Aku mungkin tahu sebabnya mengapa atau tujuannya apa. Tapi mungkin tak semuanya juga aku tahu karena aku bukan Tuhan.

Salah satu yang aku tahu adalah Tuhan menciptakanku sebagai perempuan yang suka membuat kue. Dan ketika kaca ovenku pecah berantakan karena kesalahanku sendiri meskipun atas ketidaktahuanku, rasanya aku mengerti apa yang ingin Dia sampaikan padaku.

Meskipun aku sadar makna apa yang ada dibalik tak berfungsinya oven kesayanganku itu, dan aku mencoba menerima keputusanNya, aku tetap manusia yang , lagi-lagi, telah Dia bekali dengan rasa sedih, sesal, kesal bahkan marah. Untuk apa ? untuk membumbui kesabaranku atau sekedar membuatku kapok dengan semua kenakalanku. Sigh….

Kejadian ini membuatku membaca sesuatu; bahwa kesabaran itu sebetulnya menuntun kita pada keselamatan dunia akhirat. Orang yang biasanya tak sabaran, banyak menyesal kemudian, banyak sekali. Dan menyesal itu sesuatu yang merusak jiwa jika kita susah melupakannya. Sigh….

Lupa itu memiliki dua sisi sama tajam yang juga sama-sama berpotensi melukai, lupa pada kesalahan orang lain tapi juga lupa pada kesalahan sendiri sehingga kejadian bodoh bisa berulang berkali-kali. Lupa pada masa lalu dan terus maju, tapi juga lupa pada ilmu yang sudah dimiliki. Lupa pada menjelekkan orang lain tapi juga bisa lupa pada kejelekan sendiri…..

Semua telah ter-eksekusi dalam waktuNya, dengan berbagai sebab dan akibat yang hanya Dia yang tahu. Aku hanya bisa menikmati sedihnya dalam sebuah perenungan lama…..