Saya sadar bahwa dalam diri tiap anak ada kelebihan-kelebihan kusus yang bisa menjadi modal mereka bertahan hidup kelak dimasa depan bahkan modalnya untuk menjadi pemimpin.

Pemimpin? “pemimpin itu apa sih, bu?” begitu anak saya pernah bertanya dengan suara kecilnya. Dan saya menjelaskan padanya seperti ini : pemimpin adalah orang yang tindakannya bisa memberi inspirasi pada banyak orang untuk punya impian, untuk mau belajar lebih banyak, melakukan sesuatu lebih banyak, supaya menjadi manusia yang lebih baik. “Jadi pemimpin bukan bos?”. Saya menggeleng. “semua boleh menjadi pemimpin, termasuk kamu” kata saya sambil mengelus rambutnya dan senang melihatnya tersenyum.

Dan begitulah, ketika anak saya bermain dengan kawan-kawannya dan melihatnya memberikan banyak ide permainan yang akan mereka mainkan, buat saya adalah pencapaian. Melihatnya mengambil keputusan didepan empat temannya soal kemana mereka harus pergi bersepeda adalah juga sebuah pencapaian. Bahkan menolong seekor anak kucing yang disiksa salah seorang temannya dan memutuskan membawa si kucing pulang ke rumah buat saya adalah pencapaian luar biasa. Ini salah satu sifat kepemimpinan yang patut mendapat pujian meskipun, terus terang saja, saya tak suka memelihara hewan apapun di rumah. Tapi inilah yang saya dapat lakukan untuk mereka: memberi kesempatan bagi mereka dan memfasilitasi mereka untuk belajar bertanggung- jawab atas keputusannya dan mengenyampingkan ego saya jauh-jauh sebagai orangtua.

Buat saya, melihat anak-anak berhati besar untuk menolong mahluk yang tak berdaya dan bahkan berusaha menyelamatkannya adalah seperti menemukan berlian yang harus diasah dengan baik dan telaten supaya sinar yang dipancarkan kelak mampu menerangi hidupnya sendiri. Ini adalah nilai kepemimpinan yang saya yakin tidak akan dia dapatkan dari sekolah manapun. Jadilah saya mengijinkan kucing malang itu dipelihara di rumah dengan sederet tanggung jawab terhadap si kucing yang disanggupi anak-anak saya.

Saya tak berharap muluk pada ketiga anak-anak saya karena saya yakin mereka diciptakan untuk tujuan-tujuan tertentu sesuai misi hidupnya masing-masing dan saya tak pernah diberi kuasa apapun untuk merubah tujuan hidup mereka sesuai kehendakNYA. Saya analogikan seperti buah jeruk, maka selamanya akan menjadi jeruk, tak mungkin saya merubahnya menjadi semangka, atau durian, atau pepaya atau apel. Yang bisa saya lakukan hanya membekalinya dengan ilmu agama, membangun anak yang berhati mulia, berpikiran positif dan melihat dunia secara optimis. Maka kalau memang dia dilahirkan sebagai buah jeruk, dia akan menjadi jeruk yang manis. Kalau dia dilahirkan sebagai durian, maka dia akan menjadi durian yang wangi dan legit🙂

Si kecil adalah pemimpin yang sejati, melihat teman-temannya  tanpa prasangka, menyayangi tanpa pamrih, bertanggung jawab karena cinta, dan berbicara dengan bahasa hati yang murni. Mempertahankan dan mengembangkan pemberianNYA inilah yang menjadi tugas mulia para ibu di seluruh muka bumi sehingga menjadikan anak pribadi yang cemerlang tak ternilai.

Kalau sudah begini, tak salah kalau pepatah bilang: surga itu ada ditelapak kaki ibu🙂

effa269d53596128fc21682ad4097c0b