ini debat saya dengan salah seorang kawan debat paling berat seantero dunia hahahahaha (you are sis Iyang). Soal Keluarga Berencana.

Sebetulnya jauuuuh sebelum masalah ini menjadi topik pembicaraan ‘hot’ kami berdua, saya sudah ‘sering’ berpikir tentang ‘salahkah’ saya dalam mengambil keputusan ber-KB. Since, nurani saya terusik, saya merasa there is must be something wrong bahwa saya memutuskan untuk tak mau punya anak lagi. Tak ada yang salah dengan tubuh saya… saya sehat saya subur alhamdulillah… tapi memutuskan untuk tak mau punya anak lagi dengan memasang alat ‘pencegah’ hamil membuat saya merasa seperti pengecut. Tentu saja alasan ‘ekonomi’ dan pendidikan formal maupun informal menjadi alasan kuat sekaligus klise plus “malas hamil”.

Lalu, nurani yang memang sudah terusik ini menjadi kian terusik ketika membaca NWO plan (New World Order Plan) yang mana depopulasi (termasuk keluarga berencana) menjadi salah satu “target” para antek mata satu ini. Gilanya lagi, artikel ini tidak ditulis oleh orang Islam melainkan orang yang tinggal di belahan dunia barat sana yang mungkin tak tahu menahu dengan ajaran Islam. Damn!! Rasa “pembenaran” saya memutuskan ikut KB mulai gamang.

Semakin menggila gamangnya ketika saya melihat adik bungsu saya yang ps: jauh lebih tawakal dari saya. Dia anti KB, tidak ikut KB. Dia percaya, Allah tahu yang terbaik baginya, bagi tubuhnya. Jadi ketika dia ingin punya anak, dia minta padaNYA dan dia punya anak. Ketika dia sedang tak kuasa punya anak, dia bermunajat untuk tak diberi anak dulu; sehingga dia tak punya anak untuk sementara. Ketika dia ingin punya anak lagi; dia minta dan dia diberi anak lagi olehNYA. Bagitu terus sampai anaknya tiga. Dan sejauh ini dia baik2 saja dengan ketiga anaknya dan ketawakalannya itu. Dia tak punya anak lagi sampai sekarang… dan tanpa KB! Murni hanya berbekal tawakaltu.

Saya tak percaya kalau ada orang yang mengaku bisa melihat “buku kehidupan” saya. Tapi orang seperti itu pernah bilang, anak saya yang bungsu adalah perempuan setelah didahului anak2 lelaki. Saya tak percaya ini. Tapi, anggap inilah yang tertulis buat saya, tapi saya memilih untuk menghentikan punya anak (dan pembatasan ini bertentangan dengan Islam); bukankah saya sudah mencegah “kelahiran” seorang anak perempuan? yang sebetulnya sangat didambakan suami saya, misalnya? Bukankah saya telah “memilih” keputusan yang salah? memilih sesuatu yang sama sekali tak dianjurkan dalam Islam?

Misalnya takdir saya memang hanya beranak 4 itu saja (yang terakhir adalah wanita), kemudian saya tak melakukan KB tapi saya tak pernah hamil lagi sampai saya mati, bukankah saya sudah melaksanakan perintah agama? dan bebas dari “tuduhan” mencegah kelahiran? Sekarang anak saya 3 dan saya melakukan KB… kebayang gak sih perasaan saya? bahwa seumur-umur saya telah mencegah 1 kelahiran lagi? dan ber KB pulak seumur-umur? tanpa alasan apapun selain soal ekonomi dan pendidikan?? Dimana rasa tawakal saya kepadaNYA? Mengaku percaya pada kuasaNYA tapi meragukanNYA sekaligus? Oh My God!

Bahkan cicak yang lengket di dindingpun bisa nangkap nyamuk yang terbang2??? dan memang itulah makanannya? apa yang salah dengan pemikiran bahwa manusia tak bisa mencari makan??

Terus terang, “rasa bersalah” itu mengendap dalam hati dan saya merasa dihantui. Kadang2 saya memaki ilmu yang saya dapat; ketika ilmu itu membuktikan saya salah. Saya lalu ngoceh ngawur bahwa seharusnya saya tak mencari ilmu dan mendapat ilmu… biar saya tetap bodoh dan Tuhan akan maklum. Ooooohh… tapi tidak begitu cara kerja akal. Ilmu itu datang untuk menunjukkan letak kesalahan kita dan memperbaikinya sehingga menimbulkan amanah yang kalau tak dilakukan akan menambah amalan dosa. Hhhhhhh………..Tuhaaaan… ampuni sayaaaa

Saya benci kalau nurani saya berteriak tentang kebenaran ketika saya menikmati kesalahan saya. Saya benci kalau nurani saya terusik karena saya melakukan hal2 yang tak semestinya. Tapi yang paling saya benci adalah ketika seharusnya saya melepas “alat kontrasepsi” ini tapi saya tetap tidak melakukannya!!!

Image

Related source: http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/keluarga-berencana-islami.html

Advertisements