Kami membicarakan soal jodoh akhir2 ini. Tapi terus terang, bukan karena saya sudah banyak makan asam garam kehidupan karena anak saya tiga sekarang dan yang paling besar sudah remaja; tapi memang sejak saya mengenal ‘perasaan’ cinta ketika umur saya 15 tahun; saya tau pasti ‘konsep jodoh’

Konsep yang saya maksud adalah konsep immortality sebetulnya. Konsep ketidakabadian; atau konsep kefanaan. Saya tak tau kenapa konsep ‘berat’ semacam ini bisa begitu melekat dikepala seorang anak 15 tahun… dan terbawa sampai sekarang. Hanya Tuhan yang tahu.

Jadi ketika banyak orang menafsirkan definisi jodoh antara teori dan praktek ; antara mitos dan kenyataan; sesungguhnya konsep immortality-lah yang bercokol menguasai semua mindset saya tentang jodoh.

Tak ada cinta yang abadi didunia ini. Tidak sampai cinta  sendiri muncul dalam alam keabadian itu sendiri. Tak ada hal sekecil atau sebesar apapun yang bisa abadi dalam ketidakabadian.

Jadi ketika konsep ini begitu saya mengerti dalam umur yang sedemikian belia, saya belajar membatasi harapan dan mimpi2 saya menjadi sebuah impian yang kalau bisa selalu tak lepas dari fakta: bahwa dunia itu tak abadi. Saya mencintai, tapi saya percaya bahwa cinta bisa tak abadi, saya memiliki tapi saya percaya bahwa yang saya miliki tak akan abadi, dan lain-lain. Ada batas menyakitkan yang selalu saya pakai untuk “membangun” kan saya dari mimpi2 tentang keabadian. Ada alarm yang saya pasang pada setiap moment kebahagiaan atau kesedihan yang ‘menyambangi’ saya: alarm immortality.

Dan ketika saya menikahi seseorang, saya percaya apa yang saya rasa dan saya dapat sekarang, sifatnya tak abadi. Ketika ketidakabadian itu terbukti maka saya sama sekali tak terkejut. Begitu marfum nya saya dengan apa yang sudah saya duga, sehingga saya lebih fokus pada menghadapi kenyataan daripada berharap muluk.

Kalau saya, misalnya, mendapat cinta yang saya pikir ‘abadi’ karena kematian yang memisahkan saya dan cinta saya itu… itupun bukan cinta abadi sebetulnya. Karena keabadian bahkan tak akan pernah terpisah oleh kematian sekalipun!

Kehidupan itu penuh dengan pembatasan karena hidup sebetulnya bukan kebebasan melainkan keterbatasan. Tidak bisakah kita melihat dari kematian? Bukankah itu sebuah pertanda tentang betapa tak berdayanya kita sebagai hamba? betapa kita dibatasi? Lalu apa yang bisa kau harapkan dari sebuah keterbatasan? Apa?

Ketika keindahan itu berbatas, dan ketika kesedihan itu berbatas. Ketika pesta pora itu berbatas dan ketika kemuraman durjanapun memiliki batas. Ketika laut diperlihatkan memiliki batas…. ketika sejauh mata memandang, langit membatasi dengan warna birunya… dan garis horizontal bumi membatasi keluasannya… semua begitu berbatas.. semua!!!!

Lalu kau berharap apa dari kekasihmu? jodohmu? kecintaanmu? keabadian?

Hahahahahahahah…………..HAH!

Maka, keberadaan sebuah benda tidak memiliki ketakterhinggaan; melainkan keberadaan sebuah benda adalah terhingga, dan mustahil sebuah benda bersifat abadi. (Al Kindi)

Daripada kau menggantang asap tak karuan pada tempat yang tak jelas, lebih baik kau mensyukuri apa yang kau punya saat ini dan menikmatinya selama mungkin sebelum keterbatasan merengut nafasmu dan memutusmu dari mimpi2 keabadianmu dan meletakkanmu pada keabadian yang sesungguhnya dengan segudang penyesalan.

Takdir tak bisa dipilih… pilihanmu hanya pada bagaimana kau bisa memilih cara tepat dalam menjalani takdirmu. Jodoh tak bisa dipilih, pilihanmu hanya pada bagaimana cara tepat dalam menjalani hidup bersama dengannya.

Pada akhirnya bukan keputusanNYA tentang hidupmu yang harus kau pertanyakan, tapi apa yang telah kau lakukan pada hidupmu itulah yang harus kau pertanggung jawabkan padaNYA.

f09cd5ef83346c8d2742af84eb027a83