Saya rasa, saya harus menghentikan kebiasaan bermesraan dengan urusan duniawi. Saya rasa, tak ada manfaatnya bersikap lunak pada hal2 yang malah mencelakakan.

Mungkin benar, bahwa “people don’t want to hear the truth, because they don’t want their illusions destroyed”. I’ve read and hear the truth about this dunya and indeed my illusions were destroyed.

Tiba2 saja batas itu tak ada antara kehidupan dan kematian. Tiba2 saja angan2 saya terputus dengan begitu saja lalu hilang menguap. Saya lepas dari panjangnya angan-angan.

Tersiksa mungkin derajat paling rendah dari keimanan yang baru melek kebenaran. Tiap tarikan nafas saya adalah spekulasi bahwa itu mungkin nafas terakhir. Saya tersiksa karena takut. Takut tak punya cukup waktu untuk menebus dosa.

Tapi saya belum menjadi lebih baik dalam ibadah; belum. Tapi aura ketakutan tentang betapa tak berdayanya saya sebagai manusia yang hidup dan matinya ada di tangan Sang Pencipta benar2 telah meliputi saya.

Beruntung orang2 yang diberi kesempatan sadar bahwa dia sedang mendekati saat2 kematiannya; seperti diberi sakit misalnya. Saya pikir, bukankah itu tandanya mereka masih diberi kesempatan untuk taubat di detik2 terakhirnya. Tapi bagaimana dengan kematian mendadak? Kematian yang merengut ketika kita sedang mencoba sepatu baru di toko misalnya. atau sedang asik menikmati semangkuk bakso di meja makan? atau ketika sedang lelap tertidur? Bukankah kesempatan itu sama sekali tak lagi ada. Bukankah jadinya kita harus ‘siap’ setiap saat?

Sungguh kehidupan di dunia hanya 1.5 jam saja, sedangkan kehidupan di akhirat adalah selama-lamanya waktu. Ini bukan apa2….. ini sangat bukan apa2….

images (9)