Saya ini termasuk penikmat kopi. Saya kurang ingat sejak kapan, tapi kemungkinan besar sejak saya SMA. Masa-masa dimana saya akan menghadapi ujian, dan saya harus lembur belajar. Teman-teman bilang kopi hitam dengan sedikit garam bisa mencekal mata saya dari kantuk dan membantu membuat melotot selama beberapa saat. Memang sepertinya kopi benar-benar bisa membantu, paling tidak mata saya kembali nge-jreng disaat-saat saya tak kuat lagi mengangkat kelopak mata saya sendiri.

Kebiasaan ngopi kemudian berlangsung ketika saya mulai mengantor. Dari pagi hari ketika meneliti jadwal pekerjaan sampai siang hari ketika tugas mulai menumpuk dan malam hari saat lemburan karena dikejar-kejar deadline menjadi alasan saya menyeduh kopi di dapur kantor. Lagi-lagi keberadaan secangkir kopi panas memang rasanya cukup membantu stamina tubuh dalam menghadapi kerjaan dengan segudang masalahnya.

Kata orang kafein itu membuat ‘ketagihan’, mungkin benar. Kata orang lagi kebanyakan minum kopi itu tak baik, hmmm itu juga mungkin benar. Tetapi ada juga yang membeberkan banyak sekali manfaat minum kopi, well… itu juga bisa jadi benar semua. Masalahnya saya tak begitu peduli dengan berbagai tanggapan tentang kopi. Terserah orang mau bicara apa soal kopi, buat saya tak ada pengaruhnya sama sekali.

Saya menikmati kopi dari aroma dan rasanya, dan kalau bisa, kopi selalu saya habiskan sebelum menjadi dingin. Karena menikmati kopi dingin buat saya kurang asik. Kopi itu pantesnya dinikmati panas-panas. Ketika asap nya masih mengepul menebarkan lezatnya aroma kopi , lalu hidung dan lidah sebagai indra penikmat rasa bisa berkolaborasi melahirkan sensasi nikmatnya. Kalau sudah begitu tak ada yang bisa bicara sesuatu yang lebih indah lagi, karena dunia tiba-tiba menjadi sangat indah…..

Itu sebabnya ketika saya menyedu kopi panas, saya selalu membawa cangkir kopi saya kemanapun saya pergi karena saya tak suka menyeruput kopi panas yang sudah dingin. Bahkan ketika saya harus menjemur baju di atap pun saya akan naik tangga dengan secangkir kopi panas di tangan kiri dan seember cucian basah di tangan kanan. Sesulit apapaun ‘pendakian’ saya, saya tak sudi meninggalkan kopi panas saya dan mendahulukan hal lain. Begitu juga kalau tiba-tiba tukang sayur lewat di depan rumah; saya akan belanja sambil merem melek menyeruput kopi saya sementara si abang sayur sibuk menawarkan dagangannya. Tidak heran kalau cangkir kopi bisa bertebaran dimana-mana termasuk di pintu gerbang rumah, di atap jemuran, atau di kolong mobil :P. Sebagai ibu, saya tak pernah pelit berbagi dengan anak-anak saya, tapi kalau urusan kopi panas tak ada yang boleh mengganggu milik ibu!!!! ;P

Pembantu saya bilang, kalau saya terlalu banyak kopi saya bisa jantungan lalu cepat mati. Saya bilang padanya, saya mungkin akan mati lebih cepat kalau tidak boleh ngopi 😀

Advertisements