Saya kadang berpikir, lebih baik dosa yang mana sih? suka menghujat orang lain? atau suka melakukan dosa diam2?  Kok rasanya dosa menghujat orang lain itu kejam sekali. Karena mengandung fitnah, mengandung sok tau, mengandung takabur, dan bagaimanapun jeleknya seseorang dimata seseorang, manusia itu kan ciptaanNYA? rasanya kalau Allah saja melarang kita untuk menilai orang, apalagi menghujat orang? Parahnya lagi orang yang dihujat oleh mulut2 setan itu sama sekali tak dikenal oleh mereka. Mereka menghujat atas nama MEDIA. Itu TOK!!

Seperti kemarin, tiba-tiba ada kawan yang ngajak debat soal kebijakan Jokowi dalam hal pencalonan kapolri. Boleh-boleh saja dia tak setuju dengan manuver politik Jokowi, boleh-boleh saja dia mengungkapkan apa yang menurutnya seharusnya dilakukan Jokowi (sok pinter banget, padahal urus diri sendiri aja gak BECUS!), boleh-boleh saja dia bicara politik. Itu hak dia, gak mungkin ketika saya mual mendengar ocehannya, saya lalu menarik pelatuk pistol dan meledakkan otaknya (meskipun saya sangat bernafsu melakukan itu).

Tapi kemudian dia mulai menilai Jokowi dengan kata-kata yang tak pantas disebut oleh orang , yang saya pikir, terpelajar. Hujatan-hujatan kata-kata kasar yang dia tujukan pada presiden yang tak diakui presidennya itu (karena presiden dia itu Tukul Arwana, mungkin), benar-benar tak saja menjatuhkan harga dirinya di depan mata saya, tapi juga membangkitkan kebencian segunung. Sungguh manusia virus yang rupanya bisa hidup sebagai penyebar penyakit hati! Orang-orang seperti ini kalau kita besar hati, harus kita doakan supaya kembali ke jalan yang benar, dan kalau kita tak kuasa untuk berbuat baik, sebaiknya di DELETE dari kehidupan kita selama lamanya! karena mulut dan kata-kata tak pantas yang berhamburan dari dia itu adalah cermin isi hatinya. Jahat.

Tentu saja respon saya terhadap orang-orang berhati jahat seperti itu adalah membela diri. Itu pasti OTOMATIS, dan tidak bisa tidak. Semua manusia dibekali insting membela diri apabila jiwanya merasa tak nyaman dan terancam. Tapi tindakan inipun mendapat cap “CINTA YANG MEMBUTAKAN”. Dia pikir saya buta karena cinta pada Jokowi?? Sama sekali tidak. Saya meradang bukan apapun selain karena MULUT BERGAS METANA itu!!!!

Ohh, saya sering debat dengan kawan membicarakan politik, bahkan dalam posisi oposisi, tapi tak pernah sejarahnya saya dan kawan saya itu sampai saling benci. Kenapa? kami memilih KATA-KATA yang baik yang kami yakin tak akan menyakiti hati siapapun. Begituuu banyak pilihan kata menohok yang tak beresiko apapun, dan itu yang kami pilih! Saya juga selalu berusaha membaca tanda-tanda kapan pembicaraan harus dihentikan dan diganti senda gurau, begitu juga mereka. Dalam pembicaraan seperti ini, rambu-rambu komunikasi kami perhatikan dengan teliti. Sehingga pembicaraan bisa melumer setelah mengeras sekian lama, dan hubungan baik tetap terjalin tanpa harus dendam kesumat.

Masalahnya tak semua orang menguasai keajaiban berkomunikasi. Orang-orang yang ilmu komunikasinya CUPET itu biasanya gampang terpancing menjadi setan lalu membabi buta menyerang lawan bicara padahal mereka belum tentu benar. Orang tak lagi melihat apa yang dia permasalahkan tapi melihat pribadinya yang tiba-tiba seolah membuka menunjukkan : “INi lo aku yang sebenarnya. Sama dengan setan kan?”

Dan kawan yang kemarin mengajak debat saya di whatsup itu melakukan tehnik komunikasi yang justru membuka aibnya sendiri. Tiba-tiba kesan terpelajar yang selama ini dia sandang, lenyap begitu saja. Mulut yang dia isi dengan kata-kata kotor itu telah membanting harga dirinya sendiri di depan mata saya. Ketika dia menyerang pribadi dan bukan masalah, ketika itu pula saya melihat jelas siapa dia sebenarnya.

Orang-orang tipe sok pintar dan sok tau ini lupa bahwa :

Politik di sekitar Istana memang mengerikan. Ada penjilat, ada para munafik, ada pembisik informasi palsu, ada yang diam-diam tapi pengkhianat.

“Ada yang manggut-manggut tapi menikam dari belakang, ada mata-mata, agen rahasia, ada yang mengancam dengan kata, ada yang dengan senjata. Si jahat berkerja di dunia nyata hingga maya. Di Istana ada ribuan kepentingan yang bekerja dengan jutaan cara,”.

Jokowi si tukang mebel itu sekarang sedang berhadapan dengan konspirasi tak tampak mata, konspirasi yang bisa lebih silent dari freemason, bisa lebih jahat dari Nazi. Konspirasi tanpa bentuk, tak beraroma, tak diakui tapi ada dan bekerja.

“Di luar sana ada banyak aktivis mahasiswa yang bahkan melawan dosen pun tak punya nyali. Ada banyak tokoh yang takut bahkan pada istri sendiri, ada banyak pengamat yang kalah pada birahi. Dan kini mereka semua berlomba menghakimi Jokowi seolah mereka yang paling berani,” (Adian Napitupulu)

Orang-orang GAGAL biasanya memang paling keras mengkritik orang lain dengan kata-kata kotor yang tak pantas diucapkan pada sesama manusia.

Saya bukan cinta buta pada presiden saya. Saya hanya memposisikan diri sebagai pendukung yang melihat kenyataan dengan damai hati. Saya sangat capable, sangat mampu menghujat orang siapapun itu, tapi tidak saya lakukan. Bukan saja karena saya tak terbiasa, tapi karena buat saya menghujat sesama ciptaan itu bukanlah sebuah kepantasan.

Saya tak merasa rugi kehilangan teman yang TERNYATA bermuatan negatif dan berpotensi menghancurkan orang lain. Tanpa orang-orang seperti itu, hidup saya akan jauh lebih baik. In shaa Allah.

1011191_395671173875686_596641930_n