Kalau celaan itu kau bilang sebagai kritik sehat, kenapa aku merasakannya sebagai sebuah kedengkian? Sadarkah kau bahwa kata-katamu yang seringkali kasar dalam mengungkapkan ketidakpuasanmu terhadapku itu adalah bagian dari kehebatanNYA dalam menempatkan kedengkian dengan dasar keadilan? Berawal dari sebuah pertemanan lalu membunuhnya? Dan begitulah caramu merubahku.

Aku tak mau jadi pengecut lagi yang harus mati berkali-kali. Ketika aku menjadi diriku, aku hanya ingin mati sekali dalam keberanianku sendiri dan aku tak ingin dihalangi.

Betapa kau tak menyukai aku, hidupku dan kodrat penciptaanku. Pernahkah aku mengeluhkan padamu tentang apa yang kubenci dari dirimu? Kalau kau tak mampu mengingatnya, itu karena aku memang tak pernah mencelamu.

Aku tak pernah berhenti mencoba melihat kenyataan penciptaan bahwa tiap-tiap manusia itu berbeda. Tak ada yang harus saling melarutkan diri pada kepribadian orang lain; aku melarut pada siapa dan kau melarut pada siapa, tidak!. Hakikat tak menjadi diri sendiri adalah bunuh diri. Memakaikan baju kepribadian orang lain pada diriku adalah sebuah pembunuhan berencana yang bisa saja tak kau sadari.

Bukankah salah satu tanda kebesaranNYA adalah perbedaan sifat yang ada pada manusia dan karakter yang dimiliki oleh mereka? DIA tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

DIA telah menakarnya dengan baik, merancangnya dengan seksama, mempertimbangkannya, menciptakan dengan keMAHAanNYA dan kau mengkritik NYA?

Aku tak akan menentang kodrat penciptaan siapapun, tak juga kau. Tapi asal kau tau saja bahwa bagaimanapun menjadi orang lain merupakan penguburan hidup-hidup terhadap bakat yang DIA berikan, pembunuhan terhadap kemauan dan penghancuran sistem terhadap karakter penciptaan manusia.

Terpikirkah olehmu ketika pribadi telah mati, sanggupkah kau menghidupkannya kembali? Bukankah manusia tak punya daya cipta? Lalu kemana kau akan bertanya caranya karena tak satu manusiapun yang tau? Hanya DIA yang mampu menolongmu, bukan aku. Maka berhentilah menekanku dan berhenti mengharapkanku…

 By : R.Nindyasiwi

Advertisements