Jakarta sedang panas-panasnya ketika saya mendapati dua anak laki-laki kembar saya sedang asik membongkar mainan pvp nya dengan obeng kecil milik mereka. Jadi ketika saya memergoki mereka melakukannya, rasanya jadi super doble kesal.

Perasaan pertama yang melintas dikepala saya adalah marah bukan main dan ingin meneriaki mereka sampai mereka terloncat ke langit-langit kamar. Betapa tidak, mainan itu mereka beli dari tabungan mereka sendiri yang mereka kumpulkan sedikit demi sedikit. Buat saya, harga mainan itu terbilang mahal untuk anak seusia mereka yang uang jajannya saja cuma berapa ribu rupiah sehari. Saya juga ingat betapa mereka memimpikan mainan itu sampai berhari-hari dan sempat menjadi semangat hidup mereka. Sekarang ???? mainan itu terbelah dua.. dan skrup  kecil dimana-mana.

Saya hanya terbayang bagaimana gembiranya mereka ketika memainkan alat itu disepanjang perjalanan Jakarta-Jawa Timur, bagaimana mereka membunuh kebosanan mereka dengan memainkan alat itu dimanapun mereka berada, membayangkan juga bahwa mereka bisa menyambungkan alat itu ke televisi dan memainkannya dengan layar lebar, membayangkan lagi bahwa ada beratus-ratus jenis game yang bisa mereka mainkan dari alat itu. Sekarang alat itu , saya lihat, tinggal rongsokan komponen di tangan mereka!!!!

Saya berjalan ke dapur mencoba menenangkan diri dengan memasukkan segelas air dingin melewati kerongkongan kering saya. Mencoba menghibur diri sendiri sebelum membiarkan setan berhasil meledakkan amarah saya kepada dua bocah yang sedang asik memutar-mutar obeng di kamarnya.

Katanya kalau belum pernah membongkar sesuatu, seorang anak laki-laki belum sah menjadi laki-laki. Oke!!!. Katanya lagi rasa keingintahuan seorang anak itu bagus kalau mendapat penyaluran, okeee…okeeee. Katanya membongkar sesuatu meskipun tidak menjamin bisa memasang kembali dengan benar adalah suatu proses kreatifitas yang tiada harganya, fine !! Katanya hampir 99% anak laki-laki melewati proses membongkar tak bisa memasang ini, yea rite ! Katanya kemudian, melalui proses bongkar (tak bisa memasang) ini mereka melatih daya pikirannya, rasa ingin tahunya terfasilitasi, dan melatih kerja motorik halusnya, ya..ya…baiklah.

Akhirnya saya meletakkan gelas yang telah kosong dan yang tanpa sadar sudah saya genggam dengan sangat kuat sekali dan untung tidak pecah. Saya berdiri di depan pintu kamar mereka dan … begitulah…. saya mengomeli mereka panjang lebar tanpa senyum dan mencurahkan seluruh unek-unek saya tentang betapa saya jengkel melihat ulah mereka ini. Saya tidak marah, saya hanya mengomel, dan mereka juga ‘hanya’ melirik saya sedikit kemudian asik membuka-buka skrup lagi.

Saya memutuskan untuk berhenti mengomel setelah sadar bahwa mereka hanya melihat mulut saya mencuap-cuap  seperti mulut ikan mas koki di aquarium dan omelan saya hanya terdengar sebagai ; bla bla bla bla bla bla bla bla….

Sebagai ibu saya hanya bisa berdoa, semoga aksi bongkar pasang mainan mahal ini bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat di masa depan mereka. Meskipun banyak orang yang dari kecil hobinya membongkar sesuatu dan tak bisa merakitnya kembali, padahal maksudnya ingin membetulkan yang rusak, lalu setelah mereka dewasa dan berilmu mereka tetap hanya bisa membongkar dan masih tetap tak bisa membetulkan kembali, saya berdoa semoga anak-anak kembar saya itu tidak termasuk yang hanya bisa membongkar dan rusak , tapi sebaliknya ; bisa membetulkan yang rusak .

Huffft….semoga mainan yang hari ini mereka bongkar habis dan rusak itu , bisa menjadi investasi berharga untuk masa depan mereka yang jauuuuuh lebih baik. Aamiin……

Image