Saya ingat sekali cerita ini saya baca di majalah “Intisari”. Cerita ini begitu berkesannya buat saya, sehingga saya pikir saya harus menulisnya. Dulu Bapak saya berlangganan majalah ini, dan itu dulu ketika saya masih di bangku SMP. Saya suka cerita-cerita triller atau horor, jadi setiap kali Intisari baru terbit, saya selalu ke halaman cerita misteri itu terlebih dahulu.

Ini cerita tentang keluarga Indonesia yang tinggal di Amerika. Seorang bapak, seorang ibu, dan seorang anak tunggal laki-laki mereka. Pada suatu ketika, si anak tunggal ini diketemukan sudah meninggal di rumah mereka sendiri. Selidik punya selidik, pembunuhnya adalah teman sekampus korban.

Yang membuat saya terkesan adalah cara orangtua anak ini menghadapi musibah. Diceritakan bahwa karena anak tunggal, kedua orang tuanya sangat menyanyangi anak ini. Anak mereka tumbuh menjadi pribadi baik dan menyenangkan, pintar di sekolah dan pandai bergaul. Meskipun orangtuanya termasuk kalangan orang berada, anak ini tak sombong, rendah hati dan tak pernah sok jago atau mentang-mentang. Pendek kata anak tunggal ini benar-benar menjadi anak idaman semua orang tua di bumi ini.

Yang membuat saya terkesan adalah, pemikiran saya seandainya saya ibunya bertabrakan dengan kenyataan yang ditunjukkan kedua ayah ibu anak itu sendiri. Kalau saya ibunya, dengan kondisi bahwa : anak saya hanya satu dan satu-satunya, kemudian dia tumbuh menjadi anak yang baik, tapi kemudian pada usia yang masih sangat muda ia harus meninggal dengan cara dibunuh di rumah sendiri pula, saya mungkin sudah gila. Saya mungkin akan menyesali semua kejadian dan menangis meraung-raung protes pada Tuhan tentang betapa kejamnya Dia memperlakukan saya, betapa tega Dia membalas semua jerih payah saya dengan cara seperti itu. Itu saya.

Tapi kedua orangtua anak ini tak begitu (tak sebodoh saya). Mereka mengaku iklas dengan musibah yang menimpa mereka karena itu keputusanNya dan mereka tak bisa lepas sedikitpun dari rencanaNya. Mereka tak menyesali apapun atas segala jerih payah mereka selama ini dalam merawat dan membesarkan anak tunggalnya itu sehingga menjadi pribadi yang mengesankan. Mereka justru mesyukuri tindakan mereka itu : “Kami tak menuntut si pelaku pembunuhan. Biar kasus ini kami serahkan utuh ke kepolisian. Bagaimanapun, kalau anak kami harus meninggal, dia akan meninggal dengan cara apapun juga pada hari dan waktu yang sama. Kami sangat bersyukur bahwa kami sudah maksimal mencurahkan semua kasih sayang kami pada anak kami sehingga dia bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik. Kami lega karena saat dia diambil dari kami dia dalam kondisi mencintai Tuhannya dan mencintai kami, mencintai teman-temannya dan tak pernah dia terlihat membenci, tak suka atau mengeluh tentang apapun. Dia anak yang baik. Kami juga lega alhamdulillah, meskipun anak kami mendahului kami, kami merasa dia sudah pantas menghadap padaNya dengan segala kebaikan yang kami tanamkan pada dirinya. Anak itu dipenuhi oleh kasih sayang, cinta dan kebaikan… itu yang paling penting buat kami; bukan kematiannya. Pada akhirnya tugas kami sebagai orang tua telah selesai.” 

Saya begitu terkesannya dengan cerita ini, sehingga ketika saya punya momongan sendiri, kata-kata bijak orangtua itu sering terngiang dikepala saya. Saya ingin saya berhati besar seperti mereka, saya ingin saya tak pernah menyesali apapun dibelakang hari karena setiap hari saya selalu memberikan yang terbaik buat anak-anak saya.

Saya tak tahu siapa yang duluan akan dipanggil menghadapNya. Mungkin saya, mungkin anak-anak saya, tapi saya ingin berpikir seperti mereka. Kalau anak-anak saya ‘dipanggil’ mendahului saya, saya ingin mereka pergi dalam kondisi sebagai jiwa yang baik penuh kasih sayang, ruh yang suci dan raga yang benar. Sehingga saya bisa melepas mereka dengan kepuasan telah menjalankan amanahNya dengan baik. Kalaupun saya yang dipanggil duluan, saya ingin membekali anak-anak saya dengan jiwa yang baik penuh kasih sayang, ruh yang tetap suci dan raga yang bersih, sehingga mereka mampu bertahan dalam keselamatan dunia akhirat.

Image

Daryl Zang, Ferocious – Painting, pinterest.

Advertisements