By : R.Nindyasiwi

Apa benar  cinta mengalami penurunan ‘mutu’ sesudah menikah ? apa benar juga ‘gairah’ yang di masa pacaran begitu menggebu-gebu, ketika menikah harus merosot tajam seperti anak TK yang sedang meluncur kebawah saat main perosotan. Lalu apa yang harus diwaspadai pasangan yang belum menikah dan apa yang harus dilakukan pasangan yang sudah menikah dan mengalami segala bentuk ‘pengurangan’ itu ?

Sebetulnya apa  yang menyebabkan itu semua ? apa memang cinta itu dibuat , hanya sekedar dibuat, sebagai ‘madu’ perekat perkawinan saja ? sesudah perkawinan terlaksana, maka akan selesai pulalah tugas sebuah cinta ? lalu dia bebas pergi kemanapun dia suka? Seperti itukah ?

Tidak semua perkawinan  yang bisa direkat dengan cinta. Banyak juga pernikahan yang terjadi karena dijodohkan atau sekedar melaksanakan keinginan orang tua saja. Anehnya…. kadang-kadang dalam pernikahan seperti itu cinta justru bisa muncul berbarengan dengan gairahnya. Hmmm…. ( garuk-garuk kepala).

Walaupun begitu, dalam masyarakat banyak juga ada kok pasangan-pasangan menikah yang cintanya tak pernah pupus terkikis jaman… mereka masih bisa saling memandang dengan penuh hasrat bergelora padahal sudah menikah sekian  belas atau sekian puluh tahun. Masih bisa jalan bergandengan tangan lalu meremas tangan pasangannya dengan rasa kecintaan yang tak sedikitpun memudar oleh waktu. Benar-benar pasangan beruntung !!!

Jadi gimana ? ternyata ada yang mengalami pelunturan cinta, ada yang justru mendapatkan cinta dan ada yang mengalami penguatan cinta,atau kehilangan cinta,  ada lagi yang lain ?. Fyiuh…. kalau begini ceritanya apa yang harus dipertanyakan ? bukankah cinta itu diluar kuasa manusia untuk mengatur kadarnya ? Bahkan bukan kuasa kita menurunkannya walau 1 derajat saja. Apapun kejelekan yang dilakukan pasangan kita, kekuatan cinta tetap bukan dalam kuasa kita untuk mengaturnya… bisa saja kita bertambah cinta dengan kejelekannya itu, bisa saja kita kehilangan cinta, atau bisa juga cinta hanya berkurang sedikit. Siapa yang menentukan ? kitakah ? rasanya bukan!

Jangankan dikeluarga pasangan yang bermasalah, dikeluarga pasangan yang tidak bermasalah sama sekalipun, yang semua serba sempurna , cinta bisa hilang begitu saja. Semua hal detil dalam perkawinan itu lalu diulik dan dicari, dibahas dan dipertanyakan. Jawabnya , toh hanya rekaan semata. Sebabnya apa ? juga  hanya rekaan semata. Pastinya karena cinta bukan daerah teritorial manusia. Tak ada satupun manusia yang diberi hak menjamah tombol-tombol cinta untuk di delete, atau di play, atau di replay, atau di pause atau di run, atau di instal, atau di undo dan lain-lain.

Jadi memang , ternyata, tak semua orang seberuntung pasangan-pasangan yang diberi karunia cinta yang tak lekang oleh jaman. Kalau kita tanya pasangan beruntung ini “ apa sih resepnya bisa bertahan cinta sekian lama ?” jawaban mereka bisa jadi sama saja dengan yang sering dilakukan pasangan-pasangan lain yang tak beruntung; tapi mengapa hasilnya bisa berbeda ? Wallahuallam. Mungkin memang suratan tiap orang itu berbeda.

Hmmm…..Suratan alias takdir, alias Qada… ya itu dia jawabnya. Kalau sudah DIA yang menekan tombol-tombol cinta itu… tak ada yang bisa menolaknya. Semua akan tereksekusi seketika itu juga disadari maupun tidak disadari… mungkin kekuatan doa bisa sedikit membantu sebuah keutuhan cinta. Tak ada salahnya ikhtiar… tak ada salahnya  mencoba.

 

Advertisements