Penggerutu itu rupanya memang sifat yang banyak dimiliki oleh manusia ya? Dengan kadar “kekentalan” yang berbeda dari tiap tiap orang.

Ketika masa2 pilpres bulan2 lalu, saya cuma melihat kubu lawan sebagai penggerutu (ps: cuma ada dua kubu). Tapi ketika presiden telah terpilih (berasal dari kubu saya), saya melihat di kubu sayapun banyak penggerutu. Dengan alasan “kritik”, “mengoreksi”, “mengawal” pemerintahan baru, orang2 merasa sah-sah saja “mengkritik” apapun yang dilakukan presiden. Anehnya, mereka selalu menemukan alasan atau celah untuk mengkritik. Sementara saya lebih melihatnya sebagai gerutuan daripada kritik.

Buat saya, yang namanya kritik itu tidaklah dengan cara2 menyalahkan orang lain atau merendahkan orang lain dan tetap menghargai apa yang diperbuat orang lain meskipun tidak disetujui. Kritik itu dilemparkan dengan tetap menghormati orang yang dikritik tanpa punya niatan memuntahkan marah atau kesal atau benci. Kritik itu saran yang disampaikan dengan menitipkan harapan untuk perubahan yang lebih baik tanpa harus mencari kambing hitam atau tanpa harus menudingkan telunjuk. Pendek kata, kritik itu membangun; bukan menjatuhkan.

Orang yang berani mengkritik orang lain pun bukannya asal kritik. Terlebih dahulu harus sadar diri; sadar pada kapasitas diri sendiri, sadar pada kekurangan diri sendiri, dan berani mempertanggung-jawabkan kritikannya (apa yang saya jadikan kritik adalah yang telah saya lakukan! it’s not just a bullshit, atau paling tidak apa yang saya jadikan kritik adalah yang bisa , bukan akan, saya lakukan). Kesadaran ini, jika muncul sebelum melontarkan kritik biasanya akan me-rem si pengkritik dari abusal words, akan memblokir keinginan2 songong-arogant-nya, dan membuatnya tampil lebih humble, bersahaja dan tak berlebihan. Sebaliknya, orang2 yang asal memuntahkan kritikan akan tampil sebagai penggerutu yang nilainya tak jauh lebih buruk dari “bunyi gerutuannya”. Keras dan jelek seperti suara keledai.

Sifat manusia memang yang tak pernah puas itu. Sifat manusia memang yang lupa pada dosa2nya sendiri itu. Sifat manusia memang yang tak mau ingat pada kekurangannya sendiri itu. Sifat manusia memang yang selalu merasa paling benar meskipun salah. Sifat sombong itu … memang sifat manusia.

Saya menjadi letih melihat orang2 yang saya pikir akan mensyukuri takdir tapi ternyata tidak. Saya capek melihat orang2 yang saya kira setelah kemenangan akan mendukung kemenangan dan bukannya malah menggerutu membuang hajat kotor lewat mulut, tangan dan pikiran2 mereka. Saya muak melihat orang2 yang setelah keinginannya tercapai menjadi penuntut yang tak tau diri. Lupa diri…..

Teruslah menggerutu kalau kau suka menunjukkan kerendahanmu sendiri. Teruslah mengomel kalau kau suka berada dalam kelemahanmu sendiri. Teruslah menuntut apa saja yang kau suka tuntut meski itu tak membawamu kemana mana selain menampilkanmu sebagai seonggok kaos kaki lusuh dan bau. Bah!

 

 

0cb93815f50e0b8527470195dd1182e0