Konon kabarnya orang2 yang berzodiak Gemini itu bermulut tajam setajam silet.  Apa iya sih Pak Ahok itu berzodiak gemini juga?

Saya mengenal dua orang gemini yang memang terbukti bermulut tajam. Gemini itu kalo lagi sopan too much, tapi kalau lagi edan ya too much juga. Oh ya… saya itu gemini juga sih. Saya akui, tak beda dengan dua orang gemini yang bermulut tajam itu, saya juga kadang bermulut tajam. Ada saat2 tertentu dimana sadar atau tak sadar saya bisa memuntahkan kalimat atau sekedar kata2 menohok yang bikin orang pundung sampek mabok berhari-hari gak kuat senyum. Terus terang pada saat mengucapkan memang dikepala saya , running searching machine untuk mencari kata atau kalimat paling pedas yang bisa saya pakai untuk mengekspresikan perasaan saya.

Gemini sering membela diri atas kebiadaban mulut nya itu dengan kalimat : sudah tau mulutku begitu, kenapa dipancing untuk begitu? Tapi itu gemini yang satu, bukan saya. Saya seringnya tak membela diri atas kelemahan mulut saya itu. But, sebagai gantinya ya saya berbesar hati menerima resiko akibat perbuatan saya itu. Dimusuhi atau didiemi atau ya di ambek. Gak apa-apa. Manusia ekspresif itu juga beresiko, meski ekspresifnya lewat kata2 menyakitkan.

Bicara soal menyakitkan kadang gak harus menggunakan kata2 makian atau kotor sebetulnya. Kalau saya lebih suka memilih kalimat yang kata2nya pedas (bukan kotor) yang mungkin sama efeknya atau malah lebih najong.

Lalu dari soal mulut tajam ini, saya jadi inget kasus Pak Ahok yang sekarang naik daun karena terkenal hobby memaki.

Sebagai seorang ibu saya memang tak pernah mengajarkan atau mencontohkan pada anak2 supaya berkata-kata kotor. Dari video game mereka belajar kata2 : FAKYAAA….or DAMN or SHIIIIT, or ASHOLE. Sementara dari sekolahan (oh my GOD its sekolahan!) mereka dapat kata2 : CUK!, ASU!!, GOBLOK!, or JANCUK (versi lengkap). Nah kalau kata2 ini tertangkap kuping saya mereka ucapkan, bisa dipastikan mereka akan dapat rentetan omelan. Saya tak suka sama sekali.

Tapi lucunya, ketika Pak Ahok mengucapkan kata2 makian dan dia lakukan sebagai ekspresi kekesalannya terhadap para koruptor, tikus2 berdasi yang performance mulutnya luar biasa manis tapi kelakuannya busuk, saya kok malah suka ya??

Ada kepuasan tersendiri yang ikut terbangun dengan makian2 Pak Ahok itu. Betapa bencinya saya pada koruptor yang mretelin uang rakyat hanya utk membuncitkan hartanya, Tapi saya tak bisa memaki mereka, dan Pak Ahok mewakili saya! Alih2 kesal dengan makian beliau, rasanya kok saya malah ingin tepuk tangan ; “BRAVO pak Ahok!!! Bravo!!!”. Lebih seru lagi kalau, kekurangajaran itu ditambah dengan “ngeplak kepala” para koruptor sambil bilang “BANGSAT LU!!” , waaaahhh saya akan merasa lebih terwakili lagi dan mungkin akan memberikan penghormatan “Buka topi”

Kenapa saya merasa begitu?

Mungkin karena memang ada orang2 yang menurut saya sangat pantas menerima perlakukan seperti itu (dimaki). Jelas kok mereka melakukan kejahatan. “Makilah orang pada tempatnya” buat saya sah sah saja. Tapi memaki yang tak pada tempatnya buat saya, NYAMPAH.

Saya bukan pemaki sebetulnya, karena tak pernah punya hati untuk melakukan itu, tak juga dididik untuk begitu. Tapi ketika Ahok memaki koruptor, saya tepuk tangan karena mewakili saya dan perasaan saya dan keinginan saya untuk melakukan hal yang sama tapi tak bisa. Tak ada kata2 amarah lain yang se ekspresif makian untuk cecunguk sekelas koruptor, mereka pantas mendapatkan itu.

Oh well… jadi kesimpulannya adalah; buanglah sampah pada tempatnya, buanglah makian pada yang pantas menerimanya. Meskipun agama tak mengajarkan soal bolehnya memaki semarah apapun kita, tapi saya tak keberatan dengan apa yang dilakukan Ahok. Sungguh….

5-cara-cepat-atasi-rasa-pedas-di-mulut

Advertisements