Suara itu seperti kertas yang terbakar sedikit2. Aku pikir memang ada yang terbakar, tapi setelah aku cek, rasanya itu bukan suara kertas terbakar. Lalu tak lama mertuaku membuka pintu kamar; “Gunung Kelud meletus”. Aku membelalakan mata, mertua menyambung “sekarang sedang hujan kerikil”. Perempuan tua yang sudah 3 kali mengalami letusan Gunung Kelud itu mengajakku keluar, tapi aku hanya berani sedikit selewat pintu. Bukan apa2, aku pernah mengalami letusan Gunung Soputan di Sulawesi puluhan tahun lalu dan aku tau betul debu2 vulkanik yang dibawanya. Malas keluar, selain takut jadi kotor, takut terhirup juga. Padahal kata mertua, dari depan rumah beliau itu “pemandangan” gelegar gunung meletus bisa terlihat.

Itu jam setengah 12 malam…

Berita bilang gunung yg anaknya meletus itu mengeksekusi erupsinya jam 10 malam, berarti aku terbangun ketika genteng mulai kehujanan kerikil halus, pasir dan debu vulkanik.

Aku pernah mengalami letusan Soputan, dan mertua juga sudah 3x mengalami letusan Kelud ini, tapi baik saya atau mertua, sama2 tak mengalami sensasi bunyi dentuman gunung yang sedang menjalankan perintahNYA itu. Mulutku tak lepas dari zikir untuk menengkan hati mendengar dentuman demi dentuman; gelegar demi gelegar; dan suara petir yang seperti diatas kepala. Suara sirene tanda awas bahaya pun berbunyi. Orang2 diminta menghentikan aktifitas diluar rumah lalu dalam sekejap, jalan yang tak pernah sepi itu mendadak langgeng… sehingga aku semakin jelas “menikmati” cekaman amuk Kelud malam itu.

Tak kuasa menahan cemas, aku mengambil air wudhu dan mencoba sholat malam, daripada mondar mandir gak karuan dengan gelisah tanpa ujung. Ketika sholat itu aku dirikan, tiba2 aku membayangkan  kaum muslim di tanah syam sana. Aku yakin mereka tiada henti mendengar dentuman bom yang jatuh silih berganti menghancurkan rumah2 mereka, membunuh anak istri mereka bahkan membunuh mereka.

Sehingga ketika aku melaksanakan sholat dengan dentuman letusan kelud yang luar biasa itu aku tiba2 bisa tenang karena itu bukan dentuman bom seperti di syria. Aku tak begitu terancam seperti sodara2 semuslim di sana, itu bukan bom, itu gunung yang jauhnya 40KM dariku, kemungkinan aku menyelamatkan diri jauh lebih besar dari sodara2 di syria sana yang ketika mereka mendirikan sholat mereka benar2 pasrah bahwa itulah sholat terakhir mereka sebelum maut senjata assad merengut jiwanya tanpa mereka punya kesempatan apapun untuk menyelamatkan diri.

Aku menjadi tenang seperti air di kolam; tanpa riak. Ibu mertuaku nyaris menangis ketakutan dan aku hanya mengajaknya berzikir.

Setelah 4 jam menunggu dalam ketegangan yang tinggi karena gak ada seorangpun yang bisa memprediksi alam, keludpun mereda. Bunyi gemuruhnya hilang dan alam menjadi sunyi.

Kami memutuskan tidur, tapi uggh melanjutkan tidur setelah sekian jam dalam cekaman seperti itu rasanya susah. Aku tak bisa tidur.

Paginya debu vulkanik menumpuk laksana tepian pantai berpasir putih… belum pula debu yang berterbangan tergeret mobil yang lalu lalang. Sepanjang tak tidur aku sempatkan menjahit masker untuk anak2. Aku lupa menyiapkan masker…

Dan begitulah, ini pengalaman buatku dan anak2. Secara spiritual aku mendapatkan banyak sekali kesan tentang kuatnya alam ini ketika mengeksekusi perintahNYA, dan banyak sekali pelajaran2 yang bisa aku serap dari kejadian ini…

Allah Maha Besar….

1896786_10201536638764376_1764242524_n

 

Advertisements