Suatu ketika ada seorang suami yang berkata kepada istrinya : ” Hey… rejekimu asalnya dari Allah, bukan dari aku. Kalau kau ingin dompetmu berisi uang, maka carilah sendiri diluar sana. Bukan minta padaku. Mintalah pada Allah dengan usahamu sendiri. ”

Istrinya diam. Lalu sang suami menyambung lagi ‘dakwah’ nya dengan gaya pongah ; ” Enak sekali ya jadi istri itu ? kerjanya di rumah saja, diam saja lalu terima-terima uang begitu saja dari suami . Wew… semua orang mau seperti itu. Diam di rumah, malas-malasan di rumah, lalu dapat uang… hahahaha.. bangun dari mimpimu wanita!! dunia ini tidak diciptakan seindah itu untukmu! Kau harus usaha sendiri !!! ”

Lagi-lagi istrinya hanya diam. Kemarahan yang membara dalam hati adalah kunci-kunci setan untuk membuat suasana semakin tak menentu. Dia memilih sabar. Menenangkan diri dari nestapa yang tiba-tiba menyelimuti hati dan pikiran. Ntah bagaimana caranya supaya kepongahan suaminya itu bisa mendapatkan ganjaran yang setimpal.

Ia hanya tahu bahwa suami berkewajiban menghidupi keluarganya, sedekah yang paling mulia dari seorang suami adalah sedekahnya terhadap istrinya…. disusul terhadap keluarganya. Kalau ia ingin istrinya menjadi pakaian bagi dirinya sendiri, itu tidak saja berarti ahlak sang istri yang harus di jaga, tapi juga dia harus mampu men’support’ istrinya secara financial supaya bisa tampil elegant dan dermawan dimata orang lain. Bukankah dengan demikian suami juga yang mendapat nama baik ? tidak malukah suami melihat istrinya tampil seperti gembel , tak berduit, dan selalu dibayarin orang ?

Sampai suatu ketika sang suami dengan mesra mengajak istrinya ‘masuk kamar’ untuk menjalankan ‘ibadah’ suami-istri. Istrinya berkata : ” kenikmatan apa yang kau inginkan ? kenapa tak kau mohonkan saja pada Allah supaya Dia menurunkan kenikmatan terhadapmu tanpa melalui aku ? Jangan minta padaku, karena aku tak suka memberikannya padamu. Minta saja pada Allah, minta Dia menggerakkan hatiku dan perasaanku supaya aku mau memberikan kenikmatan yang kau inginkan itu. Atau kau usaha sendiri diluar sana ”

” Tapi kau istriku!! kewajibanmu adalah melayaniku !!”. Pekik sang suami histeris. Istrinya masih dengan tenang berkata; ” Dan kau suamiku, kewajibanmu adalah memenuhi seluruh kebutuhanku. Kau pikir hanya kau yang punya kebutuhan ? kalau kau suruh aku mencari kebutuhanku sendiri diluar sana…. maka carilah kebutuhanmu sendiri diluar sana. Begitulah harusnya urusan suami istri menurut teorimu kan ? Bangun dari mimpimu ! dunia ini tak diciptakan semudah itu untukmu, kau harus berusaha sendiri” …. istrinya membalik perkataan sang suami yang dulu pernah dilemparkan padanya. Lalu berlalu.

Apa jadinya sebuah rumah tangga dengan pola pikir salah seperti kasus suami-istri diatas ? Ketika masing-masing pihak mencoba menagih hak nya dan mengingkari kewajibannya ?

Itu sebabnya agama meminta kita untuk mengejar ilmu.. bukan saja ilmu duniawi tapi juga ilmu religi. Pikiran suami seperti contoh di atas adalah pikiran orang-orang yang ilmu agamanya sangat rendah. Orang-orang yang merasa pintar justru biasanya adalah orang-orang yang tak tahu ilmu-ilmu kehidupan. Naudzubilla min zalik….. semoga Allah senantiasa memberi petunjuk pada orang-orang yang selalu merasa benar di jalan yang salah…..

 

Advertisements