I never feel so sad yet so blessing like after listening to this story…

Translated into Indonesia ;

Ini adalah kisah nyata dan mengharukan tentang seorang pria bernama Rashed. Mari kita ikuti ceritanya…

 

” Umur saya belum 30 tahun ketika istri saya melahirkan anak pertama kami. Saya masih ingat malam itu… Saya semalaman diluar , hangout dengan kawan-kawan saya dan sudah menjadi kebiasaan saya. Malam itu penuh dengan obrolan yang tak penting. Saya ingat, saya membuat kawan-kawan saya tertawa terpingkal pingkal pada malam itu. Saya punya kemampuan luar biasa  menirukan gaya orang lain. Saya bisa merubah suara saya sampai mirip sekali dengan suara orang yang saya ejek. Tak seorangpun yang tidak saya ejek termasuk teman-teman saya sendiri. Beberapa orang mulai menghindari saya hanya supaya mereka selamat dari lidah saya.”

 

” Saya ingat pada malam itu saya mempermainkan orang buta yang saya lihat mengemis di sebuah pasar. Jeleknya lagi, saya membuatnya tersandung dengan kaki saya sampai dia terjatuh dan memutar kepalanya kesekitarnya tanpa tau harus berkata apa”

 

” Saya pulang larut ke rumah seperti biasa dan ternyata istri saya telah menunggu saya. Dia nampak tak menentu dan berkata dengan suara bergetar : Rashed..darimana saja kamu? . Saya menjawab dengan sinis : darimana lagi? dari Planet Mars ? Tentu saja dengan teman-teman saya. Dia kelihatan letih sekali dan menahan air mata, katanya lagi : Rashed, aku capek sekali. Sepertinya bayinya akan segera lahir. Air mata diam-diam  jatuh perlahan mengalir di pipinya. Saya merasa saya telah mengabaikan istri saya. Seharusnya saya menjaganya bukan malah pergi keluar rumah dengan kawan-kawan saya, terutama semenjak kandungannya menginjak usia 9 bulan.”

 

” Saya cepat-cepat membawanya ke rumah sakit. Dia dimasukkan ke ruangan bersalin dan menderita karena kesakitan  selama berjam-jam. Saya menunggunya dengan sabar karena dia akan melahirkan. Tapi proses kelahiran berlangsung sulit dan saya sudah menunggu lama sekali sampai akhirnya saya merasa capek. Jadi saya memutuskan pulang dan meninggalkan nomor telpon saya pada pihak rumah sakit sehingga mereka bisa memberikan saya kabar baik.”

 

” Akhirnya mereka menelpon saya dan mengucapkan selamat atas kelahiran Salem. Segera saat mereka bertemu dengan saya, mereka meminta saya menemui dokteryang telah membantu istri saya melahirkan. Dokter APA ?? saya berteriak kesal , Saya hanya ingin melihat anak saya Salem ! kata saya lagi. Temui dokter dulu Pak, kata mereka lagi. Saya pergi menemui dokter dan dia memulai pembicaraan dengan kesedihan. Saya sangat terpukul begitu tahu bahwa anak saya memiliki kelainan bentuk mata yang serius dan nampaknya dia tak bisa melihat. Saya ingat pengemis buta di pasar yang telah saya buat tersandung dan membuat orang lain mentertawakannya. SubhanAllah, kau dapatkan apa yang telah kau berikan !!!”

 

” Istri saya tidak sedih. Dia percaya pada keputusan Allah. Dia bahkan puas . Berapa kali dia menasehati saya untuk berhenti mempermalukan orang. Tidak, dia tidak menyebutnya sebagai mempermalukan orang, melainkan memfitnah orang, dan dia benar. ”

 

” Pada kenyataannya saya tidak begitu memperhatikan Salem. Saya bersikap seolah olah dia tidak sedang berada di rumah bersama kami. Jika dia mulai menangis keras, saya pindah tidur ke ruang tamu. Istri saya merawat dan sangat mencintainya. Saya sendiri, saya tidak membencinya tapi juga saya tak bisa mencintainya.”

 

” Istri saya bersuka cita ketika Salem mulai merangkak. Dan ketika dia hampir berusia dua tahun, dia mulai mencoba berjalan dan kami akhirnya tahu bahwa dia (juga) pincang. Semakin saya menjauhi Salem, Semakin istri saya mencintai dan memperhatikannya. Bahkan setelah kelahiran Umar dan Khalid.”

 

” Tahun-tahun berlalu …. dengan kelompok kawan-kawan saya, saya mainan buangan mereka ( menghibur mereka kapan saja mereka inginkan), nyatanya saya berpikir sebaliknya. Istri saya tak pernah berhenti berharap saya berubah. Dia selalu mendoakan saya supaya saya diberi petunjuk. Dia tak pernah marah dengan sikap saya yang ugal-ugalan. Tapi dia akan menjadi sangat sedih jika melihat saya tak peduli pada Salem dan malah memperhatikan adik-adiknya.”

 

” Salem tumbuh. Saya tidak keberatan ketika istri saya meminta saya memasukkan Salem ke sekolah khusus orang cacat. Saya benar-benar tak merasakan berlalunya tahun demi tahun. Hari-hari saya terasa sama saja dari waktu ke waktu. Kerja, tidur, makan, hangout dengan kawan-kawan. Sampai suatu hari ……

 

Jumat itu saya bangun jam 11. Buat saya ini juga kecepetan. Saya diundang ke sebuah pertemuan, jadi saya merapikan diri, memakai parfum dan bersiap-siap pergi. Ketika saya berjalan melintas, saya terkejut melihat Salem. Dia terisak-isak. Ini adalah kali pertama saya melihat Salem menangis semenjak dia masih bayi. Haruskan saya pergi atau mencari tahu apa yang tengah mengganggunya ? Saya pikir Tidak, bagaimana mungkin saya meninggalkan dia dalam keadaan seperti ini ?”

 

” Salem, Kenapa kamu menangis ?, saya bertanya. Ketika ia mendengar suara saya dia berhenti menangis. Dia mulai mencoba merasakan sekitarnya. Ada apa dengan anak ini , begitu pikir saya. Saya baru faham bahwa dia ternyata sedang berusaha menjauhi saya. Seolah olah dia berkata : sekarang kamu memutuskan untuk memperhatikan saya ? kemana saja kamu selama 10 tahun ?. Saya mengikutinya. Dia pergi ke kamarnya. Awalnya dia menolak mengatakan pada saya kenapa dia menangis. Saya mencoba memperlakukannya dengan lemah lembut. Akhirnya Saya tahu ada apa sebenarnya. Adiknya Umar, yang biasanya mengantarnya ke masjid terlambat datang. Dan karena ini sholat Jumat Salem kuatir dia tidak bisa menemukan tempat di barisan pertama. Salem sudah memanggil ibunya tapi tak ada jawaban. Saya meletakkan tangan saya ke mulut Salem seolah bertanya: inikah penyebab mengapa kamu menangis Salem ?”

 

” Kemudian saya menangis. Ooh Salem… Saya tak tahu apa yang menyebabkan saya mengatakan ini padanya : Salem, jangan sedih ya .. kamu tahu siapa yang akan mengantarkanmu ke masjid hari ini ? . Tentu saja Umar, jawab Salem. Andai saja saya tau kemana dia pergi . katanya lagi. Saya bilang : tidak Salem, akulah yang akan mengantarkanmu ke sana. Salem nampak kaget, dia terlihat tak percaya. Dia pikir saya sedang menggodanya. Air matanya keluar dan dia mulai menangis lagi. Saya menghapus air matanya dengan tangan saya dan menggenggam tangannya. ”

 

” Saya bermaksud mengantarnya dengan mobil, tapi Salem menolak dan berkata : Ayah, mesjidnya dekat. Saya ingin berjalan kaki ke sana karena setiap langkah saya dihitung sebagai ibadah. ”

 

” Saya tak ingat lagi kapan terakhir kali saya ke mesjid dan kapan terakhir kali saya bersujud. Saat itu adalah pertama kali saya merasakan penyesalan dan ketakutan. Penyesalan terhadap keteledoran saya selama bertahun-tahun yang telah lalu. Mesjid penuh dengan jamaah, tapi saya masih menemukan tempat untuk Salem di baris pertama. Kami mendengarkan ceramah jumat bersama sama dan Saya sholat di sebelahnya. Sesudah sholat Salem meminta Quran. Saya Kaget. Gimana mungkin dia bisa baca Quran jika dia  buta ? Saya hampir tak menghiraukan permintaannya, tapi saya memutuskan untuk bercanda tanpa melukai hatinya. Dia meminta saya membuka Quran surah Al-Kahf. Saya lakukan apa yang dia minta dan dia mengambil Quran itu dari saya, meletakkannya di hadapannya dan mulai membaca surah. Ya Allah, dia mengingat seluruh isi surah!!! Saya malu pada diri saya sendiri. Saya mengambil Quran itu merasakan tubuh saya bergetar… saya baca dan baca. Saya memohon pada Allah untuk mengampuni saya dan memberi saya petunjuk. Kali ini sayalah yang menangis. Saya menangis dengan kesedihan dan penyesalan terhadap apa yang telah saya sia-siakan. Satu-satunya yang saya rasakan adalah tangan kecil yang mencoba mencapai wajah saya dan mengusap air mata saya. Dia adalah Salem, mengusap air mata saya !!”

 

” Kami lalu pulang. Istri saya sangat mengkuatirkan Salem, tapi kecemasannya berganti tangis bahagia ketika dia melihat saya sholat Jumat dengan Salem. Sejak saat itu, saya tak pernah melewatkan sholat berjemaah di mesjid. Saya meninggalkan temen-teman ‘buruk’ saya dan saya mencari teman-teman yang benar diantara orang-orang yang saya temui di mesjid. Saya merasakan manisnya iman bersama mereka. Saya mempelajari banyak hal dari mereka yang menjauhkan saya dari kepentingan duniawi. Saya tak pernah meninggalkan i’tikab di mesjid, zikir, atau sholat witir. Saya membaca Quran beberapa kali dalam sebulan. Dan saya adalah orang yang sama yang telah meninggalkan Quran selama bertahun tahun. Saya membasahi lidah saya dengan mengingat Allah (zikir) berharap Dia akan mengampuni sikap saya selama ini (mempermalukan, mengejek dan memfitah orang )”

 

” Saya merasa lebih dekat dengan keluarga saya. Pandangan takut dan rasa kasihan yang ada di mata istri saya menghilang sudah. Senyuman sekarang tak pernah lepas dari wajah Salem anak saya. Setiap orang yang melihatnya akan merasa bahwa salem memiliki dunia dan seluruh isinya. Saya bersyukur pada Allah atas segala rahmatNya. ”

 

” Pada suatu hari, temen saya (yang benar) memutuskan mengadakan perjalanan dakwah. Saya sangat tertarik untuk ikut serta. Saya sholat istikharah dan berkonsultasi dengan istri saya. Tadinya saya pikir dia akan menolak, tapi yang terjadi malah sebaliknya! Dia sangat senang dan bahkan mendukung saya. Saya pergi ke Salem dan bilang padanya bahwa saya akan mengadakan perjalanan dakwah. Dia memeluk  saya dengan lengan2nya yang kecil dan jika saja dia bisa dia akan mencium dahi saya.”

 

” Sesudah itu saya percayakan semuanya pada Allah, memulai semua proses dan alhamdulillah berjalan lancar. Saya jauh dari rumah selama 3.5 bulan. Selama itu setiap kali ada kesempatan  saya akan menelpon istri saya dan bicara dengan anak-anak. Saya sangat merindukan mereka dan oh betapa saya merindukan Salem. Ingin sekali saya mendengarkan suaranya, dia satu-satunya yang belum bicara dengan saya sejak saya pergi. Tiap kali saya menelpon dia selalu sedang di sekolah atau di mesjid. Tiap kali saya telpon istri saya, saya selalu memintanya untuk titip peluk cium dan salam buat Salem. Istri saya akan tertawa bahagia, senang dan gembira kecuali saat terakhir saya menelponnya. Saya tak mendengar suara tawanya seperti yang saya harapkan. Suaranya berubah. Saya bilang padanya : sampaikan salamku untuk Salem. Dan dia menjawab singkat : InsyaAllah.

 

” Akhirnya saya pulang. Saya mengetuk pintu. Saya sangat berharap bahwa Salemlah yang akan membukakan pintu untuk saya. Tapi saya kaget karena Khalid, anak saya yang berumur kurang dari 4 tahun,  yang membuka pintu. Saya mengangkatnya dan menggendongnya sementara dia berteriak-teriak senang: baba! baba! Saya tak mengerti kenapa hati saya menjadi tegang ketika saya memasuki rumah. Saya meminta perlindungan Allah dari setan yang terkutuk. Saya mendatangi istri saya, ada sesuatu yang telah berubah. Saya mengamati dia dari dekat dan melihat kembali tatapan kesedihan yang pernah melekat diwajahnya bertahun tahun lalu. ”

 

” Apa yang mengganggumu ? . Tak ada, jawabnya. Tiba-tiba saya ingat Salem. : mana Salem ? tanya saya. Istri saya menunduk. Dia tak menjawab. Pada saat itu saya hanya mendengar suara Khalid, suara yang sampai sekarang masih terngiang di telinga saya; katanya: Baba, Salem pergi ke Surga dengan Allah. Istri saya tak kuat lagi, tangisnya pecah dan dia meninggalkan ruangan. Belakangan saya tahu bahwa Salem terserang deman 2 minggu sebelum saya kembali. Istri saya membawanya ke rumah sakit. Demamnya semakin hari semakin bertambah parah dan tak pernah meninggalkan tubuhnya sampai jiwanya pergi dari raganya. ”

 

” Saya merasa bahwa apa yang terjadi adalah cobaan dan ujian dari Allah SWT. Saya masih merasakan bagaimana tangan kecilnya menghapus airmata saya dan lengan-lengan kecilnya memeluk saya. Betapa besar kesedihan saya terhadap Salem, anak yang buta dan pincang….Dia tidak buta!!! tapi sayalah yang buta!! .. ketika saya berteman dengan kawan-kawan yang malang dan rusak !! Salem juga tidak pincang atau cacat karena dia mampu berdiri di jalan yang benar !! Saya masih ingat apa yang sering dia ucapkan ” Bahwa sesungguhnya Allah memiliki rasa balas kasihan yang tak terbatas “. Salem, anak yang saya cintai dan pernah saya jauhi; sekarang baru saya sadari bahwa saya jauh lebih mencintainya daripada adik-adiknya. Saya menangis sejadi jadinya… dan saya masih sedih sampai saat ini. Bagaimana saya tak sedih ? petunjuk yang saya dapatkan datang melalui tangan Salem. Bagaimana saya tidak sedih ?”

 

” Ya Allah, terimalah Salem dengan kasih Mu ”