Dulu, ketika saya masih di sekolah dasar, saya sempat tinggal beberapa tahun di Manado, Sulawesi Utara. Sebuah kota kecil di pinggir pantai yang cantik dan ramah. Masa kecil saya di sana cukup indah dan sangat mengesankan terlebih pada eratnya ikatan persaudaraan antar penduduknya.

Disana, mayoritas penduduk beragama kristen, namun begitu hubungan antar beragama selama saya disana patut diancungi jempol ( semoga sampai saat ini masih tetap begitu ). Tak pernah sekalipun terdengar agama ini menjelekkan agama itu, atau yang agamanya ini tidak boleh begini begitu terhadap yang agamanya itu, atau agama ini tak boleh memberi ini itu kepada yang agamanya itu. Disana semuanya sama, semuanya saling menghormati dan menghargai.

Masih kuat di ingatan saya, setiap hari besar umat kristen, islam, hindu atau budha, selalu sama meriahnya. Jadi dalam setahun saya mengalami 4 kali kemeriahan yang sama.

Ketika hari raya umat islam tiba, orang tua saya mengadakan ‘open house’ untuk tamu-tamunya. Dari pagi sampai malam, rumah akan selalu dipenuhi dan didatangi tamu-tamu silih berganti. Tamu-tamu yang benar-benar namu, tidak seperti belakangan ini, tamu-tamu datang cuma untuk salaman lalu minggat pulang, kadang disuruh duduk juga mereka menolak dengan alasan masih harus ke sini ke situ dan lain-lain padahal suguhan di atas meja untuk mereka sudah disediakan jauh-jauh hari menyebalkan sekali. Kalau disana, tamu ya namu, duduk lalu ngobrol lalu cerita macam-macam sambil menikmati hidangan yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Sampai mereka merasa cukup untuk bersilaturahmi, barulah mereka pamit pulang.

Biasanya sampai semingguan rumah orang tua saya akan selalu didatangi tamu-tamu, baik itu teman-teman bapak atau teman-teman ibu atau tetangga sekitar rumah. Seringnya mereka datang tidak sendirian, tapi dengan semua keluarga intinya jadi saya suka bermain dengan anak-anak mereka sementara orang tuanya ngobrol dengan orang tua saya. Asiknya karena kami bebas makan apa saja yang ada di meja, bermacam-macam kukis, permen, cakes, dan aneka minuman soda. Untuk hari-hari istimewa ini ibu tak pernah banyak larangan. Bukan saja karena beliau sibuk melayani tamu-tamunya tapi juga karena ini memang hari istimewa.

Ketika hari raya umat kristen, atau hindu atau budha menjadi giliran perayaan selanjutnya, ibu akan memakaikan baju bagus untuk kami berempat dan mengajak kami bersilaturahmi ke rumah-rumah koleganya. Senangnya karena kami boleh makan ini itu yang disuguhkan untuk kami dan bermacam-macam pula karena tiap rumah biasanya suguhannya berbeda-beda. Saya sukaaa sekali kalau kemudian kami dibekali kukis dan permen-permen natal untuk kami bawa pulang. Teman-teman ibu yang rata-rata penduduk Manado asli itu jago membuat kukis. Kue-kue basah dan kue kering buatan teman-teman ibu lezatnya bukan main, saya pikir bahkan buatan ibu saya yang enak itu sekalipun masih kalah jauh dengan buatan teman-temannya. Jadi kalau saya dibolehkan memilih kukis dan manisan yang saya sukai untuk dibawa pulang, saya akan sangat gembira dan ‘nafsu’ 😛

Kalau tiba gilirannya hari raya umat budha, kesenangan saya berbeda lagi. Kebetulan teman-teman SD saya banyak yang merayakan hari raya ini, dan biasanya saya akan ke rumah mereka satu persatu untuk mengucapkan selamat. Tidak dengan bapak-ibu, tapi barengan teman-teman yang lain, pulangnya naik bendi (sejenis dokar) yang biasanya saya bayar sesudah sampai di rumah. Untuk lebaran yang satu ini, ada semacam angpao berbungkus merah yang saya bawa pulang. Dirumah teman yang merayakan waisak disediakan mangkuk berisi angpao yang nilainya macam-macam, kami boleh mengambil satu untuk dibawa pulang. Jaman itu nilai uang Rp.5000,- sudah banyaaaaaak sekali. Dan biasanya saya bisa mengumpulkan angpao sampai Rp.30.000,-. Senangnyaaaaa 😀

Begitulah kesan saya selama di Manado… indah dan terkenang kenang sampai sekarang setelah berpuluh-puluh tahun kemudian. Terus terang saja, setelah pindah dari Manado dan tinggal di kota-kota lainnya, suasana indah dan rukunnya hidup beragama seperti ini tidak saya temui lagi. Kebanyakan orang memandang sinis antara agama yang satu dengan yang lainnya. Tiba-tiba begitu banyak larangan yang sebelumnya tak pernah saya temui selama di Manado. Suasana hari raya tiap umat beragamapun dirayakan segolongan-segolongan sesama agama saja tidak membaur seperti yang pernah saya alami semasa kanak-kanak saya dahulu. Menyedihkan… karena saya sangat bisa membedakan suasana antara yang rukun dan yang tidak.

Tapi selama kondisi ini bisa diterima oleh sebagian besar orang, saya pikir kesedihan saya ini tentu saja tidak beralasan dan hanya sekedar sedih tanpa nilai. Tak apalah, setidaknya saya menyimpan memori tentang indahnya sebuah kerukunan tanpa memandang religi.

 

 

Advertisements