Pikiran

Saya inget ketika kecil dahulu….

Saya suka menggambar rumah dengan sebatang kapur. Kebetulan rumah saya dekat sekali dengan kantor bapak, jadi ketika kantor sepi karena sudah pada pulang semua, saya suka bermain-main disitu dengan teman main saya, tetangga.

Saya senang sekali permainan yang satu ini. Kami biasanya mencari lantai semen yang cukup luas untuk menggambar disana. Seringnya gambar rumah. Karena menurut kami gambar rumah adalah acara menggambar yang paling seru.

Saya akan mulai menggambar keinginan2 saya yang membuat saya bahagia di rumah impian saya itu. “Aku akan punya kolam ikan di depan rumah” kataku sambil menambahkan gambar kolam. “Aku suka rumah bertingkat” kataku lagi sambil antusias menambahkan rumah dibagian atas rumah yang sudah jadi. Lalu akan ada pohon2, bunga2, garasi, mobil, helikopter, dan entah apalagi.

Begitu tak terbatas imaginasi itu karena bisa langsung saya gambarkan di lantai semen. Selama menggambar sungguh saya bahagia, senyum senang itu tak pernah lepas dari bibir saya dan teman saya. Kami sama2 merasa happy. Dan gambar itu benar2 bisa memenuhi lantai semen yang paling luas di kantor bapak🙂

Itu dulu, ketika kehidupan masih sebatas kapur dan gambar.

Pada nyatanya kehidupan dewasa ternyata jauh lebih kompleks daripada sekedar angan2. Pikiran2 yang masuk benar2 tak hanya bisa membuat kita menggambar kebahagiaan tapi juga menjadikannya nyata; benar2 tak hanya bisa mengeruhkan hati tapi juga menjadikan bencana yang benar2 terjadi.

Saya tak lagi bisa menggambar keinginan2 saya dengan senyum…

Tiba2 saya banyak tercekat dan tak tau ingin menggambar apa. Tiba2 banyak yang harus dipertimbangkan ketika ingin menggambar kebahagiaan itu. Semua menjadi terpenjara.. tak sebebas masa kecil dulu.

Lalu apa yang memenjarakan?
Pikiran kita sendiri…