Mungkin ini cuma perasaan saya saja. Sebetulnya kalau saya mau fokus pada yang baik2, bisa saja. Tapi perasaan saya membuat saya fokus pada yang jelek2. Bahwa saya ditempatkan di lokasi yang banyak aksi bidahnya, itu bukan kemauan saya, dan bahwa 5 dari teman2 ngobrol saya banyak membawa aura negatif, itu juga bukan mau saya. Mengapa saya diposisikan pada kondisi seperti ini, itulah yang menjadi pertanyaan saya.

138fb0f3d8955c7b31075c1680a465d7

Ada orang berilmu dengan segala atribut keagamaannya, tapi tidak menunjukkan bahwa dia berilmu, ada orang yang tak beratribut agama, tapi stok ilmunya banyak karena tak merasa pernah puas mengejar ilmu, ada pula orang yang tak beratribut agama, tak juga mengejar ilmu karena merasa sudah cukup. Ada lagi orang yang merasa berilmu tinggi dan memakai semua atribut atribut agama cuma untuk urusan tertentu saja.

Ada orang yang hanya suka menilai, ada orang yang suka mencari fakta. Ada orang yang gampang dipengaruhi, ada pula yang tak gampang dipengaruhi. Ada orang yang fokus pada materi, ada orang yang fokus pada ketenangan hati, ada orang yang mengejar duniawi, ada pula yang hanya memikirkan bekal akhirat, ada orang yang tak bisa mengekang nafsu birahi, ada yang tak bisa mengekang nafsu marah, memfitnah, menghakimi, ingin kaya, dll dll. Tapi ada yang jago mengekang nafsu birahinya, nafsu marahnya, nafsu gibahnya, nafsu ingin kaya, tapi melakukan bid’ah.

Kesimpulannya all people make sin, but deal with diferent evils!!! That’s why we should not make any judgement to any body just because we are sinner. Temen saya bilang dengan santai seperti ini : gak usah banyak omong, kalau membuang sampah kecilpun kau belum disiplin. Omongannya itu membuat saya berpikir, iya juga ya… orang2 yang ocehannya banyak itu kadang masih ada saja yang buang sampah sembarangan, atau suka merumpi ngomongin orang. atau suka nonton video porno diem2… dll dll. Anyhow ada juga yang ocehannya gak terdengar, tapi dosanya lain lagi; penipu misalnya, pengemplang pajak misalnya, atau koruptor.

40b35f6046bb01cca828602566ac1556

Dengan diposisikannya saya ditengah-tengah keberagaman manusia termasuk saya didalamnya, saya jadi berpikir, apa sih yang sedang diupayakan olehNYA untuk saya mengerti dan menjadikannya ilmu? Tiba2 orang2 disekeliling saya menunjukkan begitu beragamnya karakter manusia yang jauuuh, jauuuuh dari sempurna, termasuk karakter saya sendiri.

Bahkan disaat yang sama, ustad panutan saya yang selama ini saya jadikan sumber pencerahan iman saya pun ternyata banyak mendapatkan fitnah dari “ustad2″ lain yang se”level” dengannya. Beliau di fitnah dan dijadikan objek ghibah oleh orang2 jago dakwah (juga) dan fitnah itu disebarluaskan juga! Subhanaa Allah…. tanda2 apakah gerangan ini? Gak heran wong ustad sekaliber itu saja masih bisa diserang fitnah? apalagi Jokowi yang bukan siapa2?

Jadi apa ini? Apa tugas saya? apa yang dituntut dari saya? bercermin? sabar? semakin tawakal? menggunakan ilmu2 saya dalam kehidupan? dan tak sekedar manis di mulut saja? karena teori memang selalu lebih mudah dari praktek? Apa? sebuah warning bahwa saya harus memakai atribut agama (hijab) supaya omongan saya lebih didengar orang? supaya dakwah yang saya sampaikan tak mendapat cibiran? Lalu atribut agama yang dipakai koruptor itu apa gunanya? kenapa saya harus dituntut beratribut juga kalau sudah jelas atribut tak menjamin apapun?

Kekuatan ucapan, kekuatan kedudukan atau posisi, kekuatan ilmu,  kekuatan sebuah tindakan, dan semua kekuatan lain itu hanya akan memiliki efek, bukankah jika Allah merestui? saya bisa belajar banyak hanya dari omongan seorang anak kecil yang belum tau apapun soal kehidupan, mengapa? Karena Allah memberi kekuatan pada anak itu untuk memberi saya pemahaman tertentu. Sebaliknya, ibu saya yang sudah haji, ilmu agamanya adalah, imannya kuat, suka dakwah, suka ngaji, kok kalau menasehati saya tak pernah menjadi “ilmu” buat saya? apakah memang karena Allah menabiri?

Lalu kenapa saya harus marah ketika kebenaran yang saya sampaikan diludahi? atau kenapa orang harus marah pada saya ketika kebenaran menurut mereka itu saya tolak mentah2??? campur tangan siapa? Allah SWT!

Saya tak tahu saya sedang dalam proses apa…

Dilain pihak Allah bilang

10417737_10152422334116436_8784119153646189942_n

 

 

Apakah artinya semua kondisi ini memang sudah aturanNYA dan saya bukan berada di tempat yang harus “menilai” orang? melainkan diri sendiri? It is not how should I re-act but how should I act with the best in me? to do my best for my own good? Ignore the ignorents if they dont want to listen the truth? because whatever happens beyond my expectation are beyond my teritory too but HIM?

Apakah artinya ini adalah kaca? bahwa apa2 yang tak saya sukai bisa berarti apa2 yang saya berpotensi memiliki dan melakukan? dan bahwa saya harus jauh lebih hati2? Bahwa yang saya lihat adalah refleksi dari sisi kemanusiaan saya? yang seperti sel kanker, semua orang punya hanya saja ada sel kanker yang tidur, dan ada yang aktif? tindakan apa yang harus saya lakukan supaya saya tak menghidupkan sel kanker yang menjad fitrah saya untuk kemudian menjadi pembunuh saya? tindakan apa pencegahnya?

Saya tak boleh bersombong hati dengan ilmu saya. Saya kasihan dengan orang2 yang melakukan bid’ah atau ghibah atau fitnah atau apapun itu, tapi saya tak harus lantas sombong karena sayapun memiliki dosa lain yang mereka tak miliki. Apa ini juga menjadi salah satu maksud kejadian2 ini? mengajari saya untuk tidak sombong meskipun berilmu? tidak munafik juga karena sudah berilmu tapi masih jadi pendosa? lalu apa hak saya menghakimi sesama pendosa? Bukankah untuk menjadi hakim yang adil, saya harus suci terlebih dahulu? tak pernah berbuat dosa? and who am I ???

0f19c70e29bdaf0566299da55e724f20

 

Advertisements