Tanggal 20 malam saya melihat wawancara spesial antara Presiden Jokowi yang baru terpilih dengan Najwa.

Tidak full melihatnya, tapi ada satu kesan yang saya tangkap dari percakapan keduanya, seperti ini:

Nampaknya pak Jokowi sempat kaget dengan sambutan rakyatnya kemarin. Beliau gak menyangka sampai sebegitunya. Beliau malah meng-klaim bahwa sambutan kebahagiaan itu “berlebihan sekali”.

Menurut beliau, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Kalau bisa yang cukup saja. Secukupnya saja.

Ketika Najwa bertanya kenapa Jokowi merasa seperti itu? Jokowi mengaku takut dengan ekspektasi rakyat yang terlalu tinggi (manusiawi sekali karena Jokowi seorang anak manusia yang bukan sempurna dan jauh dari sempurna-redaksi)

Menurut Jokowi, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Yang baik itu adalah “secukupnya”. Harapan yang terlalu berlebihan itu juga tak baik, yang baik adalah secukupnya saja.

Alih2 terlihat merasa bahagia dengan perlakuan rakyat kemarin, Pak Jokowi nampak terbebani oleh ekspektasi rakyat yang begitu tinggi terhadapnya disaat situasi negara sedang super duper sulit. Saya bisa melihat dari ekspresi beliau (atau perasaan saya saja?)

Lalu pagi ini saya membaca cibiran orang2 PKS yang menuduh Pak Jokowi tak seperti khalifah Umar bin Khattab yang malah menangis sedih ketika diberi amanah rakyat, karena amanah itu begitu berrrat jika dijalankan di jalan yang LURUS.

PKS SALAH! Pak Jokowipun merasakan beratnya amanah yang dipikulnya sekaligus tak kuasa menolak eforia rakyat yang bergembira karena pimpinan pilihan mereka akhirnya bisa dihantarkan ke Istana Negara.

Bukan Pak Jokowi yang menghendaki pesta rakyat, tapi rakyat sendiri. Jangan pula menilai Pak Jokowi serendah itu, karena tadi malam begitu jelas; betapa beliau nampak suram …

Intinya tulisan saya ini adalah; Pak Jokowi dan Umar bin Khattab sama!
Sama2 manusia yang tau pasti beratnya sebuah AMANAH Rakyat! Bedanya Khalifah umar itu orang Arab sedangkan Jokowi orang Solo..

“Simple things become complicated when you expect too much”

Advertisements