Teman saya datang dan bercerita tentang masalahnya pada satu waktu. Dan seperti yang saya yakini selama ini, tak ada hari yang tak “membawa sesuatu untuk dipelajari” begitu juga ketika teman saya datang.

Saya mendengarkan ceritanya dengan seksama. Sesuatu yang pernah saya alami dan saya harus membayar mahal untuk pengalaman itu. Saya pikir saya wajib sharing tentang pengalaman saya padanya setelah dia juga sharing masalahnya pada saya yang membuat saya melihat sesuatu.

Ketika dia berceloteh tentang apa yang memenuhi kepalanya, sebuah sebab akibat tiba2 muncul. Teman saya ini seseorang yang sangat berorientasi pada harta dan kekayaan. Dia selalu mimpi jadi kaya atau selalu membanding-bandingkan kekayaannya dengan orang lain, selalu merasa kurang kaya (meskipun di mata saya dia sudah sangat sangat mapan, jauh lebih mapan dari saya). Kemudian dia diuji dengan kekayaan; tiba2 bekas pacarnya menjadi orang kaya raya yang masih cinta padanya, dan tiba2, bersamaan dengan itu, teman saya ini bermasalah dengan suaminya.

Buat saya ujian yang dia hadapi sudah sangat-sangat jelas. Disaat dia merasa sebagai orang yang serba kekurangan dan tak puas pada suaminya karena tak membuatnya tajir, tiba2 ada orang ketiga yang kaya dan menawarkan diri sebagai tambatan hati. Cukup jelas kan? Benang merah sebuah ujian sebetulnya gampang di deteksi kok… selama kita mengenyampingkan pendapat otak dan perasaan… Atau memang harus orang ketiga yang menarik benang merah, seperti saya pada teman saya itu?. Karena saya tak melibatkan apapun dalam melihat, dan saya pikir saya cukup objektif tak terpengaruh oleh alasan2nya dan keluh kesahnya?. Ntahlah….

Begitu rupanya cara kerja ujian. Menguji sesuatu yang kita agung2kan dan kita letakkan sebagai pusat perhatian kita yang utama. Prioritas kita itulah yang akan “diuji” olehNYA. Sesuatu yang selalu memenuhi pikiran kita, sesuatu yang kita bersedia menjadi “hamba”, sesuatu yang menjadi nomor satu dalam kepala dan benak kita.

Saya tak peduli soal harta, tapi saya peduli soal cinta, maka cinta menguji saya. Ujian saya adalah cinta!. Saya tak peduli soal kemewahan gaya hidup tapi saya peduli soal perhatian, maka perhatian itu menjadi ujian bagi saya. Oooh laa laa!

Semakin kita ‘lemah’ terhadap sesuatu, semakin kita diuji oleh sesuatu itu, sampai kita menjadi tak lemah lagi!!!! SubhanaaAllah!. Dan selama kita masih lemah karena terus menerus gagal diuji, selama itu pula ujian terus diberikan.

Apa karena Allah itu Maha Pencemburu?? CintaNYA begitu besar pada kita, sehingga kalau kita menomorduakan DIA, bukankah wajar kalau DIA cemburu diluar betapa Maha Rahman dan Maha KasihNYA DIA atas kehendakNYA memasukkan kita di jannahNYA?

Bukankah wajar kalau jannah yang sehebat dan seindah itu, yang Dia sediakan serta janjikan pada manusia hanya pantas dihuni oleh orang2 yang mencintaiNYA dan menomorsatukan DIA? MencintaiNYA dan mengutamakanNYA memiliki dua khasiat: 1. Kita bisa jadi penghuni jannah, 2. Apapun ujian yang kita hadapi di muka bumi ini akan kita jalani dengan sukses!! Bukankah semua saling berkaitan?

Demi Allah, coba luangkan waktu, masalah apa yang membuatmu terus menerus memikirkannya? Apakah soal cinta seperti saya? Apakah soal uang seperti teman saya? Apakah soal anak? Apakah soal jodoh? Apakah soal pekerjaan? Sehingga kamu menomorduakan DIA dalam kepalamu? Masalah apa? Itulah yang akan mengujimu! Itulah ujian terbesarmu.

Kau mau bisa menjalani hidup ini dengan damai hati? Meski masalah membelitmu? Jadikan DIA urutan utamamu, prioritas kecintaanmu, tujuan hidupmu, kekasih utamamu, keabadian jiwamu, masa depanmu, dan lain-lain, karena DIA Tuhanmu!!! Dan DIA mau kau sadari itu! Tak ada yang berhak kau pikirkan diatas DIA. DIA Maha Segala-galanya!!! Diatas segala-galanya yang kau harus pikirkan dikepalamu dan yang harus kau simpan di hatimu.

Terus terang, sebenarnya saya takut diberi ilmu, karena ilmu itu amanah yang harus diamalkan dan dibuktikan dan sekaligus wajib teruji!!! Tapi hal ini juga menjelaskan mengapa umat muslim diminta mengejar ilmu sampai ke negeri cina. Mengapa? Supaya kita bisa mengamalkan itu tadi!! Semakin tinggi ilmu seseorang, kalau dia amalkan, dampaknya akan luar biasa bagi dirinya sendiri bahkan orang2 disekitarnya dan sekali lagi ilmu itu adalah amanah!! Sungguh kita menjadi pendosa besar jika tak mengamalkannya.

Kadang2 saya takut jika sampai pada pemikiran2 serupa ini. Ketika semua mencapai titik kesadaran saya yang paling tinggi tentang ketawakalan seorang hamba pada TuhanNYA, tiba2 saya takut karena ngeri diuji oleh sesuatu yang setinggi ilmu saya. Saya masih ngeri membayangkan uji ketawakalan Nabi Ibrahim yang harus menyembelih anak kesayangannya, ngeri membayangkan Nabi Isa di siksa karena ketawakalannya, ngeri membayangkan betapa para Nabi harus menghadapi ujian ketawakalan yang sama sekali tidak mudah ketika mereka sampai pada titik tawakal tertinggi. Saya bahkan ngeri membayangkan ujian ketawakalan para mujahidin di tanah Syam; anak2 Palestina yang meneriakkan Allahu Akbar ketika peluru menembus jantung mereka dan mereka mati sahid dengan tersenyum! Saya masih ngeri membayangkan itu semua… terbayang betapa ujian itu hanya bisa dipikul oleh orang2 dengan tingkat ketawakalan super tinggi.

Hufft…. ternyata saya belum ada apa2nya; saya bahkan ragu apakah saya berani diuji lebih dasyat lagi untuk menaikkan derajat ketawakalan saya. Saya masih ditingkat pecundang… yang bahkan hanya membayangkan sajapun saya sudah tak kuat. Saya masih ditingkat pecundang, yang berani diuji hanya dengan masalah cinta dan perhatian. Sepelenyaaaaa….. dan kalau sudah begini, saya merasa tak harus sombong berkoar koar soal ketawakalan saya .

Maha Suci Allah… semoga saya, kau dan kita semua selalu diberi kekuatan untuk menjalani segala bentuk ujianNYA sesuai dengan kemampuan saya yang telah ditakarNYA jauh sebelum bumi dan langit ini diciptakan.