Ini opini saya saja..

Tak ada ilmu yang melatarbelakangi asumsi saya ini. Tapi sepanjang ini berpengaruh banyak pada keimanan saya, saya pikir tak ada salahnya saya tulis untuk berbagi.

Ini soal takdir dan soal ikhtiar manusia. Ini soal qada (ketetapan) dan qadar (keputusan). Sejauh ini saya belum menemukan sumber yang bisa mendefinisikan secara berbeda apa itu qada dan apa itu qadar, rata2, definisi mereka sama. Namun saya juga pernah membaca bahwa qada yang sudah dieksekusi itu menjadi qadar (ini menjadi salah satu patokan saya).

Selama ini saya juga sempat bertanya-tanya, apa guna doa? apa guna ikhtiar? kalau semua sudah diputuskan? (qadar). Saya sempat juga menanyakan, kenapa dimalam lailatul qadar itu Allah mengabulkan banyak doa orang yang ingin naik haji bagi yang beruntung? kalau sudah menjadi qadar orang2 terpilih itu, kenapa harus berdoa dan ikhtiar mengejar malam lailatul qadar?

Cerita bahwa doa bisa mengubah nasib manusia menjadi takdir itu gimana ceritanya? bukankah takdir is takdir yang sudah tertulis dan tak bisa dirubah lagi karena tinta pena telah mengering? Bahwa apapun yang dilakukan manusia adalah atas kehendakNYA dan telah sejalan dengan takdirNYA? sehingga doa atau ikhtiar tak mampu merubah apapun?

Tapi kenapa manusia didorong untuk BERHARAP? dan dilarang putus asa??? didorong untuk berdoa dan berusaha?

Kembali ke soal qada dan qadar….dimana qada bisa diartikan sebagai ketetapan dan qadar sebagai keputusan, dari pembicaraan dengan seorang teman, secara tak sengaja saya bisa menyimpulkan seperti ini:

Manusia itu sudah ditetapkan garis hidupnya (a.k.a qada) yang biasanya bisa kita sebut dengan nasib. Tapi sebelum menjadi qadar (keputusan), manusia boleh melakukan ikhtiar, entah doa ntah usaha, ntah ibadah dan lain-lain. Ruang antara qada dan qadar ini menjadi “RUANG KESEMPATAN” yang diberikan Allah untuk manusia termasuk segala pengampunan dan perubahan nasib. Sebagai yang MAHA TAHU dan MAHA PENCIPTA seharusnya memang ALLAH sudah tahu kelak qadar seperti apakah yang akan menjadi qadar seseorang, tapi KITA,manusia, TAK PERNAH TAHU. Kita tahu setelah semua tereksekusi di depan mata kita.

Itu sebabnya mengapa, misalnya ketika kita mendapat ujian kemiskinan lalu kita merasa bahwa itu TAKDIR yang tak lagi dapat berubah, kita cenderung putus asa bukan? kita cenderung berpikir “sudah takdirku begini, apapun yang aku lakukan, aku akan terus begini”. NO! itu masih sebuah ketetapan dan belum menjadi keputusan. Kita dilarang putus asa dan dipaksa untuk tak berhenti ikhtiar supaya kita mau terus berjalan dengan keyakinan tinggi mencapai qadar yang lebih baik. Kemiskinan itu masih berstatus qada, masih belum menjadi qadar. Kita perlu berjuang untuk mencapai qadar terbaik, sebisa mungkin! dan semua manusia dimampukan untuk mencapai yang terbaik yang bisa mereka capai.

Allah telah memutuskan semuanya, itu benar. Allah telah mengetahui semuanya, itu benar. Tapi itu Allah SWT, bukan kita. Kita tak tahu apa-apa. Yang kita tahu, sebelum ketetapan kita menjadi keputusanNYA, kita diberi kesempatan untuk ikhtiar dan berdoa. Menadahkan tangan kepadaNYA dan meminta, merengek, menangis supaya kita mendapatkan qadar yang terbaik dunia akhirat, dan kesempatan untuk merubah qada ini terbuka… sangat terbuka lebar. DIA tak tidur dan selalu dalam kesibukan mendengarkan doa hambaNYA dan melakukan sesuatu untuk hambaNYA.

Antara qada dan qadar itu, DIA bekerja siang dan malam……..

Betapa bodohnya kita jika berhenti pada qadaNYA dan tak mengejar qadar terbaikNYA…

images (2)