Sebelum menonton debat capres Indonesia 2014 di TV, saya sengaja sholat istiqarah; saya ingin DIA memberi saya sesuatu yang bisa membuat saya tak salah pilih. Saya pikir, daripada baca sumber2 berita di internet yang tak jelas ujung pangkal dan kebenarannya, saya lebih baik sholat istiqarah, DIA Sang Maha Tahu.

Kenapa saya begitu ngotot? saya tak suka negara ini dipimpin oleh orang yang tersandung masalah hukum. Itu saja. Saya ingin negara ini dipimpin oleh orang yang bersih dari apapun, that’s it. Dan black campaign yang beredar itu? I never buy it. Saya tetap kekeuh fokus pada karakter pemimpin yang akan saya pilih. Dan selama ucapannya sesuai dengan karakter dan hasil kerjanya; saya akan menjadikannya poin.

Tadinya saya tersandung soal partai banteng, ternyata partai tak akan banyak diberi celah mengintimidasi presiden (setelah ngubek soal tata negara dan sistem pemerintahan Indonesia hasil amandemen terakhir). Kenyataan ini membuat saya sedikit menghela nafas lega.

Selanjutnya, saya dilihatkan sesuatu di debat capres itu; yang saya curiga partai merah akan mengendalikan capres pilihan saya terbantah ketika beliau bilang kira2 seperti ini; saya tak ingin di intimidasi partai, itu sebabnya dana kampanye saya minta rakyat yang menyumbang kalau mereka benar2 ingin saya menjadi presiden. Ini sekaligus membuat saya seperti mendapat jawaban juga ketika para pendukung capres satu ini merasa kesal karena partai sang capres (partai merah) kelihatan lepas tangan pada perjuangan beliau.

Fakta yang kedua, ketika di media ribut2 soal capres berbaju putih yang menjanjikan negara Islam, tiba2 bicara soal “menghargai ke-Bhineka Tunggal Ika-an” dan mencontohkan wakil Gub, DKI yang notabene adalah orang Nasrani. Ooooh…. berarti issue soal meng-islamkan Indonesia sampai2 pendukungnya bermimpi soal negara Khilafah itu tak benar. Sang Capres jelas2 membantah tidak condong pada agama mayoritas, bahkan menghargai perbedaan.

Fakta yang ketiga ketika mereka bicara soal hukum tapi mereka sendiri tersandung masalah hukum. Saya tak ingin membahas cerita lama ini panjang lebar.

Fakta keempat adalah ketika mereka bicara soal swasembada pangan. Wait bukankah capres berbaju putih dengan garuda di dada itu sudah menjadi ketua HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia), tapi mengapa beras kita masih impor? selama 10 tahun tak ada prestasi apapun?

Fakta kelima saya melihat “gesture” kedua capres. Yang satu nampak tegang dan tidak kompak, yang satu saling melempar pandang dan saling senyum. Peralihan giliran berbicara dari capres ke wapres begitu luwes dan bersahabat.

Itu saja sudah cukup bagi saya untuk semakin meyakinkan diri bahwa saya, mungkin tak salah pilih orang. Meskipun mungkin bukan capres yang saya dukung yang kelak akan terpilih, paling tidak saya tak merasa salah dengan pilihan saya.

Pada akhirnya saya merasa saya tak akan banyak melibatkan diri dengan berita2 di internet sampai waktu pemilihan presiden nanti. Saya tak akan mengunjungi jejaring sosial saya yang berpotensi besar menyebarkan fitnah tak mendasar. Saya ingin dikukuhkan hanya oleh debat presiden yang ke 2 nanti dan yang ke 3 nanti. Tak lupa saya akan melakukan istiqarah setiap kali sebelum menonton supaya petunjukNya tak beranjak dari jemari yang akan mencoblos nanti.

Pilihan saya hanya dua: mencoblos dua, atau merusak kertas 🙂

As long as one is following the right way, one should never be concerned about the reproaches of those who like to find faults.
10380901_712014048845208_766799132637997559_n

 

 

Advertisements