Kemarin saya penasaran dengan presiden putih coklat muda (kok seperti warna ular berkepala dua dalam mimpi saya ya? kemeja putih, celana coklat muda; sementara ular itu berbadan coklat muda bersalur salur putih. Hahahaha… saya sedang melebay meskipun itu nyata), lalu saya melihat wawancaranya tentang kudeta di utube (http://www.youtube.com/watch?v=LsJAOp9a3jw) dan sumpah… saya heran orang ini sedikitpun tak kelihatan merasa bersalah telah menculik orang dengan tertawa-tawanya itu (orang itu bukan ayam pak!) .

Saya juga mengunjungi wall to wall para aktifis dan jurnalis muda “pintar” yang mendukung beliau itu. Membaca segala penjelasan detil tentang kasus tuduhan kejahatan HAM yang katanya “dibebankan di pundaknya”.

Sekali lagi saya melakukan semua ini untuk meyakinkan diri bahwa saya cukup objektif melihat dua kandidat itu.

Kesan pertama ketika saya menonton video wawancara itu adalah; capres ini banyak tertawa, banyak menyembunyikan jawaban, atau membuat jawaban mengambang. Ini soal kudeta dan beliau begitu santai menjawab semua pertanyaan penting seolah olah he did not give a damn about it. Seolah-olah tuduhan kejahatan HAM padanya itu nonsense dan tak perlu ditanggapi serius. Saya malah jadi respek pada pewawancaranya yang menyikapi hal ini dengan sangat serius tanpa sedikitpun senyum.

Masalah HAM bukan masalah main2.(http://www.youtube.com/watch?v=PQ0YC9PsifQ). Bahkan Pak Munir mendukung gugatan terhadap pemecatan Prabowo dengan harapan kebenaran kemudian akan terungkap. Berulang-ulang kali alm. mengungkapkan betapa pentingnya kehadiran Prabowo dalam pengadilan HAM, beliau menuntut berulang-ulang dalam wawancara ini supaya bapak tertuduh kejahatan HAM itu tak melulu mangkir. Tapi alm, Munir toh dibunuh dengan racun. Lagi2 ada kebenaran yang tak niat diungkapkan, dan orang yang membiarkan kebenaran itu terus tersembunyi tak jauh beda dengan seorang penjahat!

Saya adalah orang yang awam politik, yang melihat politik murni dari yang fakta-fakta saja. Saya tak mau melibatkan omong kosong, atau opini tak berdata. Saya orang awam yang suka pada berita2 politik yang jelas, berbukti dan bertanggung jawab


Peringatan

jika rakyat pergiketika penguasa pidato,kita harus hati-hati

barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi dan berbisik-bisik ketika membicarakan masalahnya sendiri

penguasa harus waspada dan belajar mendengar
bila rakyat tidak berani mengeluh , itu artinya sudah gawat

dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah

kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang

suara dibungkam kritik dilarang

tanpa alasan dituduh subversif dan mengganggu keamanan

maka hanya ada satu kata: lawan!
Solo, 1986

 

Puisi Sikap
maumu mulutmu bicara terus tapi tuli telingamu tak mau mendengar
maumu aku ini jadi pendengar terus bisu
kamu memang punya tank tapi salah besar kamu kalau karena itu aku lantas manut
andai benar ada kehidupan lagi nanti setelah kehidupan ini

maka aku kuceritakan kepada semua makhluk bahwa sepanjang umurku dulu

telah kuletakkan rasa takut itu di tumitku

dan kuhabiskan hidupku untuk menentangmu

hei penguasa zalim
24 januari 97

(Ditulis oleh Wiji Thukul, salah satu korban penculikan yang sampai sekarang tak diketahui rimbanya)

 

 

Saya paham politik itu adalah seni mengolah kemungkinan. Saya juga sangat paham politik itu tentang siapa mendapat kekuasaan dengan cara apa dan kapan. Tapi saya tetap tidak paham kalau ada partai yang lahir dari rahim demokrasi mendukung capres yang dulu bagian penting dari kelompok anti-reformasi. (red: sepakat)
Raja Juli Antoni
El-Sissi Indonesia? 
Tidak hanya di Mesir juga di Indonesia, Jendral El Sissi dihujat. Dan, memang ia patut dan harus dihujat. Stiker telapak tangan berwarna kuning ditempel di mobil dan mejeng di media-media sosial sebagai simbol perlawanan. Neo-Fir’aun ini, begitu ia sering disebut, membunuh para aktivis. Mereka dipenjara tanpa pengadilan. Ada yang dijatuhi hukum mati dengan pengadilan yang sudah tidak adil lagi. Partai politik dibubarkan. Inilah nasib kebabasan bersyarikat dan berkumpul di tangan pemimpin militeristik. Ironisnya, partai yang paling getol menghujat El Sissi kini resmi mendukung capres yang punya sejarah kelam dan sangat potensial menjadi Assisi ala Indonesia. Satu lagi ironi politik Indonesia? (Red:sepakat)
Satu hal lagi yang mewakili pertanyaan2 saya yang awam politik:
Di suatu sore jelang pulang ke Bekasi, Kak Din, begitu biasanya saya menyapa Prof. Dr. Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah, bertemu saya di halaman Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah. Beliau meminta saya untuk menemaninya melayat Dora Marie Sigar, Ibunda Prabowo Subianto yang baru saja wafat. Saya anggkan kepala selian karena sudah agak lama tidak ketemu dan kebetulan ada beberapa hal yang ingin diskusikan dengan beliau. Bertiga kami bersama supi kemudian menyusuri jalanan Jakarta yang macet sampai akhirnya tiba di kawasan Pondok Indah. “Papan Bunga” ucapan belasungkawa berjejer panjang di kiri-kanan jalan. Ketika masuk ke gerbang rumah duka saya bener-bener terperanjat. Saya sadar saya kurang pergaulan dan kurang baca. Saya baru sadar Ibu Dora Marie Sigar adalah seorang pemeluk Kristen. Kami terus masuk ke “ruang utama” dimana peti jenazah diletakan. Kami bersalaman dengan Prabowo dan Drajad Djuwandono (mantan gubernur BI dan kakak ipar Prabowo yang juga beragama Kristen/Katolik). Di ruangan itu saya melihat banyak orang-orang beken di negeri. Ada beberpa orang menteri, pimpinan DPR, keluarga Cendana (Tommy dan Bambang),Yenni Wahid, dan katanya sebentar lagi Pak Presiden akan segera datang.Selama melayat saya bergumam dalam hati: “Oh…ternyata Prabowo yang katanya “ABRI hijau” ini memiliki seorang Ibu (dan belakangan saya tahu beberapa saudaranya yang juga) beragama Kristen? Bagaimana Prabowo bisa menjadi ABRI yang “begitu hijau” yang acap beroterika anti non-pribumi kalau dia lahir dan dibesarkan dari keluarga hasil pernikahan antar-agama?”

Dari media online saya tahu, menjelang pemilu kali ini Prabowo didukung oleh partai-partai (berbasis massa) Islam. Di media sosial orang-orang mulai kembali menjadikan Prabowo sebagai simbol kepemimpinan Islam. Apakah tidak ada usaha untuk menyelidiki dengan seksama seberapa “Islam” dan “Islami “Prabowo ini? Apakah sekarang partai-partai itu telah memiliki perubahan pandangaan mengenai hukum nikah antar-agama, sehingga mendukung calon presiden hasil “nikah silang” antar-agama?

Mungkin terlalu optimis menduga demikian. Yang lebih realistis, nampaknya, memandang kekuasaan sebagai alat super canggih mengubah para “fundamentalis” menjadi “moderat”. Tidak perlu baca buku, tidak perlu jurnal tidak perlu kitab kuning; tidak perlu kajian mendakik di majelis Tarjih dan Lajnah Bahsul Masa’il.

Wallahu’alam.