Anak ke-2 saya kembar laki-laki. Lahirnya mereka cuma berbeda 1 menit saja karena melalui proses caesar. Kehadiran kedua anak lelaki kembar saya ini merubah persepsi saya tentang zodiak, hoiroskop atau apapun itu. Karena pada kenyataannya kedua anak kembar ini punya karakter yang berbeda satu dengan yang lainnya meskipun mereka jelas2 kembar. Kalau saja dokter yang membantu kelahiran mereka itu punya empat tangan, dan lubang di perut saya cukup besar untuk mengeluarkan dua anak sekaligus, mungkin bahkan tak ada perbedaan waktu lahir yang 1 menit itu.

Dari sejak mereka masih orok, sampai masuk sekolah dasar, mereka terlihat berbeda secara karakter. Sama seperti anak2 dengan kelahiran singel yang berbeda bulan, tanggal atau bahkan tahun, seperti itu jugalah sebetulnya perbedaan si kembar.

Kadang2 saya bingung bagaimana mendidik anak kembar; disatu pihak saya terbiasa diberi tahu (baik melalui membaca, komunitas kembar, atau sekedar myths) bahwa anak kembar hampir selalu punya kesamaan (tuntutan yang sama, keinginan yang sama, selera yang sama, dan lain-lain) tapi disatu pihak saya dihadapkan pada kenyataan bahwa anak kembar memiliki karakter masing2 yang patut di perhatikan juga.

Seperti hari ini ketika saya harus dipaksa berpikir dan mengambil keputusan bijak ditengah perseteruan kedua kembar saya; yang satu menuntut “harus sama! harus adil!” sementara yang satu menuntut “tak harus sama, tak harus adil karena yang kau suka belum tentu aku suka!”. Sesungguhnya kedua hal inilah yang selalu menjadi ‘kebingungan saya’. Disatu pihak keinginan untuk adil itu bisa jadi karena bawaan kembarnya, tapi bisa juga karena hanya sekedar “ego” nya semata tetapi bagaimana saya bisa membedakannya? mana yang ego? mana fitrah kembarnya?. Masalahnya kembar yang satu lagi tak mau “seiya sekata” dengan bendera “adil” yang diraungkan kembarnya. Penolakan salah satu kembar inilah yang kemudian menimbulkan chaos.

Sungguh susah jadi orangtua yang harus bisa bertindak sigap dalam sebuah keributan  (yang pastinya bikin darah naik juga ke ubun2) sekaligus memikirkan cara bijak supaya bisa menenangkan keduanya tapi juga tidak “salah” omong. Huffft.

Yang pasti saya tak bisa bicara pelan karena marah. Sambil menjelaskan “prinsip keadilan” pada anak kecil (sulitnya memilih kata2 sederhana ketika sedang kesal) saya juga berdiri sekuatnya di tengah2 supaya tak terlihat memihak salah satu.

Dari si kembar sebetulnya saya banyak melihat bahwa adil itu tak selalu harus berarti “sama”. Adil itu adalah ketika si abang yang sudah SMA mendapat 8 potong nuggets goreng dengan sepiring nasi porsi besar dan adik2nya yang masih kecil mendapat 4 potong nuggets goreng dengan sepiring nasi porsi kecil, kenapa? karena badan abang lebih besar, karena energi yang dibutuhkan abang lebih besar. Dan/atau adil itu adalah kesepakatan yang disepakati kedua belah pihak untuk diterima tanpa ada satu pihakpun yang tak iklas.  Itu baru adil! Meskipun kembar yang satu mendapat nasi dengan ayam dan yang satunya lagi adalah mie goreng dengan sosis, selama mereka sepakat menyatakan suka dan senang dengan apa yang mereka terima: itulah adil!!! Kalau yang satu memaksa yg satu lagi untuk sama2 makan nasi dan ayam sementara yang satu tak suka karena lebih suka mie goreng dan sosis, apa itu adil?

Saya menanyakan pertanyaan yang sama pada anak yang berkoar soal “keadilan”, jawabnya? teriakan! huffft. Saya tak bisa memaksanya belajar saat itu juga. Tapi akhirnya saya pikir ada baiknya juga  membiarkannya belajar sendiri soal keadilan. Jadi untuk sementara ini saya akan menunggu dia “mempraktekkan” keadilan yang dia maksud. Suatu ketika saya percaya dia akan berada pada kondisi yang dia tak suka tapi dia harus menerima karena menyesuaikan dengan “prinsip adil” yang ada di kepala kecilnya itu. Saya berharap dia bisa belajar “membandingkan” antara prinsip adil menurut dia dan prinsip adil yang dimaksud oleh ‘ibu’ nya.

Bagaimanapun “adil” itu selalu menyenangkan dua belah pihak; harusnya begitu. Adil itu tak membiarkan salah satu pihak kecewa atau merengut. Adil itu adalah menciptakan senyum kelegaan pada kedua belah pihak; dan selama keadilan itu di dengungkan dan diputuskan hanya sepihak tanpa kompromi dari dua pihak yang terkait, tak pula menimbulkan senyum pada keduanya; itu sama sekali belum adil namanya.

Saya pikir saya harus rajin membiasakan si kembar untuk membedakan ego dengan toleransi, dan membedakan ego dan keinginan untuk adil…..

1511804030_1374627377

Advertisements