Latest Entries »

Allah’s Plan

Memang kadang hanya perlu niat untuk membuka jalan supaya Allah menuntun kita. Kemaren saya sedikit penasaran dengan “doa”. Jadilah saya dengarkan semua dakwah Pak Nouman yang judulnya doa. Niatnya memang ingin tahu saja dengan makna satu kata itu.

Ternyata menurut Tad Nouman , doa itu sendiri bermakna komunikasi, namun seringkali juga bermakna “demand”, permintaan. Jadi doa itu bisa komunikasi, bisa juga permintaan. Komunikasi hamba dan Rabbnya ini sangat disukai Allah. Ini semacam bentuk “cuddling” dengan Sang Maha Pencipta, sementara doa dalam bentuk demand itu tak bisa sembarangan, dalam artian pengabulannya harus sesuai dengan rencanaNya dan waktuNya. Karena segala sesuatu sudah diatur olehNya dan bersangkutan dengan banyak hal yang kita sama sekali tak tahu.

Ketangguhan doa itu sebetulnya yang terpenting adalah “Komunikasi” itu tadi, selain Allah menyukai itu, kita juga bisa bebas curhat minta dikuatkan, minta dilapangkan dada, minta dijaga, dipandu, permintaan2 yang sifatnya bukan duniawi, dan itu in shaa Allah langsung diberikan olehNYA. Sebaliknya, permintaan2 yang sifatnya materi atau duniawi (termasuk menghilangkan masalah tertentu, atau memberikan jalan keluar tertentu) harus disesuaikan dengan rencana Allah. Kenapa? walahuallam. Allah selalu punya big plan yang jauh lebih huge dari apa yang kita mau.

Bicara soal “ALLAH’S Plan”, Tad Nouman menceritakan perjalanan Nabi Musa dan Khidir. Nabi Musa mendapat perintah menemui hamba Allah yang misterius itu (sebagian berpendapat, beliau adalah malaikat). Dan bertemulah mereka. Nabi yang menguasai kitab Taurat dengan keilmuan yang jauh lebih banyak daripada Quran, ternyata harus berguru pada seseorang yang gak jelas juga siapa.Nabi yang sudah jungkir balik diuji kesabarannya, tes demi tes, harus diuji lebih jauh lagi lewat guru satu ini yang katanya bernama Khidir. Adapun sarat dari Pak Khidir adalah, Nabi Musa boleh ikuti dia, asal janji mau sabar dan gak banyak complain. Nabi Musa ok. Come on, sekelas Nabi Musa gitu looh, masih diragukan kesabarannya? segitu udah mau mati di padang pasir ketika melarikan diri, segitu harus menghadapi Firaun, orang paling jahat seantero Mesir saat itu sekaligus babeh angkat, plus menggembala pengikut beliau ketika menyebrangi laut… masih diberi syarat harus sabar???? how about us?

So, Nabi Musa mengikuti Pak Khidir. Nebeng kapal laut, dibolehin, tapi lalu kapalnya dirusak Pak Khidir. Nabi Musa kaget. “How could you do that to someone who do good to you????” protes beliau, tak habis pikir, kesel juga. Pak Khidir bilang, “See? complain and ga sabar kan?”. Nabi Musa mengalah, mencoba coolin down dan janji ga akan gitu lagi supaya bisa terus boleh ikut. Diperjaanan selanjutnya, Pak Khidir malah membunuh anak kecil yang gak salah apa2. “What are you doing????? Anak itu gak salah apa2 ke kamu, gak berdaya, gak berbuat apa2 lahhh kok kamu bunuh?” Makin bertambah gak ngerti Nabi Musa. Kebayang deh perasaan beliau yang penuh kasih sayang lalu tetiba melihat adegan itu. Wong beliau sampai jadi buronan karena ninju polisi yang menganiaya rakyat lemah saking penuh kasih sayangnya…. laaa ini liat anak kecil dibunuh Pak Khidir?!!!Pak Khidir bilang, ” Sepertinya kamu gak bisa lanjut ikutin saya deh”. Sekali lagi Nabi Musa mencoba menahan diri bersabar, ” Jangan pak, baiklah saya akan sabar pak. Please… ijinkan saya ikut”. Kali ketiga, mereka masuk disebuah kota yang penduduknya jahat2 berikut tak ramah. Mereka cuma lewat saja dapat bantingan pintu dan sinisan. Boro2 minta air….  Lah Pak Khidir malah membangun bangunan dikota itu…mendirikan semacam monumen. Nabi Musa bete banget jadinya, “Lah? kota jahat begini kok malah membangun monumen? protesnya”. Pak Khidir akhirnya bilang, “Sudahlah, tak usah ikut lagi. Baiklah kuberi tahu sekarang. Kapal yang kurusak itu, sengaja kurusak karena di depan sana ada pembajak. Mereka ga akan mau merampas kapal rusak, sementara itu kerusakan yang kubuat bisa diperbaiki si pemilik kapal, mereka akan selamat sampai tujuan. Sementara anak kecil itu, kelak besarnya akan membunuh kedua orangtuanya, jika dia mati sekarang dia akan masuk surga, dan orangtuanya akan aman aman saja. Monumen itu, dibawahnya ada harta anak yatim. Jika tak disembunyikan dengan cara itu, di kota yang jahat, anak anak yatim itu tak bisa mendapatkan haknya,”

Pelajaran apa yang bisa kita telisiki??

Bahwa, belajar kehidupan hanya bisa dicerna dalam kondisi sabar, bahwa kesabaran tak bisa dipraktekkan lewat dakwah, membaca atau mendengar, tapi harus langsung menghadapi sebuah situasi/kejadian. Bahwa ada saja pihak yang akan membalas kebaikan dengan kejahatan, bahwa akan ada situasi dimana orang tak berdosa harus mati, bahwa ada situasi dimana kejahatan dibalas dengan kebaikan.

Allah akan melakukan hal-hal seperti itu di kehidupan kita, hal2 yang dimata kita tak layak bahkan mengerikan, tapi kita tak pernah tahu ada kebaikan apa dibalik tabir semua peristiwa itu. Jka kita melihat semua itu atau bahkan mengalami, kita harus BERSABAR dan yakin bahwa hal2 diluar kuasa dan akal sehat kita itu seringkali bermakna; rencana Allah sedang berproses atau sedang mengeksekusi awal cerita yang  tak masuk akal untuk akhir yang luar biasa.

Disinilah, di proses inilah seringkali demand kita tak terkabul karena rencana Allah sedang mengambil tempatnya… kita harus sabar dan yakin Allah sedang mengeksekusi sebuah akhir yang indah. Jikalau tak berbuah manis di dunia, maka akan berbuah manis di akhirat nanti. Buah dari kesabaran itu tak pernah membusuk…bahkan mewangi dan terus mewangi…

Have faith!

 

 

Advertisements

Gamang

Rina Nose, artis, melepas jilbabnya. Saya biasa saja. Buat saya manusia itu dinamis, selalu berproses. Begitu juga si Rina. Dia mau buka tutup jilbabnya sampai 100x pun biarkan saja. Finalnya cuma saat kematian, seperti apakah mati kita nantinya? Apakah dalam keimanan islam? Atau tidak? Sebab konon tersiar kabar Rina lebih suka menjadi agnostik darpada muslim. 

Teman saya yang ikut tertarik menjadi agnostik lalu bilang : “Rasanya, gw juga pengen menjadi agnostik” 

” Semua bebas memilih mau percaya pada apa. Dan gw bukan tuhan yang bilang ini salah itu benar atau elu salah, gw benar. Bisa saja meski agnostik, lu juga masuk surga. Who knows? Pelacur yang menolong kucing haus saja bisa masuk surga ” kata saya. 

Temen saya nyambung , ” Gw kecewa melihat islam sekarang “. “Muslim segolongan kali, bukan islam” sela saya. ” Rasanya, bukan islam yg rahmatan, islam ngaco!!” Lanjutnya. Saya jawab, ” Elu jangan melihat yang ignorant, jelaslah lu ga suka dan gak bakal suka. Lihatlah yg sebenarnya, yang adem, damai, penuh kasih dan maaf. Masih ada banyak muslim seperti itu. Saking indahnya ilmu dia, siapapun yang curhat atau ngobrol agama dengan dia akan merasa tenang, damai, bersyukur, ingat Allah, lebih sabar dan penuh kasih ke sesama. Itu “kutukan” org baik, selalu menenangkan sekitarnya”

“Tapi orang seperti itu udah sedikit “. Katanya. “Akan semakin sedikit nanti. Akhir jaman nanti akan lebih banyak ignoran muslim, yg bener akan jauh lebih sedikit dan jadi aneh dimata para ignorant. Tapi, elu harus kuat iman. Jangan lari dari islam hanya gara2 kecewa itupun karena melihat ignorant muslim. Look… Gini aja. Kalo lu mau agnostik, itu hak lu. Gw sih mau jadi umat Rasulullah saja”

Saya lanjut, ” Andai para atheis or agnostik itu benar, artinya sesudah mati hanya akan ada reinkarnasi. Elu, gw lahir lagi jadi pintu, atau kucing atau sapi ntahlah. Alhamdulillah cuma gitu doang. Tapi…bagaimana kalau agama yg benar? Bagaimana kalau hari penghisaban di padang masyar yg makan waktu 300thn dengan posisi matahari serasa sejengkal diatas kepala, haus luar biasa dan muslim mengandalkan safaat Rasulullah, benar2 terjadi? bagaimana? Apa elu mau minta remedial balik lagi ke bumi? Padahal udh ga ada siaran ulangan? Bagaimana kalau benar ada siksa kubur dan 3 pertanyaan malaikat penjaga kubur? Bisa lu jawab gak? Bagaimana kalau benar ada masa kegelapan? Yg mana faith lu, iman lu selama di dunia akan jadi senter di jaman itu nanti? Gimana lu bisa lihat jalan kalau lu atheis agnostik? Tak ada iman? Gelap?! Gimana kalau benar ada sirotol mustakim? Gimana kalau benar ada surga dan neraka??? Lu bego banget kalau lu ga ambil jalan aman! Reinkarnasi terlalu mudah untuk dipertaruhkan dengan faith pada hari pembalasan, 1 banding 1 juta milyar itu!!! Kalau gw sih cari aman aja, jadi umat Rasulullah dan in shaa Allah gue gak keberatan dengan aturan do dan dont nya islam. In shaa allah gw berdoa mati khusnul kotimah sebagai umat rasulullah gitu juga anak anak gw. Gw fait hard pada hari pembalasan dan berharap safaat rasul, berharap surgaNya, meski gw cuma butiran debu… Amalan dikit ibadah dikit tapi in shaa allah gw ga goyah” 

Teman saya memberi ‘jempol’ lalu bilang ,” Gw mau pelajari semua agama. Islam akan gw pelajari lebih dalam”. “Silahkan …” Kata saya melanjutkan lagi “Jangan lupa selalu basmallah dan niatkan mencari kebenaran, minta bimbinganNya. In shaa allah…”

Pembimbing Spiritual

Kalau kata ustad saya, Pak Nouman, how Allah gives pencerahan pada tiap-tiap orang tu berbeda. Pendakwah yang sering sukses mempengaruhi saya belum tentu sukses mempengaruhi orang lain. Pendakwah yang menurut saya bagus, belum tentu dinilai bagus oleh orang lain.  The attachment antara kita dan sumber ilmu agama kita adalah dalam aturan dan kuasa Allah. Jadi setinggi apapun semangat saya merekomendasikan seseorang yang saya nilai bagus kepada orang lain, belum tentu bersambut.

Saya pernah melakukan percobaan. Saya mem-foward dakwah 30 menit pak Nouman di wag keluarga saya, lalu saya tanyai sisters saya satu persatu, tentang “apa yang paling berkesan yang bisa mereka dapat dari dakwah singkat 30 menit itu”, mereka menggarisbawahi masalah yang berbeda-beda, bahkan berbeda dari yang saya garisbawahi. Saya mendapat ilmu bahwa hidup itu singkat, adik kedua saya mendapat ilmu bahwa tak ada yang abadi di dunia ini, adik ketiga saya mendapat ilmu bahwa tak ada yang dibawa mati apa yang didapat di dunia kecuali amalan. Tiga poin itu menancap masing2 pada 3 kepala, that is how God gives someone something to learn or remember. Jadi, apa yang melekat pada saya, dari dakwah yang sama, akan berbeda dengan apa yang melekat pada pendengar lainnya. Its up to God to decide. Itu baru dari dakwah yang sama, bagaimana kalau dari pendakwah yang berbeda-beda? pasti lebih variatif lagi.

Saya sendiri tak pernah menolak jika ada teman yang merekomen pendakwah2 lokal, meski sejauh ini tak ada yang saya sukai kecuali Pak Quraish Syihab. Kadang ada beberapa yang saya coba dengarkan, tapi tak pernah sampai lebih dari 3-4 judul, kemudian saya tinggalkan. Menurut saya bahasan mereka hanya tentang masalah permukaan saja :), tidak menyentuh sampai ke ruh saya :D. Saya suka bahasan yang berat2 seperti bedah tafsir yang otomatis mengcover semua masalah di dunia.

Saya memang picky soal pendakwah. Kadang2 saya pikir, alasan utama saya dimasukkan di akademi bahasa asing, Inggris, oleh Tuhan, semata2 supaya saya bisa mendengarkan nasehat ustad Nouman, yang kemudian mampu menghjrahkan saya dari sisi gelap ke sisi agak terang, alhamdulillah. Sebab seingat saya, banyak sekali pendakwah lokal yang di rekomen ibu saya untuk saya dengarkan, tapi satupun tak ada yang mampu mengarahkan panahnya ke hati saya. Semua meleset. Sampai seorang kontak , seorang nasrani,dari Jerman menshare dakwah singkat Tad Nouman tentang kasus karikatur Rasulullah oleh media Perancis, di jejaring G+. Dia mensaluti Ustad Nouman. Wait, a christian said he was proud of this ustad? who the ustad was ????, begitu saya saat itu, penasaran banget.

Disitulah kemudian saya terpesona pada sebuah dakwah yang menurut saya sangat bijak sekali, tak ada kemarahan, tak ada kebencian, isinya pengampunan. Tak ada ancaman melainkan memaafkan. Dakwah yang bak sungai sejuk ditengah2 dakwah radikalis yang membuat nama Islam jatuh dimata dunia. Sejak that crush, saya mengikuti semua dakwah beliau. Kadang ada yang sampai membuat saya menangis terharu, why? saya merasa seperti saya salah menilai Tuhan selama ini. Saya pikir Allah itu jahat karena membiarkan saya berdosa, jahat karena hukumanNya berat semua, hal kecil saja bisa mencelupkan saya dineraka. Saya putus asa….kalau dosa sudah segunung begitu, bagaimana saya harus menebusnya? umur saya paling cuma berapa puluh tahun saja? Putus asa. Dan Pak Nouman menjelaskan cerita yang berbanding terbalik dengan cerita yang selama ini saya terima dari ustad2 lokal atau orangtua saya sendiri; bahwa Allah sangat pengampun, bahwa Allah sangat mencintai orang yang bertaubat dan kembali padaNya tak peduli sebesar gunung dosa kita, bahwa Allah tak pernah memberi celah sedikitpun untuk kita lalai melainkan kesempatan2 untuk bertobat dan memperbaiki diri, bahwa Allah  luar biasa sangat Maha Pemaaf dan selalu menyambut maaf kita dengan tangan terbuka, kapanpun…dimanapun dalam kondisi apapun….. air matapun tumpah ruah…… semangat saya tumbuh dan saya berdiri kembali dengan tegak untuk kembali ke jalanNya, saya tak melhatNya menutup pintu melainkan membukanya lebar2 dan menyambut saya dengan pelukan sayangNya. Lalu saya bahkan Dia umrohkan……masyaa Allah.

Tapi pendampingan ustad Nouman terhadap perjalanan spiritual saya tak dialami teman2 saya yang lain, yang saya care lalu saya rekomendasikan. Mungkin mereka tak ngerti bahasa Inggris dan terlalu gak niat baca subtitle but it is ok. Sesungguhnya perjalanan saya bukan perjalanan mereka. Mungkin dibelahan dunia lain ada juga yang terpilih mendapat pendampingan ustad Nouman sama seperti saya, dan jumlahnya puluhan juta orang, I know. Mungkin di Indonesia juga ada beberapa orang yang saya tak tahu.

Namun intinya adalah, tiap orang mendapatkan jalannya masing2. Yang menakjubkan buat saya, ternyata tak terjadi pada orang lain. Kadang saya kecewa berat karena apa yang saya pikir bagus ternyata tidak  menurut orang lain. “Tak taukah kau orang ini sudah menuntunku bangun dari lumpur dan menopangku untuk berani kembali bersujud padaNya memohon ampunanNYA? tidakkah kau mau mencoba untuk rajin dengarkan dia karena aku berharap kaupun mendapatkan kebagusan itu???”

Tapi again… saya bukan control owner atas cerita orang lain. Kuasa saya hanya sebatas sharing atau rekomendasi. Thats it. Mau promosiin sampai mulut jontor pun jika Allah tak menghendaki hal yang sama terjadi pada orang lain, ya tak terjadi sama sekali.

Terimakasih Allah atas pembimbing spiritual yang telah Engkau berikan pada hambaMu ini, yang mampu mengetuk hati keras hamba untuk kembali melembut, tunduk padaMu dan takut padaMu. Thank You Allah ❤

Hati

Hati… Hai hati… 

Berhentilah berempati, berhentilah sekejab. Kau dapat yang kau minta kan? Tegalah sekarang! Karena tak semua permohonan langsung terijabah tapi kau jangan gundah! Memang ada harga yang harus dibayar dari sebuah perjuangan! 

Ini kecil! Tapi ini bibit! Maka berhenti berempati pada sebuah kesenangan semu! Pada bibit topan puting beliung! Ini bukan makian mr.Hadockh, ini api bertabir sungai sejuk! Nyata dan bisa membakar! 

Hati….Hey Hati

Berhenti manja pada angan2. Mimpi bukan saat bangun! Umurmu menyimpan banyak cerita nyeri… Mengapa masih tak tega? Dengarkan akalmu! Dengar!!! 

Berhentilah berperasaan pada hal hal tak penting tak menjanjikan! Kau pikir setan itu selalu menyeramkan? Tidak! Setan itu kadang cute, minta dikasihani, sok lemah, sok perlu bantuan, tapi tanduknya selalu ada dan hati tau itu!!!! 

Stop tak tega!

Ilmu

Tadi saya sedikit ngobrol dengan seseorang yang ntah atheis ntah agnostik, tentang bagaimana dia melihat anak beragama justru lebih rasis daripada anak yang tidak beragama. Oh … Saya tak heran itu bisa terjadi, sebab, dilingkungan terdekat sayapun ada buktinya. Semakin dalam ilmu agamanya, lha kok semakin rasis? Semakin panjang jenggotnya lha kok semakin radikal? What is goin on here? What is wrong with that religion? So saya gak total menyalahkan cara pandang kawan saya ini. Apa yg dia lihat adalah fakta.

Saya bilang mungkin orangtualah yang berpotensi besar sebagai pendidik anak yang salah ‘menerjemahkan” isi quran. He said: loh wong gurunya kelas sufi, ilmu tarekatnya dalam sering liqo. Ya tapi apa itu jadi jaminan kebenaran? Mau seribu kali datang ke pengajian dalam sehari, mau berguru pada 1000 orang, tak menjamin serapan ilmunya akan benar. Manusia berusaha sesuai niat masing2 dan Allah menentukan hasil akhirnya sesuai pribadi dan niat masing2.

He said again: semua ulama akan berbeda pendapat, bahkan mahzab aja terbagi menurut 5 imam, jadi patokan apa yang kita pakai untuk menentukan ajaran mana yang benar? Ntahlah…pertanyaannya itu buat saya sangat mudah menjawabnya. Kalau dia bingung harus pilih ikut ajaran mahzab siapa? Lalu ulama apa yg patut didengar? Saya kok simpel saja menentukan arah panutan: ikuti ulama yang mengajarkan agama yg penuh rahmat Illahi dan bukan murka Illahi, memgajarkan kasih sayang dan bukan kebencian bahkan pada musuh sekalipun, mengajarkan keadilan dan bukan ketidakadilan, atau memgajarkan memgampuni bukan menuntut balas!!! Itu!! Ulama yang apabila kita mendengarkan tausiahnya, kita akan terinspirasi banyak kebaikan, menjadi lebih sabar dan lebih pengertian, menjadi dingin instead of panas!!

Dan diapun diam…… Sediam saya. Mungkin kami sama sama merenungi pendapat masing2. Yup pendapat masing2

Kamu pikir cinta itu bisa abadi tanpa seijinNya? Tidak; bisa datang tanpa seijinNya? Tidak; bisa pergi tanpa seijinNya? Tidak. Lalu kenapa kecewa jika cinta tak ada? Beranikah kamu meragukan Tuhanmu? MemakiNya? MenyelisihiNya? Atas cinta yg terengut dari lubuk seseorang?

Never expect too much from somebody.. Never trust human! Except Allah, so you will never be dissapointed. Yang sering membuat kita kecewa adalah rencana atau harapan atau asumsi kita tak sejalan dengan kehendakNya. So it is not about the object of problem itself but lebih ke “perbedaan” harapan. Lalu antara ekspektasi kita dan Tuhan, kira2 ekspektasi siapa yang paling Maha Benar? Keputusan siapa yang paling Maha Bijak? Bukankah selalu ada maksud tersirat dari setiap yang tersurat? And siapalah kita ini yang merasa wajib mencak2? 

Kita cuma Butiran debu…..

So what we should do then when love is not around anymore? Nothin’. If you want you could pray and ask for it… If not.. Then thats it: do nothin’. 

Itu sebabnya…ketika cinta ada, rawatlah, syukuri dan minta supaya tetap ada bahkan tumbuh lalu bersemi, selalu bersemi. Manusia kadang terlalu pede mengira once love is there…it will always there for eva! Hey! We are not whitney houston’s song people! We are human! …and I will always love you is bullshit without our own efforts and His permission. 

So… I laught at you and myself…

ILMU

Ada masa-masa yang datang kembali untuk memastikan apakah kau sudah benar2 hijrah? Ketika kau yakin kau sudah, sebenarnya kau sedang mendahului Tuhan. Bukan kau yang memutuskan kau sudah hijrah. Kau tak pernah tau sejauh mana pengakuan hijrahmu. Jangan gegabah.

Harusnya kau cukup tahu diri untuk tidak terlalu yakin akan hijrahmu, kecuali mengatakan inshaa Allah sudah hijrah. In shaa Allah. Karena Allah paling tahu kadarmu sejauh mana, maka jangan sombong, jangan berbangga, sebab sesungguhnya meragu itu jauh lebih baik asal arahmu pasti: hijrah

Sebab situasi di depan sana, kau tak pernah tahu akan seperti apa. Seharusnya kau pantaskan dirimu untuk meminta supaya kau diberi situasi dan kedudukan yang jauh lebih baik dari hari kemaren, karena ujian tak akan pernah berhenti sampai nafas terakhirmu. Maka mintalah supaya apapun jenis ujiannya, kau selalu menjadi jauh lebih baik dari hari kemaren. Terlalu berpuas diri pada keyakinan akan hijrahmu rasanya terlalu prematur. Sekarang kau tahu betapa kau ternyata tak sepenuhnya hijrah, bukan???

Allah menunjukkan padamu betapa setitik kesombonganmu akan hijrah ternyata bullshit belaka. Kau masih bermain sampah dan berkotor-kotor. Merendahlah dihadapanNya…, jangan sombongkan sesuatu yang bukan kuasamu untuk menyatakan pasti. Kau belum hijrah dengan sungguh2….

Tapi hidup memang proses, dan jalannya naik turun, terjal dan berliku yang membuatmu jatuh bangun. Tapi lagi memang bukan kesempurnaan yang Dia inginkan darimu, tapi sejauh mana kau mau berusaha bangkit lagi setelah jatuh, dan sejauh mana kau niat kembali ke jalan yang benar setelah mengintili setan di jalan jalan sesatnya.

Kalau kau melihat kebelakang, ada banyak perbedaan dalam caramu melihat ujian. Suka tak suka, kau telah dibekali banyak ilmu olehNYA. Kau tau apa yang harus kau lakukan di ujian2 setelah pengakuan hijrahmu, tapi kau kadang nyetani. Meski begitu, karena hidup ini kesempatan berjuang, maka berjuanglah. Jika kau masih bangun esok pagi, artinya Allah masih memberimu kesempatan untuk memanfaatkan ilmu pemberianNYA itu. Ilmu yang kau dapatkan dengan tangis air mata darah lewat peristiwa2 memilukan. Sekarang ilmu itu sudah dalam genggamanmu, kau tahu pasti kau harus apa. Jangan dustai hati dan akalmu. Kau tahu pasti kau harus lakukan apa.

Jangan kasihani dirimu sekali lagi, karena setan dan egomu kadang bekerjasama untuk menyeretmu masuk kembali kedalam jurang dalam penyesalan, yang sekarangpun padahal tak pernah hilang bekasnya…

Mengerikan….

Menurut saya…..

Orang pintar dan orang cerdas itu berbeda. Cerdas itu gift yang gak semua orang punya. Pintar itu sebagian adalah gift, sebagian lagi adalah hasil ketekunan. Orang cerdas gak selalu harus pintar, orang pintar gak selalu juga cerdas.

Pintar itu cenderung kaku, sementara cerdas itu jauh lebih luwes. Orang pintar lebih teoritis, orang cerdas lebih praktikal. Analisa orang pintar biasanya terbatas, analisa orang cerdas itu tak terbatas.

Jadi somehow ada yang tanya: lebih asik cerdas atau pintar? lebih asik cerdas. Orang cerdas itu survivenya lebih asik daripada orang pintar. And you know what? orang cerdas seringkali gak merasa dia cerdas, tapi orang lain yang melihat dia cerdas. Sementara orang pintar mematok dirinya pintar dari pencapaian2nya yang diatas rata-rata. Hasilnya, orang pintar kebanyakan sombong dan berbangga-bangga hati dengan kepintarannya. Jeleknya lagi kalau lantas meremehkan orang lain. Sementara orang cerdas, yang tak pernah tau kalau dirinya cerdas, jauh lebih humble.

Masalahnya, cerdas itu pemberianNya. Tidak seperti kepintaran, kecerdasan tak bisa diusahakan 🙂

ISay NO to Racism

Saya bukan psikolog dan tak bisa memang mengambil kesimpulan rata-rata tentang apakah pendukung yang mendukung orang berbakat rasial, mengidap penyakit rasial juga?

Saya bukan tipe orang yang membedakan ini gelas majikan, ini gelas pembantu. Buat saya, selama pembantu itu sehat wal afiat, dia boleh memakai gelas majikan. Kalau makan di restauran, dia boleh semeja dengan majikan dengan menu pilihan sebebas majikan. Saya bukan tipe yang suka mengkotak-kotakkan manusia ntah karena dia lebih miskin, lebih bodoh, lebih hitam, lebih putih dll. Satu2nya pembedaan, yang pasti saya lakukan adalah apakah dia punya penyakit menular berbahaya atau tidak? sehingga perlu tindakan pencegahan, semisal membedakan gelas, membedakan kamar mandi dll yang tujuannya memang untuk menghindari bahaya.

Disadari atau tidak, semua manusia memang berpotensi menjadi rasial meski kadarnya berbeda-beda.  Ada yang untuk urusan kemiskinan, dia menjadi sangat rasial, orang miskin jangan ditemani. Ada yang rasialnya di urusan agama, adapula di suku, atau ras atau bahkan gender. Ada yang tidak rasial sama sekali alias potensi rasialnya nol persen.

Nah orang2 yang rasialnya nol persen ini saya lihat cenderung bersatu dengan sesamanya, dan orang2 dengan bibit rasial lebih dari nol persen cenderung membentuk kelompok sendiri. Maka ketika muncul figur pemimpin dengan bibit rasial yang sama dengan mereka, ya pasti mereka sukai dan mereka dukung. Sementara yang kadar rasialnya nol persen cenderung tak menyukai figur rasial dan lebih condong mendukung figur yang nol persen rasial. Apakah teori saya ini benar? ntahlah… tolong buktkan secara keilmuan.

Jika teori saya ini benar, maka saya menjadi tahu siapa-siapa sajakah orang2 disekitar saya yang ternyata mengandung penyakit rasial. Kawan2 yang nampaknya baik hati dan tanpa cacat cela, apabila mendukung manusia rasis, berarti dirinya sendiri mengandung bibit rasis yang sama???

Padahal di agama saya, Islam, kita tak boleh memberi celah sedikitpun untuk rasis feeeling itu muncul, apapun alasannya; ntah agama, ntah gender, ntah kekayaan, ntah suku, ras, dll. Jangan pernah membiarkan diri kita menjadi begitu jahat dengan cara rasis. Bagaimanapun manusia itu sama, diciptakan oleh Tuhan, warna kulit, gender, suku, strata, bisa berbeda karena tampak dari luar, tapi ruh kita semua sama!! bahkan tengkorak kita sama!!! yang membedakan manusia menurut Rasulullah adalah tingkat keimanan, dan perbuatan baiknya. Itu!

 

Siapa kamu?

Siapa kamu yang merasa bisa memiliki yang bukan milikmu? Siapa kamu yang merasa menguasai raga dan jiwa yang bukan milikmu? siapa kamu yang berpikir bahwa kehidupan berpusat padamu? siapa kamu yang mengharuskan orang bersyukur kepadamu? siapa kamu yang merasa sebagai sumber kebenaran? siapa kamu yang begitu yakin bahwa cinta itu abadi?

Kamu sebenarnya bukan siapa siapa…. sama baunya, sama busuknya sama bodohnya, sama tak abadinya, kamu bukan siapa siapa….

Tak ada yang perlu kamu sombongkan, pun tak ada yang perlu kamu banggakan. Karena kamu itu tak ada apa apanya, hanya seonggok daging, segumpal otak dan 70% cairan. Kalau kamu tumbuhan, kamu itu ketimun! Tak ada yang bisa kamu sombongkan sama sekali. Kemurahan hati Allahlah yang membuatmu jadi manusia sehingga orang melihat padamu. Tapi kesombongan telah membuatmu tak dilihat siapa siapa lagi…karena aslinya kamu memang bukan siapa siapa.

Jauh jauhlah kamu… sejauh jauh kamu bisa…..