Aku tak tau seberapa sering kau ditempatkan pada posisi dimana kesabaranmu mencapai puncak tertinggi. Ketika kau benar2 ditahan untuk tidak menyemburkan sesuatu sebagai dosa dan tak melakukan apapun selain menyebut namanNYA sebagai setinggi-tinggi batas kesabaranmu.

Ketika amarahmu tak lagi memerah seperti bara yang membara, tapi menghitam mengarang. Ketika kau memilih diam sebagai satu2nya pilihan atas nama hormat dan bakti. Ketika kau menekan egomu sampai harus menginjaknya dengan kaki supaya kesabaranmu tak dipecahkan karena emosi sesaat. Ketika kau hanya diberi mampu menelan ludah dan membiarkan kesal mencekikmu tanpa ampun. Nafasmu megap-megap mencari udara segar, karena busuknya amarah memakan 99% oksigen yang beredar ditubuhmu.

Entah berapa kali kau pernah ditempatkan pada posisi itu

Aku? sering.

Ada keinginan untuk membantah dan berbantah-bantahan, memakani ego sebanyak mungkin biar dia membuncit dan meledak diujung langit kepalaku. Tapi tak kulakukan karena ilmuku sendiri mengekangku.

Kadang2 kebenaran tak harus diperdebatkan memang, biar Allah saja yang menuntun yang sesat atas doa dan hidayahnya masing2. Dan aku biar sibuk mengurusi dosa dosaku sendiri……

a7f83e792b1e8136bdc247c642adb880

Advertisements