Saya begitu nelongso melihat anak kecil yang lucu tapi terkoyak kaki dan kepalanya, bajunya berwarna merah karena darahnya dan menangis pilu kesakitan dan sedih. Saya begitu tak kuasa dan tak tega melihat mayat-mayat bertubuh kecil bergelimpangan dan berserakan seolah tak ada harganya, sementara anak-anak saya sendiri bercanda dengan riang gembira sambil bermain-main, dan anak-anak di bumi belahan lain berkesempatan menikmati masa kecilnya dengan suka cita .

Kesedihan saya sebagai seorang manusia, wanita dan seorang ibu berubah menjadi angkara ketika tahu bahwa anak-anak malang itu diserang dengan sangat tidak adil oleh orang-orang berwajah manusia tapi berhati setan dan berjiwa iblis laknatullah. Kemarahan yang tak berujung karena saya tak bisa lakukan apapun untuk merengkuh anak-anak malang itu dari kejamnya setan-setan zionis.

Saya semakin tak kuasa karena cerita tentang pertikaian Timur Tengah ini sudah tertulis rapi di kitab suci Al Qur’an. Telah diriwayatkan dan telah menjadi suratanNya. Tinta pena telah kering, dan para syuhada itu, termasuk anak-anak kecil yang mati bersimbah darah di tanah sengketa, bumi para nabi, adalah manusia-manusia pilihanNYA.; termasuk juga para zionis laknatullah itu…..

Wajah Palestina yang gulita berlumur debu hitam, menambatkan saya pada kesedihan yang dalam. Tapi Allah tak pernah diam ( “semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta pada-NYA. Setiap waktu Dia dalam kesibukan” QS : Ar-Rahman:29), saya yakin Dia mendengar permohonan umatNYA. Sang Pencipta telah menentukan segala sesuatunya dan takdir telah bicara; Dia Yang Maha Mengambil, Maha Pemberi, Maha Pengekang lagi Maha Lapang ( “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-NYA dan merekalah yang akan ditanyai”, QS. Al-Anbiya:23)

Tinta pena telah mengering bersamaan dengan semua hal yang akan saya jumpai. Saya tak akan sanggup melakukan segala upaya untuk menahan tembok yang harus runtuh, membendung air yang harus meluap, menahan angin yang harus bertiup atau menahan kaca yang harus pecah. Tak benar bila semua itu bisa terjadi atas paksaan saya atau paksaan siapapun manusia di muka bumi ini. Saya percaya bahwa setiap ketentuan akan berjalan dan semua keputusanNYA akan terlaksana.

Saya yakin Allah Yang Maha Besar dan Maha Esa ada bersama para syuhada disaat semua ketentuan dan keputusanNya di eksekusi. Saya mencoba tak terpaku pada waktu yang terbatas dan kondisi yang kelam yang menjadi dinding penghalang dari pandangan yang sebenarnya dibalik tabir-tabir duka itu.

Kesedihan menuntun saya ke sisi terang sebuah musibah…hakekat doa dan pendalaman iman. Melihat yang mati sebagai syuhada menjadi tamparan keras buat saya sendiri tentang arti syukur dan kurangnya rasa sabar saya selama ini. Bagaimanapun saya juga terpilih sebagai yang dilahirkan di tengah mutiara katulistiwa dengan keindahan dan kedamaian negerinya, dengan kesuburan dan kekayaan alamnya dan dengan segala fasilitas yang memudahkan saya beribadah padaNYA… mengapa saya masih menjadi pendosa ? tidak malukah saya mengeluh sementara para syuhada hampir setiap detik melafazkan namaNYA dengan keiklasan dan kepasrahan yang sangat tinggi karena nyawa tiba-tiba menjadi sependek detik ?

Sungguh melenakan kehidupan tenang ini….dan Gaza telah membangunkan saya dari mimpi panjang yang ternyata semu. Kesedihan telah mendekatkan saya pada doa…

Dengan kenyamanan hidup yang telah dipilihkan untuk kita dan setelah melihat saudara seiman yang hidup tak layak di tanah Palestina, kita pantas bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu, bacaan Qur’an yang sarat tadabbur. dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan akhlak, kerelaan dengan semua yang telah Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta berbuat baik terhadap sesama.

Bagaimanapun saya di Indonesia dan para saudara seiman di Palestina sama-sama bersiap-siap untuk sebuah perjalanan menuju alam keabadian. Saya harus ridha dengan keadaan ini. Ridha terhadap qadha yang menyakitkan dan memberatkan karena seorang hamba tidak berhak mengatur qadha dan qadhar Allah, dengan menerima yang ia mau dan tidak menerima yang ia tak mau. Pada dasarnya manusia tidak diberi hak untuk memilih: hak itu mutlak wewenang Allah, sebab Dia lebih mengetahui, lebih bijaksana, lebih agung dan lebih tinggi. Karena hanya Allah yang mengetahui alam ghaib, segala rahasia dan akibat dari segala hal.

Semoga kita semua dijauhkan dari tabiat untuk mengingkari, membangkang dan meremehkan nikmatNYA. Mari bercermin pada situasi di Timur Tengah sehingga kita dekat dengan rasa syukur, doa dan ibadah yang lebih sempurna.

Semoga Allah SWT selalu bersama para pejuang Palestina dan penduduknya serta para syuhada, semoga keridhaan hati selalu menyertai mereka dan mengangkat mereka pada derajat iman yang paling tinggi, semoga mereka mampu menaklukkan urusan duniawi untuk mencapai kesempurnaan ubudiyahnya sehingga mendekatkan mereka pada Sang Rabb. Aamiin….