Mungkin karena bapakku dan ibuku termasuk salah satu dari orang2 yang suka membaca buku, ntah sadar ntah tak sadar mereka menularkan kebiasaan itu pada kami anak2nya. Mungkin mereka merasa gak enak kalau hanya membaca berdua saja, jadilah kami dibelikan buku2 cerita yang sesuai dengan usia kanak2 kami saat itu.

Bapakku itu suka membelikan komik2 pewayangan dulu mungkin karena beliau memang suka wayang, dan pernah bercita-cita jadi dalang😀. Setiap keluar kota, oleh2 bapak bisa ditebak, buku2 cerita setumpuk, coklat berbatang-batang, dan kadang2 kalau uangnya agak banyak ada oleh2 baju juga. Tapi sumpah!! aku lebih suka dapat oleh2 buku cerita… dan bau buku baru itu : woooooow…. menarik sekali!!!. Kebiasaan baca buku sambil ngemil coklatpun terbawa sampai berpuluh-puluh tahun ke depan. Diakhir karirnya, sebelum pensiun, bapak mewariskan buku panduan tentang hal2 yang berkaitan dengan bidangnya untuk kantor tempatnya bekerja. Buku itu dia tulis sendiri dan menjadi buku pedoman di kantor itu sampai saat ini, diajarkan pada para calon2 pegawai yg diterima bekerja disana.

Ibuku juga doyan buku. Tapi lebih suka novel. Orang yang suka membaca, biasanya juga suka menulis. Jadi ibuku juga sesekali mengirim cerpen ke majalah2, waktu itu masih jamannya mesin tik. Aku ingat betul, saat ibu mengetik di meja kotak yang besar, aku dan adikku main rumah2an di kolong meja.. sambil sesekali memeluk kaki ibu, dan ibu akan teriak2 kegelian. Kadang2 beliau meminta kami membaca hasil ketikannya, tapi ..uhhhm tak ada gambar!! tak seperti komik!! jadi biasanya kami hanya mau membaca 1 pragraf pertama😛

Tapi lama kelamaan harga buku menjadi mahal.  Suatu kali bapak memanggil kami: ” Di dekat kantor bapak ada penyewaan buku. Kalian mau bapak sewain buku2 bacaan?” Kami bersorak sorai kegirangan. Tentu saja kami mau sekali!! selama ini kami biasa meminjam buku2 bacaan dari teman karena gak kuat beli hahahahaha, jadi tawaran bapak seperti angin surga. Kami disuruh membuat daftar buku2 yang kami mau baca. ” Bapak sewanya tiap hari jumat saja ya.. jatah minjem seminggu, minggu depannya dibalikin lagi “. “Iyaaaaaaaaa” kami melonjak-lonjak senang.

Bapakku itu pegawai yang sangat jujur. Disaat teman2 sejawatnya hidup dengan kekayaan melimpah, bapak hidup bersahaja. Tak bisa belikan buku2 bacaan baru yang harganya mahal, bapak sewa buku untuk kami. Bapak memang hebat!!

Dan begitulah, tiap hari Jumat, ketika mendengar mobil bapak datang, kepala2 kami, aku dan adik2ku akan bertongolan dari balik jendela; ” Bapak sewa buku???”. Bapak lalu mengangkat tas keresek putih yang berisi buku seabrek-abrek. Dan kami berloncatan keluar menyambut bapak merebut tas plastik, membongkar isinya dengan sangat antusias dan mulai bergulingan di lantai rumah yang adem; membaca.

Lucunya, bapak gak pernah ngecek satu-satu buku2 yang beliau pinjam. Beliau tau aku suka baca novel horor, jadi kadang beliau memilihkan 4 novel bertemakan horor tanpa lebih dulu mengecek isinya. Hahahaha…. dan aku suka kalau dapat yang sedikit mesum😛. Meskipun semesum-mesum novel jaman itu ya paling2 cuma soal ciuman atau pegang2 hahahaha.

Kebiasaan membaca ini berlanjut sampai kami semua tumbuh remaja dan dewasa. Serunya lagi rumah kami selalu tak jauh dari kios2 tempat penyewaan buku2 cerita dan novel. Jadi kami sering bergilir untuk meminjam buku, uangnya juga patungan sisa dari uang jajan😀. Semakin besar, arah membacanya semakin jelas, kami tinggal menyebut pengarang2 favorit kami di list. jadi siapapun yang dapat giliran menyewa buku bebas mengambil buku apa saja yang ada disitu sepanjang pengarangnya adalah pengarang yang dimaksud.

Dari kebiasaan membaca ini nilai pelajaran Bahasa Indonesiaku selalu dapat A (kecuali soal penggunaan tanda2 baca hahahahaha). Waktu SMA, aku ditunjuk sebagai pengurus Majalah Dinding Sekolah karena kebiasaanku menulis cerpen untuk mading😀. Waktu kuliah, dosen bahasa Indonesiaku sangat mengenalku karena aku pernah dapat A seorang diri dikelasku, uhm… aku ingat itu pelajaran mengarang😀.

Adikku yang nomor dua berhasil menjadi programer hanya dengan cara belajar otodidak. Karena bermasalah dengan dosen arsitekturnya, diam2 adikku memutuskan memperdalam ilmu tehnik informatikanya dengan cara belajar sendiri di kamarnya yang kecil. Tak kuat beli buku2 baru yang tebalnya sebantal-bantal, dia berburu buku2 second atau meminjam buku2 seniornya. Diam2 dia baca habis buku2 selemari itu dan praktekkan ilmunya. Walhasil? dia lulus otodidak sebagai programer dan kesahannya tidak dinisbatkan melalui gelar kesarjanaan melainkan dengan menjadi staff ahli di perusahaan milik Australia dan Perancis. Itu bukti kekuatan ” gemar membaca” juga😀

Adikku yang bungsu malah menjadi penulis cerita anak2 di koran daerah Bandung selama beberapa waktu. Pekerjaan sambilan yang bisa menuhin ‘saku’ nya sambil dia memperdalam ilmunya di jurusan jurnalis.

Semua ini cuma karena dari kebiasaan membaca.

Ingin kutularkan kebiasaan ini pada anak2ku, tapi nampaknya sainganku cukup berat. Aku harus berkompetisi dengan banyaknya channel di televisi, dengan play station, game online atau dengan game console; tapi yang lebih parah lagi aku harus bersaing dengan harga buku2 cerita yang meroket, mengancam menguras dana belanja. Hufffttt…

Tapi aku tak berhenti berharap. Aku yakin kebiasaan orangtua tetap menjadi panutan anak2 baik mereka sadari atau tidak, aku ingin anak2 sepertiku… : suka membaca buku🙂. Paling tidak apapun yang mereka kerjakan mereka mengingat sering melihat ibunya menikmati kegiatan membaca. Itu saja cukuplah

e2fd9926f2d9083b8c72d4d429a8491e