Sobat saya pada suatu hari mengeluh tentang sepinya hari2 tanpa kawan dan sanak saudara karena dia memang jauh sendiri di kota orang dan belum menikah pulak. 

Saya bilang padanya, semua orang punya keluhan berbeda-beda. Karena bagi sebagian orang ada hal yang dipersulit, sebagian lagi dipermudah. Hal A untuk dia sulit, tapi hal B mudah; sementara saya mungkin hal A yang dipermudah sementara hal B dipersulit.

Mau tanding soal galau? semua orang punya galau. Mau tanding soal merana? semua orang bisa merana. Mau adu bahagia? semua orang juga punya alasan bahagia. And the poin is… kunci sedih dan senang itu ada di tangan kita sendiri.

Well, kita mungkin gak pegang kunci solusi, tapi setidaknya kita memegang kunci ketenangan dalam menghadapi masalah. Karena pada dasarnya, kalau mau dipikir dalam2, yang namanya way out itu bukan kita yang cari melainkan kita yang diberi. So.. why sad? minta pada Sang Pemberi solusi saja.

Pengalaman mengajarkan pada saya dengan cara yang sangat menyakitkan bahwa apa yang “manusia” pikir sebagai way out ternyata tak selamanya way out. Alih2 memberi jalan keluar, malah jadi jebakan setan. Mengapa? karena pemikiran2 itu muncul tanpa didasari keimanan yang kuat, dan mengenyampingkan kuasa Allah. Maksudnya?

Maksudnya, pemikiran2 yang berdasarkan ego manusia saja… karena AKU, untuk AKU, sebab AKU, keinginan AKU, dendam AKU, aku… aku dan selalu aku itulah yang bisa dipastikan mengarahkan kita pada keputusan2 yang totaly SALAH!

Dan kalau keputusan salah itu sudah diletakkan sebagai mahkota dikepala kita, rasanya seperti saat Ilyas disalib ditiang dengan mahkota pakunya itu; sakit, membebani, dan membekas seumur hidup.

Belajar dari pengalaman itulah, saya pikir, sungguh sangat bijaksana untuk bersimpuh di depanNYA dan meletakkan perkaramu dibawah kuasaNYA. Karena tak ada yang lebih tahu atas kebaikan sebuah keputusan atau hal, serta kebaikan atas masa depan selain Sang Pencipta keputusan dan masa depan itu sendiri. 

Saya bilang pada sobat saya; darimana dia tahu hal yang dia kira adalah jalan keluar dari masalahnya memang benar2 sebuah jalan keluar? saya juga bertanya, darimana dia tahu bahwa keadaan yang dia keluhkan sekarang lebih buruk dari angan2nya? darimana dia bisa jamin bahwa apa yang menjadi mimpi2nya adalah jalan menuju kebahagiaannya? darimana dia pasti bahwa jika semua keinginannya terkabul dia akan lepas dari masalah? 

Dia tak usah jauh2 mencari contoh… dia cukup melihat saya. Saya adalah wakil yang bisa dibilang sudah diberi hal2 yang tak diberikan pada kawan saya (hal2 yang bagi kawan saya statusnya masih “wishing”), tapi lihat saya. Saya penuh dengan problem2 lain yang tak kalah berat dengan problemnya. Saya justru tak mendapatkan hal2 (yang menjadi wishing saya) yang justru teman saya dapatkan dengan mudahnya. 

Tak ada yang pasti2 dalam hidup yang memang penuh ketidakpastian ini. Yang pasti itu cuma satu: “Mintalah padaNYA” dan DIA sudah menawarkan itu. Apa kita terlalu bodoh untuk tak mengerti?

Image

 

Advertisements