Dari debat tadi malam dari dua capres yang bertarung adu visi misi soal perekonomian, ada satu hal yang sangat menarik minat saya, dan sempat saya bicarakan dengan suami. Suami saya itu tipe yang sangat membenci pendidikan yang memberati pikiran anak2 usia SD. Jadi ketika program pendidikan karakter dan moral akan dicanangkan oleh salah satu kandidat sekaligus beliau menentang “membebani anak dengan pelajaran2 ilmu teknologi”, padahal anak masih di bangku SD, suami saya terdiam. Saya yakin dia setuju dengan misi presiden yang “tak disukainya” itu. Tak satupun ejekan yang keluar dari mulutnya seperti sebelum2nya.

Luar biasa ide me-revolusi mental bangsa dari strata yang paling dasar: anak2. Ide yang menurut saya cerdas dan brilliant, ide yang sudah diterapkan terlebih dahulu oleh Jepang dan yang mengantar jepang menjadi negara maju se-Asia. Korupsi disana? nyaris ZERO. Semua penduduknya begitu nasionalis dan mencintai produk dalam negerinya sendiri.

Ide membenahi manusianya terlebih dahulu untuk menjadikan Indonesia negara berperekonomian kuat, dan kaya makmur, bukanlah ide yang tak mustahil terjadi. Idenya jelas, dan tidak muluk2. Ide yang sangat fundamental untuk mengantar bangsa Indonesia ke gerbang kemajuan pesat dimasa depan, dengan sumber daya manusia yang bermental teruji.

Ide pak Jokowi mengantar saya pada sistem pendidikan di jepang. Sistem yang kelak akan diterapkan oleh beliau jika beliau berkesempatan memimpin Indonesia.

Kita lihat seperti apa kira2 sistem yang dimaksud beliau:

—————————————

Image

 

Anak saya bersekolah di salah satu SDN Kota Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara “open school” di sekolah tersebut. Kalau di Indonesia, sekolah ini mungkin seperti SD Negeri yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan lokasinya disekitar perumahan.

Pada kesempatan itu, orangtua diajak melihat bagaimana anak2 di Jepang belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas dan melihat proses belajar mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir , karena saya meyakini kemajuan suatu bangsa tak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut mendidik anak2nya.

Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memperhatikan kepentingan orang lain disaat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”

Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat. Dan saat saya melihat bagaimana anak SD di jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata.

Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang, lebih menitikberatkan pada pentingnya “moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak2 di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.

Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang (shinto, budha, confusianisme) serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang.

Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukkan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat mempengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang. Anak2 diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.

Di sekolah dasar, anak2 diajarkan sistem nilai moral melalui 4 aspek:

-menghargai diri sendiri

-menghargai orang lain

-menghargai lingkungan dan keindahan

-menghargai kelompok dan komunitas

keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk prilaku mereka.

Pendidikan SD di Jepang selalu menanamkan pada anak2 bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memperhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun dalam bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain.

Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar. Empat kali dalam seminggu anak saya kebagian melakukan pekerjaan2 rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan2 itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.

Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak2 sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi. Anak2 SD di Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.

Keselarasan antara pendidikan disekolah dengan nilai2 yang ditanamkan di rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak disekolah membersihkan WC, maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila anak di sekolah bersahaja, maka orang tua di rumah juga mencontohkan kebersahajaan. Hal ini menjadikan moral lebih mudah tertanam dan terpatri pada anak. Dengan kata lain, orang tua tidak “membongkar” apa yang diajarkan si sekolah oleh guru. Mereka justru mempertajam nilai2 itu dalam keseharian sang anak.

Saat makan siang tiba, anak2 merapikan meja untuk digunakan makan siang bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran.

Beberapa anak pergi ke dapur umum sekolah untuk mengambil troley makanan dan minuman. Kemudian mereka melayani teman2nya dengan mengambilkan makanan dan menyajikan minuman. Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak tentang pentingnya melayani orang lain. Saya yakin, apabila anak2 terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani masyarakat, bukan malah minta dilayani.

Saya sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar di SD negeri di Jepang, saya tercenung. Mata pelajaran yang menurut saya “berat” dan kerap di “paksa” harus hafal di SD kita, tidak terlihat disini. Satu2nya hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf kanji. Sementara selebihnya adalah penanaman nilai.

Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Dibalik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Ibarat pohon besar yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari satu petak akar. Dan akar itu, saya pikir adalah pendidikan dasar.

Sistem pendidikan Jepang seperti diatas tadi berlaku seragam di seluruh sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan,  merata disemua sekolah hingga pelosok negeri. Mungkin di negeri kita banyak juga sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter. Sekolah yang mahal dan bagus. Namun selama dilakukan terpisah-pisah bukan sebagai sistem nasional, anak akan mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi kalau sekolah mahal sudah menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu nilai morak sudah berkurang disana.

Di Jepang, masalah pendidikan ditangani oleh kementrian pendidikan, kebudayaan, olahraga dan ilmu pengetahuan Jepang atau disebut dengan Monkasho (MEXT).

Pemerintah Jepang mensetralisir pendidikan dan mengatur proses didik anak2 Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak diajarkan budaya dan nilai2 moral.

Mudah-mudahan dikeluarkannya kata “Budaya” dari departemen Pendidikan dan Kebudayaan sehingga hanya menjadi departemen “Pendidikan Nasional” di negeri kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan budaya, yang didalamnya mencakup moral dan budi pekerti.

Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya moral dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak2 kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi. Apabila hanya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti.

Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai2 moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu2 “penting” lainnya. (https://www.facebook.com/notes/debit-ridhawati/di-jepang-sekolah-dasar-mengajarkan-moral-di-indonesia-mengajarkan-ilmu-teknolog/10151228628197256)

 

 

Advertisements