Ternyata situasi perpolitikan yang kali ini jelas terbelah menjadi dua kubu nyata masih terus memanas, bahkan setelah kedua pimpinan dua kubu yang pernah bersiteru di pilpres menyatakan akan saling bahu membahu membangun negeri. Masih banyak orang2 yang belum bisa menerima TAKDIR mereka akan pemimpin barunya dengan berbagai alasan yang makin lama makin bernuansa “ngeyel”

Yang membuat saya semakin sebal adalah ketika ustad2 yang ikut2an komentar memihak pada salah satu kubu. Dengan dalil kebenaran (atau merasa sok benar). Segala dalil ilmu yang mereka kuasa mereka “turunkan” dengan maksud dakwah: membenarkan yang salah, sementara dimata saya mereka justru nampak salah!

Kenapa bisa begitu? Ya karena mereka telah berani-beraninya menilai sesuatu berdasarkan kalimat Allah sementara mereka sedikitpun tak tau menahu dengan kebaikan apa yang ada dibalik kejadian yang tak mereka sukai itu. Karena mereka telah dengan tidak langsung menilai manusia mendahului Sang Khalik. Karena alih2 menciptakan ketenangan dan kedamaian dihati umat yang sedang “asik” bertikai, mereka malah mengambil peran sebagai “kompor”.

Mengingatkan umat akan kebenaran Qur’an tak harus dengan cara ngasih contoh ala “nyepet”. Itu sama sekali bukan karakter pendakwah yang baik (menurut saya). Belum tentu juga mentang2 ustad lalu mereka selalu benar? atau mentang2 ustad mereka merasa berhak bicara apa saja bahkan , meskipun, lalu terbaca seperti “kompor” yang bisa meledukkan hati orang kapan saja.

That’s why saya tak suka dan jarang mau mendengar dakwah ustad2 yang terkenal di Indonesia ini. Bukan karena saya tak nasionalis, tapi …. entahlah. Mereka tak membuat saya mendekat melainkan menjauh….

What should I say then??

ec74cf0d989caa52603364c84643e252

Advertisements