Semua orang di dunia ini menginginkan kebahagiaan, bahkan mengejar kebahagiaan dan dijadikan target hidupnya. Tapi ternyata melukiskan kebahagiaan sebagai sesuatu yang baik tak selamanya benar setidaknya menurut para penulis artikel yang diterbitkan di Perspectives on Psychological Science, a journal of the Association for Psychological Science. Tidak semua kebahagiaan itu baik, bahkan ‘mengejar kebahagiaan’ bisa membuat perasaan manusia menjadi jauh lebih buruk lagi.

Banyak sekali orang yang ingin tahu bagaimana caranya mendapatkan kebahagiaan itu, mereka membaca ini itu dan melakukan ini itu semata-mata supaya mampu menjadi bahagia. Tapi ternyata, menciptakan ‘tujuan untuk menjadi bahagia’ bisa berbalik menikam kita. Ini adalah salah satu sisi gelap dari kebahagiaan yang banyak tidak disadari orang.

Orang boleh-boleh saja memikirkan hal-hal yang  membuat mereka bahagia dan mensyukurinya. Atau menciptakan suasana yang kemungkinan besar dapat membuat seseorang merasa bahagia. Tetapi ketika kita menginginkan sesuatu yang kita pikir dapat menjadikan kita bahagia; kita termotivasi untuk itu bahkan kita mulai berharap banyak, kita sedang mengarahkan diri kita sendiri pada perasaan kecewa dan merosotnya rasa bahagia kita. Contohnya, orang yang membaca artikel tentang nilai kebahagiaan kemudian menonton film yang menceritakan tentang kebahagiaan, perasaannya akan menjadi jauh lebih buruk dibandingkan orang yang menonton film yang sama tanpa membaca terlebih dahulu artikel tentang nilai-nilai kebahagiaan. Kemungkinan besar, dikarenakan orang-orang yang berharap banyak tentang bahagia tidak merasa menjadi jauh lebih bahagia ketika mereka melihat film yang bercerita tentang kebahagiaan itu sendiri. Ketika orang berakhir dengan sesuatu yang ternyata tidak membahagiakan dirinya seperti yang dia harapkan, perasaan atas kegagalan inilah yang akan membuat mereka merasa jauh lebih buruk dari sebelum-sebelumnya .

Terlalu berbahagiapun ternyata bisa menimbulkan masalah. Sebuah penelitian yang melibatkan anak-anak sejak tahun 1920 sampai masa tua anak-anak tersebut, menyebutkan bahwa anak-anak yang dikenal sebagai anak-anak yang berbahagia di kelasnya meninggal pada usia muda. Orang-orang yang terlalu berbahagia juga ternyata cenderung tidak kreatif dan suka menantang resiko.

Sisi buruk lainnya dari  kebahagiaan, yaitu merasa bahagia yang tidak pada tempatnya ( biasanya diderita oleh orang yang punya kecenderungan ‘maniak’). Orang-orang ini akan merasa bahagia ketika melihat orang lain menangis karena sebuah kematian, atau melihat temannya terluka karena kecelakaan. Bahagia bisa berarti emosi yang negatif, yang juga memiliki peran dalam kehidupan ini; sama halnya dengan rasa takut yang mencegah kita mengambil resiko yang tidak penting,  atau rasa bersalah yang membuat kita bersikap lebih baik terhadap orang lain.

Meskipun demikian, menurut para ilmuwan, faktor paling kuat yang kemungkinan bisa menciptakan kebahagiaan adalah bukan uang, atau kesuksesan, melainkan memiliki hubungan sosial yang penuh arti. Ini berarti cara terbaik untuk meningkatkan kualitas kebahagiaan kita adalah berhenti mencemaskan tentang kebahagiaan itu sendiri dan sebaliknya gunakan energi yang kita miliki untuk menciptakan ikatan sosial yang baik dengan orang lain. Fokus pada hal ini saja, apa yang terjadi kemudian ?  pasrahkan pada kehidupan 🙂

Image

Advertisements