Saya suka memutarkan ayat2 suci Qur’an untuk didengar anak2 sebelum mereka terlelap tidur. Tapi kegiatan saya ini dikritik mertua. Katanya sih, lebih baik saya sendiri yang membaca ayat2 suci itu, daripada memutar ‘rekaman’; malah gak ada ibadahnya. Terus terang saya kesal sekali dikritik begitu. Setau saya, mendengarkan orang mengaji itu bagus, langsung mengaji lebih bagus lagi. Mungkin kalau mau ribet, orang bisa lagi bilang; ngapain denger kalau gak ngerti? and kalau mau ribet lagi bisa juga bilang : daripada langsung baca trus tajwid nya salah salah, udah gitu gak ngerti pulak artinya?

Pendeknya saya suka mendengar karena lantunannya yang indah, selain saya percaya bahwa sabda-sabda Allah itu terlalu indah didengar telinga bahkan terlalu indah untuk didengar hati. Jadi sementara saya tak menguasai tajwid, saya pikir lebih baik mendengarkan anak2 rekaman.

Tapi saya tak mendebat mertua. No. Tiap orang berhak punya keyakinan masing2. Dan seperti biasa saya “mencari”.

Saya menemukan kekuatan ayat2 suci bagi orang yang justru tak mengerti apapun soal ayat suci, tapi kesucian dan kebesaran ayat itu mampu menembus sanubarinya.

“Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” SQ. Al-A’raf: 204.

Ketika Kitabullah dibaca, maka dia akan mendapatkan banyak kebaikan dan ilmu nan luas, terus memperbaharui keimanan, petunjuk yang terus bertambah, pengetahuan agamanya. Oleh karena itu Allah menyambungkan agar mendapatkan rahmat dariNya. Dari situ menunjukkan,bahwa ketika dibacakan Kitabullah kepada seseorang sementara tidak mendengarkan dan memperhatikan dengan tenang, maka dia tidak mendapatkan bagian rahmat, maka dia terlepas banyak kebaikan. 

(http://islamqa.info/id/150633)

 

Advertisements