Ceritanya adik saya menantang saya untuk melakukan tahajud 40hari. Saya bilang; untuk apa?. Dia bilang; supaya doa kita terkabul, permintaan kita diijabah.

Saya pikir, apa yang sudah ditakdirkan untuk saya harusnya akan diberikan untuk saya, lalu untuk apa saya minta lagi?. Tapi adik saya menyalahkan pemikiran saya. Dia hanya bertanya: kau mau dikabulkan keinginanmu kan? jawab!. Saya bilang : ya. Dia bilang lagi : then lets do tahajud! as simple as that.

Saya bertanya pada sodara saya yang lain tentang melakukan tahajud untuk sebuah keinginan; dan dia bilang saya akan mendapatkan keinginan itu… tapi tak mendapatkan kedekatan dengan Allah, karena tujuan saya tujuan duniawi.

Saya protes… tidak..tidak! saya justru mendekatiNYA untuk keinginan itu. Harusnya saya dekat denganNYA karena saya minta padaNYA dan saya percaya padaNYA. Sodara saya tak merubah opininya dan saya juga tak puas.

Sementara adik saya dengan riang gembira melihat fasilitas sholat tahajud 40 hari itu sebagai sebuah “jalan tol” yang disediakan untuk meraih “hadiah”NYA, lalu sodara saya yang lain melihat itu semua sebagai sesuatu yang nilainya sangat biasa; datar, seperti sayur tanpa garam, tak menggembirakan.

Lalu saya mendengar dakwah pak Nouman tentang “isi doa Nabi Musa” ketika beliau meminta “bantuanNYA”.

Saya sulit menjelaskannya tapi saya menangkap esensi doa sang Nabi.

Bahwa dalam berdoa, dalam meminta sesuatu, ada hal2 penting yang justru kita “lupakan”. Usually kita fokus pada hasil. Tapi sebelum mendapat hasil ada hal2 penting yang harusnya kita minta padaNYA.

Doa nabi Musa ini membuka pikiran saya tentang ‘permintaan’ yang diucapkan manusia tapi sepenuhnya diserahkan pada keputusanNYA.

Advertisements