Ini sebuah mimpi panjang saya yang rasanya begitu nyata. Saya coba tuangkan dalam tulisan untuk sesekali saya baca dan menyadarkan saya ,berkali-kali, bahwa ini adalah kehidupan yang menunggu saya sesudah saya mati nanti, sekaligus mencoba mengingatkan saya bahwa hidup itu indah dan harus disyukuri sebelum segalanya menjadi terlambat

Suasananya begitu muram. Aku melihat bumi tanpa matahari, seperti suatu sore yang tiada akhir. Aku merasa sendirian, menikmati hidupku yang tiba-tiba terasa ringan. Ntah apa yang terangkat dari diri dan jiwaku,  aku melayang dalam kehampaan yang dalam meski menenangkan. Tapi aku masih sempat bertanya, kemana matahari ? Mengapa ia tak lagi bersinar dan aku tak pernah lagi melihat sinarnya yang hangat itu ? Kenapa tiba-tiba rasanya bumiku begitu nanar dan gelap ?

Di alam muram ini aku menonton sebuah group band sedang berlatih , bermusik dan merasa ikut terlibat di dalamnya. Mereka menyanyi, dan aku ikut menari. Pekerjaan yang mengasikkan dan cukup riang. Mereka tertawa ketika sesuatu yang lucu terjadi, dan aku ikut terpingkal-pingkal. Sungguh ceria dan aku sangat gembira bersama mereka meski semua tetap bermuara pada  hampa yang tiba-tiba menjadi satu-satunya rasa  paling mendominasi hati dan pikiranku. Lalu aku bosan dan memutuskan keluar ruangan.
Aku duduk di undak- undakkan tangga di luar ruang dan mulai menatap alam. Seperti biasa aku mempertanyakan suasana temaram tanpa matahari. Kemana matahari ya ? Rasanya ini siang hari, tapi kenapa suasananya begitu redup seperti dua jam kondisi alam setelah matahari terbenam di ufuk barat ?

Bosan duduk aku berjalan mendekati sebuah kerumunan orang. Mereka mengantri ntah untuk apa, dan aku merasa tertarik ikut di antrian itu. Aku sendiri tak tau orang-orang mengantri untuk apa ? Wajah-wajah mereka nampak kosong dan hampa. Aku sempat bertanya tanya; siapa mereka ini ? Rasanya semua memakai kemeja putih atau atasan putih . Antri apa yaaa ? Aku hanya merasa ingin ikut antrian tanpa tau tujuannya. Aku benar-benar tak tau tujuanku apa. Rasanya aku tak punya tujuan apa-apa. Hey ! Kenapa tiba-tiba tak ada lagi yang kupikirkan ? Tiba-tiba kepalaku rasanya kosong melompong padahal aku sedang tak malas berpikir . Ada yang aneh. Pertama aku merasa tak memiliki tujuan apapun lagi, hampa dan kosong. Kedua, aku merasa pikiranku tak ada lagi. Kemana hal-hal yang biasanya bersarang di kepalaku dan menjadi pemikiranku bertahun- tahun ? Hilang semua…lenyap.

Wow, tiba-tiba aku sudah berada di ujung antrian, lalu ? Sudah. Ternyata di ujung antrian tak ada apa-apa. Lalu untuk apa mengantri ya ? Apa yang diantri sih ? Tapi entahlah, benar-benar buang waktu rasanya, anehnya aku juga tak berlama lama memikirkannya, sudah kubilang aku tak punya hasrat berpikir lagi, aku merasa kosong. Rasanya ini kumpulan dari orang-orang aneh saja. Mereka saling berdesakan tapi mereka terlihat tak saling bertatap mata. Sepertinya mereka menjadi diri mereka sendiri, hidup dalam tubuh masing-masing dan terlalu malas untuk berinteraksi. Mereka terlihat sangat individual, dan sekali lagi, sangat kosong dan hampa. Tak peduli dengan sekelilingnya. Rasanya mereka tak beda jauh denganku. Akupun merasa sangat malas untuk sekedar menyapa atau bertanya pada mereka. Aneh. Biasanya aku begitu ingin tahu dan begitu suka bercakap-cakap. Tiba-tiba aku menjadi sangat merasa tak perlu apapun dan tak niat melakukan apapun. Tak ada hasrat lagi dalam hatiku. Kemana perginya ?  Bukankah biasanya aku begitu menggebu gebu sampai tak mampu memilahnya ?. Sekarang tak ada apa-apa yang tersisa di kepalaku . Aku memikirkannya tapi sekaligus tak memperdulikannya. Aneh, hal yang  jarang aku lakukan.

Tiba-tiba aku ditarik seseorang keluar dari kerumunan yang tak punya tujuan apapun itu.Entah siapa yang menarikku, aku malas memikirkannya,bahkan kalau ia mendorongku jatuh ke comberanpun rasanya aku tak lagi punya hasrat untuk marah atau menanyakan alasannya. Aku berjalan menjauhi kerumunan. Lagi-lagi aku melihat ke atas, mencoba mencari matahari, kemana dia ? Hanya langit kelam yang gelap. Senyumku mengambang ketika aku melihat beberapa temanku . Akhirnya , aku berdekatan dengan orang yang aku kenal. Dari tadi aku berkeliaran, tak ada satupun yang aku kenal. Sekarang ada yang bisa aku ajak bicara. Aku begitu senangnya melihat temanku, Dita, apalagi tiba-tiba dia menatap tepat di mataku. Sekian lama aku berada di sini, baru dia yang menatap tepat di mataku.Dia bukan teman dekatku , hanya teman saja tapi kami cukup punya banyak cerita berdua.

Aku tersenyum senang padanya dan dia balas senyumku “ Hai….apa kaabaar ?” sapanya dengan riang. Aku tersenyum. Rasanya ingin berkata kata, menyemburkan beribu kalimat kerinduan yang mendalam terhadapnya, bercerita tentang masa lalu dan terpingkal pingkal mentertawakan kelucuan-kelucuan yang pernah terjadi diantara kami. Teman-temanku yang lain aku pandangi dengan mataku saja. Mereka nampak asik melakukan sesuatu, bercerita dan bergurau, seperti tidak melihatku. Tapi aku sudah cukup senang dengan hanya memandang mereka dan menikmati keberadaan mereka. Lagi pula Dita melihatku tepat dimata, dan berbicara denganku. Cukuplah. Aku sudah cukup senang.

Aku melihat lagi ke arah langit , mencoba mencari cahaya matahari. Tak ada…..yang ada malah tetesan air yang jatuh tepat di mataku. Seperti air mata ia membasahi mataku dan mengalir turun ke pipiku. Dita tiba-tiba terkejut melihatku. Tampangnya sangat kaget, mulutnya ternganga lebar…dia mundur sekian langkah menjauhiku. Aku mengusap air yang turun seperti air mata di pipiku. Memandangi Dita masih dengan senyumku, tapi juga sekaligus keheranan karena Dita tiba-tiba mundur menjauhiku dan menatapku dengan pandangan curiga penuh ketakutan. Aku bertanya “ mengapa ?” tapi kagetnya aku karena suaraku tak pernah terdengar oleh telingaku. Mulutku tak lagi bisa kubuka. Bibirku diam mengatup rapat dan beku. Dita bicara mendesis..setengah berbisik “ kamu…kamu sudah mati ?” . Pertanyaan Dita membuatku  melihat tubuhku dari leher…kebawah..lalu kedua lenganku aku bentangkan…aku lihat kanan dan kiri lengan yang kubentang. Semua lengkap. Tubuhku lengkap rasanya tak ada yang salah. Sampai kemudian tanganku menyentuh lenganku..dingin seperti baru dikeluarkan dari kulkas. Kulitku juga aku lihat sangat pucat cenderung putih tak wajar. Aku mulai merasa tak enak karena kondisiku tak biasa. Dita makin jauh, menggigit kukunya dengan wajah ketakutan. Dan ketika ia akhirnya berlari meninggalkanku, aku tak mampu berkata apapun bahkan tak mampu merasa apapun juga. Aku hanya memikirkan satu hal yang dia sebutkan itu saja : aku sudah mati.

Terkejut. Itu perasaan yang sekarang merasukiku dan membuatku gemetar. Tapi pikiranku masih terlalu hampa untuk membahasnya. Hasrat keingintahuanku yang dulu rasanya full tiba-tiba menjadi zero…
Aku liat, teman-temanku yang lain berlarian mengikuti Dita dengan perasaan ingin tahu. Mereka mengacuhkanku. Aku hanya diam, lagi lagi dalam kehampaanku sendiri. Ya sudahlah, aku pikir, kalau memang harus tak berkawan, ya sudahlah. Namun perasaanku masih tertancap kuat pada omongan Dita tadi. Entah kenapa aku ingin menemui Dita dan bicara panjang lebar tentang omongannya tadi. Apa mungkin dia hanya main-main ?

Aku berdiri sendiri dalam kehampaanku. Sesekali aku pandangi tubuhku yang dingin dan pucat. Baju apa yang kupakai ini ? Aku bertanya, tapi aku tak memikirkannya. Sudah kubilang, otakku rasanya kosong. Tapi aku tau warnanya : putih. Aku tiba-tiba merasa tak ada lagi yang perlu aku pikirkan. Aku melihat kesekelilingku. Alam yang tanpa matahari ini begitu aneh . Sangat temaram, sangat sepi dan sangat kelam. Seperti hitam putih, tanpa warna warni kehidupan. Orang-orang yang seperti robot, berkeliaran tanpa tujuan dengan wajah-wajah hampa. Berkerumun ntah apa yang dikerumuni, mengantri ntah apa yang menjadi tujuan antriannya…bersentuhan tapi tak saling menyapa. Dimana aku ?

Aku berjalan kian kemari tak menentu arah dan tak bertujuan sampai tiba-tiba aku melihat Dita lagi di salah satu sudut alam ini. Dia sedang duduk menghadapi meja dengan beberapa makanan cepat saji di hadapannya. Aku berjalan mendekatinya dengan langkah perlahan dan ringan. Aku merasa begitu cepat sudah berdiri di hadapan Dita. Temanku itu tiba-tiba berkata kencang ketika matanya menatap mataku “ Kamu sudah mati!!! jangan ganggu aku. Jangan ikuti aku!!! PERGI!!!” Dita yang sebelumnya kukenal begitu baik dan santun tiba-tiba menjadi sangat histeris padaku ? Apa salahku ? Dia biasanya ramah padaku ? “ Dita…apa aku sudah mati ? Apa benar aku ini sudah mati” lagi2 aku bertanya. Tapi kali ini pertanyaanku hanya bisa keluar lewat tatapan mataku. Aku tak lagi mendengar suaraku sendiri dan mulutku tak lagi mau membuka untuk bicara!!!  Tapi aku yakin Dita bisa melihat keingintahuanku lewat tatapanku.
Dita menjerit sambil menangis “ IYA!!! KAMU SUDAH MATIIIIII..Jangan Ganggu AKU!!” lalu lagi-lagi dia pergi berlari cepat menjauhiku.

Orang-orang sangat banyak rasanya di sekelilingku, tapi aku merasa begitu sendiri dan sedih sepergian Dita. Betapa aku kesepian dan merana dan kelu dan bingung.  Aku menatap bangku yang tadi di duduki Dita. Bangku itu kosong, Dita sudah pergi. Tapi kali ini, omongannya membuatku bergetar. Aku sangat terkejut, bingung yang amat sangat , tak kuasa menerima kenyataan . Aku ada dalam  mimpi buruk  yang aku tak lagi bisa bangun. Mimpi yang abadi dan akan terus abadi.

Rasanya aku ingin menjerit dan menangis. Tapi tak ada lagi air mata…..perasaanku pilu dan sesalku menggunung. Sungguh aku tak mampu berpikir banyak kecuali merasa menyesal dan  terkejut yang amat sangat. Aku memandang ke atas, berharap ada air yang kembali jatuh membasahi mataku seperti sebelumnya lalu mengaliri pipiku membuatku seolah olah menangis, karena aku ternyata tak lagi bisa menangis. Tapi selama apapun aku menengadahkan wajahku, tak ada lagi air yang jatuh mengaliri pipiku. Aku rindu menangis ketika aku merasa sedih….tapi aku tak lagi bisa menangis.

Sejak kapan aku menjadi hanya sebuah arwah tanpa jasad ? Aku tak tau. Tiba-tiba aku tersadar bahwa aku berada dalam alam aneh yang ternyata alam para arwah. Benar aku telah mati, ntah karena apa aku juga tak tau dan rasanya tak lagi penting karena itu cuma sekedar ‘cerita’ untuk memisahkan ruh ku dari jasadku. Yang tersisa hanyalah rasa keterkejutan yang panjang dan mendalam serta penyesalan yang sangat besar yang aku sendiri rasanya tak sanggup memikulnya. Sesal yang membungkam senyum kelu yang membuatku tak lagi mampu merasa indah. Sesal yang membuatku makin hampa dan tersiksa batin. Kemana anak-anakku yang lucu-lucu itu ? Aku bahkan tak ingat mereka…aku hanya menyesali diriku. Kemana keluargaku ? Teman-teman baikku ? Semua ingatanku akan mereka, meski lemah,  menyatu dalam satu sesal raksasa.

Indahnya kehidupan ternyata tak hanya sekedar kata-kata. Keindahan berpikir, keindahan tantangan hidup, hasrat yang menggebu, segala keinginan, ternyata adalah sel-sel penting yang membuat warna kehidupan manusia. Memberi  nilai-nilai penting yang membuat warnanya membentang indah seperti pelangi. Tangis dan tawa, bahkan suara, tiba-tiba menjadi sesuatu yang sangat berarti. Di alam ini aku tak lagi memilikinya.

Keindahan-keindahan kehidupan itu yang rasanya dulu sangat sepele, bahkan terasa menyebalkan, di alam ini hal-hal itu adalah sebuah kerinduan mahal yang tak mungkin lagi bisa aku dapat. Mimpiku telah berakhir, hasrat ku telah usai, dan aku telah di kosongkan dari keindahan-keindahan kehidupan yg pernah mengisi hati dan jiwaku. Hampa adalah satu-satunya rasa yang tersisa, perjalananku telah berakhir. Dan disinilah sekarang aku dengan segala sesal dan keterkejutanku, berharap Tuhan akan mengirimku kembali pada kehidupanku yang penuh warna dan dinamika. Tapi harapan hanya tinggal harapan, dan aku terbelenggu sesal yang berkepanjangan, merasa tak memberi arti apa-apa akan kehidupanku yang lalu. Aku benar-benar merasa tak memberi arti apapun dan aku menyesal. Rasanya aku terlalu banyak protes sampai lupa menikmati hidupku. Terlambat…

Aku duduk sendiri di alamku yang baru dengan sesal tanpa batas. Menikmati kehampaan yang abadi , keindahan hidup yang hanya tinggal kenangan,  dan kerinduan pada umur hidupku sebagai siksaan tak berujung……..

Yasin:65
SAHIH INTERNATIONAL
That Day, We will seal over their mouths, and their hands will speak to Us, and their feet will testify about what they used to earn.

 

Advertisements