bisa lama di rumah. Aku harus keluar kembali membenahi hidup. Tapi cinta yang dia ajarkan , aku bawa selalu dalam tugas tugasku searah tujuan penciptaanku. Itu sebab aku selalu ingat pulang… Pulang ke rumah.

Selama apapun di rumah, selalu terasa tak cukup. Ada kedekatan batin yang tak mau dipisahkan, begitu dekatnya sampai selalu mampu melelehkan jiwa tiap kali ingat harus pergi meninggalkannya…

Rumah telah jauh kembali…

Aku tinggalkan setelah puas menyentuhnya. Ada cinta yg sangat besar disana yang tak bisa aku lukiskan dengan kata kata melainkan air mata bahagia dan air mata keharuan. Cinta yang sangat besar..

Letih itu baru terasa hanya ketika aku menjauhi rumah…

Aku akan pulang kembali ke rumah… Mendekati lagi saksi cinta yang agung dan membiarkan kekuatannya menyinari sampai relung gelap hati dan bersemayam disana.

Aku rindu rumah..