Tiba masanya  dimana aku harus mengeruhkan semua keindahan angan-angan yang belum  kunjung ditemui hanya untuk melindungi  niat dari membangun rumah yang belum tentu akan ditinggali atau mengumpulkan ‘harta’  yang belum tentu dimiliki.

 

Bersyukurnya aku karena masih dipertemukan dengan pagi yang penuh keagungan, dimana detik-detiknya bisa mengandung seribu kebaikan meskipun esok bisa jadi masih terbit untuk orang lain tapi tidak untukku lagi .

 

Biarkan aku melihat diriku sebagai bagian dari kematian dan mengikat hatiku pada ketakutan salah. Karena aku ingin selalu condong pada kegelisahan noktah hitamku, dan bersabar atas keindahan duniawi  jika ia menampakkan diri dengan segala perhiasannya.

 

Aku hanya ingin menemukan harapanku dan mimpi-mimpiku tanpa sebuah pembangkangan setidaknya dalam kesucian niat……

 

Advertisements