Saya tipe wanita yang paling anti buang-buang makanan. Mungkin karena ajaran ibu saya juga sih. Beliau itu sangat menghormati makanan. Sebisa bisa mungkin tak ada rejeki yang dibuang.

Saya jadi ingat ketika ibu marah ke pembantunya karena membuang nasi sisa. Kesalnya sampai membuat beliau menangis berlinang air mata. Nasi sisa itu biasanya dijemur oleh beliau sampai kering, atau dibuat nasi kerak, atau nasi goreng. Pokoknya beliau tak mau nasi-nasi sisa dibuang begitu saja.

Rejeki ini dari Tuhan. Tuhan yang membuat kita bisa makan. Jangan sampai rejeki ini kita buang percuma. Lebih baik mengolahnya dengan benar lalu kita beri ke orang-orang miskin diluar sana. Begitu selalu beliau menasehati kami anak-anaknya. Dan nasehat beliau itu saya pegang sampai saya berkeluarga.

Dan begitulah, nasi-nasi sisa semalam, biasanya saya masukkan ke satu tempat lalu disimpan dalam kulkas. Kalau suami atau anak-anak ingin dibuatkan nasi goreng, nasi sisa inilah yang akan saya pakai.

Tapi yang lebih sering terjadi adalah nasi-nasi itu saya siapkan untuk acara malam mingguan anak saya yang paling besar. Dia sudah remaja, dan suka mengajak teman-temannya main ke rumah. Saya pikir, daripada dia kelayapan kemana-mana, lebih baik dia di rumah saja dengan teman-temannya. Saat mereka rame-rame ngobrol itulah biasanya saya menawarkan nasi goreng.

Namanya anak remaja ,yang bawaannya lapar terus,  menerima tawaran nasi goreng di malam hari terasa seperti mendapat  durian runtuh. Saya akan dengan senang hati mengosongkan kulkas yang penuh simpenan nasi sisa. Meraciknya sedemikian rupa dan dalam sekejap… dengan keahlian makan yang dimiliki anak-anak remaja itu… nasi goreng sepanci penuh bisa ludes bersih tanpa sisa sebutirpun!!! . Huffft leganya… lega karena tak ada nasi terbuang.

Mencari uang untuk sesuap nasi itu tak gampang, menghargai apa yang kita miliki sama saja dengan mensyukurinya. Berharap semoga akan mendapat ganti yang jauh lebih banyak dan lebih manfaat🙂