Maafkan saya kalau saya tak begitu suka mendengarkan ‘dakwah’ para ustad2 Indonesia. Bukannya saya tak bersikap nasionalis, bisa jadi karena saya belum menemukan yang bisa mengetuk keimanan saya, atau memang para pendakwah yang ‘kelas kaliber’ Indonesia lebih memilih diam dan menyufi dalam kedamaiannya sendiri , menolak publikasi. Dan hanya orang-orang yang beruntung yang bisa berguru pada beliau.

Maafkan saya, karena ini hanya pendapat saya dari perasaan-perasaan saya sendiri; Mendengar dakwah dari negeri sendiri, mengapa saya seperti merasa ‘dihujat?’ Mengapa saya seperti melihat bahwa Allah itu adalah Tuhan Yang Maha Kejam ? Mengapa saya melihat Islam sebagai agama yang sulit dan banyak sekali peraturan yang berat-berat ? Mengapa saya yang sudah merasa sebagai pendosa adalah sekaligus saya yang terpilih menghuni neraka karena tak termaafkan sebab begitu murkanya Allah? Mengapa saya merasa Allah jauh dari namaNya Sang Maha Pengampun? Mengapa saya merasa saya tak punya harapan lagi?

Dan begitulah, mendengar dakwah mereka saya semakin menjadi seorang pecundang. Sama sekali tidak membuat saya berbesar hati tapi lebih kepada putus asa. Saya merasa ditakuti, dikejar beban, tak disayangi, tak berharga dan hina seperti setan. Apa yang salah dengan mereka? kenapa yang lain bisa menjadi pengikut mereka? berjuta umat….dan saya tidak ?

Mungkin karena saya memang ‘kelak’ tidak ditakdirkan menjadi pengikut pendakwah dengan bahasa ibu, saya ditakdirkan belajar di Sekolah Tinggi Bahasa Asing dengan jurusan spesifik: bahasa Inggris. Mungkin salah satu tujuannya adalah supaya saya bisa terbuka keimanannya melalui pendakwah-pendakwah berbahasa Inggris; dan memang begitulah yang terjadi…

Ketika niat pencarian saya yang besar menemukan muara yang tepat, ketukan pada pintu hati saya mendapatkan jawaban. Pintu-pintu itu terbuka lebar dan kesegaran udara menyeruak masuk…. menerobos bagai sepasukan tentara bersayap yang siap membersihkan noda dan kotoran yang mengarat di dalamnya, yang telah lama terkunci dalam ketidaktahuan, kemarahan dan kebisuan.

Dari mereka saya merasakan kehangatanNya, kedamaianNya dan rahmatNya yang tak pernah putus sebesar apapun saya melakukan kesalahan. Mereka pulalah yang menumbuhkan harapan tentang pengampunan yang luar biasa yang bahkan tak pernah mampu dilukis oleh kata-kata manusia manapun. Sebagai pendosa saya merasa tetap mahluk tertinggi seperti tujuan awal penciptaan Manusia. Mereka tak menakuti… mereka mengajak pada kebaikan, pada taubat yang berulang dan mereka menghibur dangan ke Maha-anNya yang tak bisa saya nilai dengan pikiran dan otak manusia saya karena saya tak akan mampu… karena saya tak akan pernah mencapai kedudukan rahmatNya. Dan binar-binar harapan itu menggerus habis rasa putus asa yang menghalangi saya dari ikhtiar.

Dan saya lebih memilih berguru pada kuliah-kuliah on line mereka dari pada harus mendengarkan ceramah-ceramah lokal yang mematikan hasrat ketauhidan saya. Bukan saya meremehkan para pendakwah lokalis ini … bukan… saya mungkin tidak ‘berjodoh’ dengan mereka. Kuping dan hati saya mungkin di setting untuk ‘clear’ , tanpa sedikitpun buffering, melalui channel yang lain. Dan buat saya, itu sah-sah saja.

Saya menjadi tak heran melihat banyak sesama muslim yang kemudian “meniru niru” gaya dakwahan para pendakwah lokal ini. Membuat pernyataan2 yang menakuti dan lebih memblow up neraka dari pada surga, lebih mengangkat Maha MurkaNya Dia daripada Maha RahimNya….. dan ini menyebalkan. Tak tahukah mereka, untuk orang-orang seperti saya, yang mereka lakukan itu justru mematikan keimanan saya ? tahukah mereka bahwa menakut-nakuti orang seperti saya justru bisa semakin tambah menjerumuskan saya? Mereka sama sekali tak memberi jalan keluar untuk pendosa-pendosa seperti saya, tapi lebih kepada menilai , menghukum dan tiada ampun sama sekali, sehingga tak salah kalau kadang saya merasa lebih baik menjadi setan sekalian.

Saya pikir ‘berdakwah’ itu bukan pekerjaan mudah. Sedikit saja mereka salah dalam penyampaian, orang-orang seperti saya akan semakin tenggelam dalam rasa salah dan tergelincir para rasa putus asa. Mereka tak hanya mematikan keimanan, tapi juga sama sekali tak memberi harapan dari 99 nama besarNya dengan segala ke-Maha-anNya

Saya sering mencoba memaksa diri mendengarkan ceramah agama di televisi, dan saya tak terketuk sama sekali. Sebaliknya saya bisa nangis bombay kalau para pendakwah seperti Ustad Noman Ali Khan , atau Syeikh K.Yasin atau Syeikh Yususf Estates berbicara. Saya merasa dilucuti, di sabit cemeti, tapi sekaligus diangkat dan disucikan sehingga begitu terharunya saya pada kemuliaanNya dan segala kebesaranNya.

Apapun medianya, tak ada yang buruk tak ada yang lebih baik. Buat saya, ini hanya semacam penilaian pribadi dan lebih banyak muatan emosinya sehingga mungkin tidak lagi objektif. Setiap orang mendapat pintu rahmat secara berbeda-beda baik melalui media, pemikiran, tindakan, pengalaman dan lain-lain. Pada akhirnya, semua yang membawa pada kebaikan adalah baik, semua kebenaran adalah benar jika dilakukan dengan cara yang benar dan hasilnya benar sehingga mampu menularkan kebenaran pada sesama; karena memang begitulah seharusnya kebenaran itu bekerja.

Semoga pintu-pintu rahmatNya selalu terbuka untuk seluruh umat muslim di dunia; aamiin.

Image

Advertisements