Manusia itu dipenuhi oleh kebutuhan2 dan keinginan2. Bayi itu hanya punya kebutuhan tapi ketika dia beranjak besar menjadi kanak2, dia mulai punya keinginan. Dua hal ini adalah attachment dari Sang Pencipta untuk mahluk sempurna ciptaanNya: manusia. Pastinya selalu ada sebab akibat dari dua atribut kemanusiaan ini. Tak perlu memikirkan mengapa harus dilengkapi dua hal ini, karena pengetahuan kita terbatas. Yang perlu dipikirkan adalah menyikapi dua ‘kelengkapan’ hidup ini dan sifat2nya.

Kebutuhan itu sounds lebih kalem dari keinginan. Keinginan bisa sangat menggebu-gebu dan kadang out of control. Kendali untuk hal yang satu ini benar2 harus luar biasa karena kadang banyak mengandung jebakan2 dosa.

Soal ‘keinginan’ ini dicontohkan seperti anak kecil yang merengek-rengek pada ibunya : pengen punya robot. Hampir setiap saat pikirannya selalu soal robot. Sedikit2 pergi ke ibunya dan merengek minta robot. Berjanji ini itu, semata-mata supaya keinginannya itu dipenuhi sang ibu. Bahkan ketika si kecil ikut ibunya ke toko untuk membeli robot2an, keinginan masih sangat menguasai si anak. Rasanya? tentu saja gembira! Dari sejak ibunya bilang : ok, sejak perjalanan ke toko, selama di toko, dan setelah mainan dibeli tapi belum boleh dibuka di mobil, harus tunggu sampai di rumah; perasaan si kecil sangat antusias, senang, gembira, dan tentu saja bahagia. Lalu lihat, setelah sampai di rumah, mainan dibuka dan anak mulai asik dengan mainannya. Paling cepat hanya 30 menit keasikan itu berlangsung, sesudahnya dia akan meninggalkan mainan tersebut. Besoknya ibunya mungkin sudah mendapati si mainan ada di kolong tempat tidur: tak terjamah lagi😛.

Lalu ‘keindahan’ dari sebuah keinginan itu sebenarnya dimana? hanya berlangsung sebelum hal,kondisi,barang yang kita inginkan itu tidak atau belum ada dalam genggaman kita! Oke.. bilanglah barang itu tak rusak, bilang juga kondisi itu tetap terjaga sampai lama, tapi “gereget” indahnya keinginan itu hanya selama kita menginginkannya, hanya selama kita belum mendapatkannya. Keinginan yang telah terpenuhi akan terganti lagi oleh keinginan2 lain dan tak akan ada putusnya. Jadi, kalau ingin memperpanjang kebahagiaan anak itu adalah tidak dengan cepat membiarkan dia mendapatkan keinginannya!!

Ada keindahan2 tersembunyi yang kadang memang tak disadari manusia dibalik ‘keinginan’, ada juga bahaya2 yang tersembunyi dibalik keinginan kalau keinginan itu mulai menyerempet2 bahaya. Baik keinginan yang aman, maupun keinginan yang berbahaya, kedua-duanya mengandung “rasa” yang memacu adrenalin manusia dan bersifat addict. Kalau keinginan yang sifatnya aman sudah terpenuhi, lalu meninggalkan hambar, keinginan yang sifatnya bahaya kalau terpenuhi biasanya meninggalkan penyesalan.

Manusia tak akan pernah bisa “make deal” dengan keinginan2nya. Attachment seumur hidup ini tak akan pernah terpuaskan bahkan sampai dunia berada dalam genggaman. Sudah fitrahnya bahwa manusia tak akan pernah bisa tenang dan damai dengan keinginan2nya itu. Hanya surga yang mampu memurnikan manusia dari sifat yang satu ini. What we can do? “bersahaja dengan keinginan”, menyikapi dengan bijak dan tak berlebih-lebihan…..🙂

 

grey