Ntah karena apa, sekarang lagi musim2nya membanding-bandingkan Ahok dengan Ridwan Kamil. Ahok itu gubernur DKI, Ridwan itu walikota Bandung.

To be honest, kalau membandingkan itu tujuannya adalah berlomba-lomba dalam membuat prestasi, saya suka. Karena mereka berdua adalah sama2 putera daerah yang prestasinya bagus. Gak heran karena pencapaian2 mereka itulah mereka menduduki jabatan yang sekarang. Masalahnya, mereka dibandingkan bukan atas dasar prestasi, tapi, bahasa saya doang nih, kebencian. Mereka dibandingkan atas dasar kebencian.Ini, saya Tidak SUKA.

Sebelum kebencian masuk merasuk di hati mereka, sebelum kebencian ditiup-tiupkan kelompok2 tak bertanggung jawab, prestasi Ahok, prestasi Ridwan, bahkan prestasi seorang Jokowi pun dianggap prestasi LUAR BIASA dari putera putera daerah. (Tinggal googling deh kalau memori kalian sudah terlalu uzur untuk diajak mengingat kembali prestasi2 mereka sebelum kebencian masuk ke pikiran kalian, saat itu kalian berhasil melihat prestasi mereka murni sebagai prestasi tanpa embel2 ketidaksukaan. Ingat…masa masa itu pernah ada).

Ketika kebencian yang ntah berasal darimana, di tiupkan ntah oleh siapa, dan karena apa, merasuk ke hati lalu loncat ke kepala, hal2 yang tadinya prestasi kemudian ditambahi dengan embel2 : ah PENCITRAAN. Dulu blusukannya Jokowi selalu mendapat ancungan jempol (ketika dia masih menjabat walikota Solo dan di awal2 tugasnya sebagai gubernur DKI). Media meliputnya sebagai putera bangsa yang lain dari yang lain. Tetapi, anehnya, ketika acara blusukan itu tetap dia lakukan dengan jabatan sebagai Presiden, atau sejak menjadi kandidat presiden, kebiasaannya itu tiba2 dinilai sebagai pencitraan. How come??? kenapa begitu? pernah kalian bertanya gak?

Sekarang Ridwan Kamil pun begitu. Apa yang dia lakukan dipuji puji orang.Tapi melihat “gaya masyarakat” kita, saya kuatir pada satu titik Ridwan akan mengalami nasib serupa seperti halnya Jokowi. Orang2 yang penuh kebencian, bisa saja meniup2 berita yang membuat rakyat lalu mulai menilai apa yang dilakukan Ridwan adalah pencitraan. Maunya apa sih masyarakat ini? Kenapa mereka tak mendukung saja prestasi2 para pimpinannya dan mengenyampingkan kebencian?

Orang boleh mengatasnamakan apaaaaaa saja untuk menutupi sebuah “kebencian”. Mereka bisa mengatasnamakan jihad, bisa mengatas namakan bangsa dan negara, bisa mengatasnamakan agama, dan lain lain dan lain lain. Selama mereka sendiri yang membuat penilaian, mereka bebas mengatas namakan apapun untuk menutupi kebenciannya.

Membanding-bandingkan prestasi itu okelah, asal jangan membanding bandingkan dengan cara yang NYINYIR. Alih2 menumbuhkan rasa bangga bangsa karena tumbuhnya generasi2 berprestasi, sikap seperti itu malah memicu EGO orang lain untuk PERANG EGO. Alih2 menumbuhkan persatuan, malah memunculkan perpecahan. Alih2 meningkatkan rasa nasionalisme antar pemuda, malah menciptakan bibit2 kebencian di hati para pemuda pemudi bangsa. Karena apa yang kalian anggap benar belum tentu benar untuk orang lain, dan karena apa yang kalian sukai belum tentu disukai orang lain, dan karena apa yang kalian pikir hebat, belum tentu hebat menurut orang lain. Kalau EGO manusia sudah diperbandingkan, digesekkan, yang muncul ya API. Lalu apa gunanya???

Setiap pemimpin daerah punya ruang lingkup permasalahan masing2 yang cara penyelesaian masalahnyapun tak harus selalu sama. Setiap mereka punya tantangan berbeda, dan tingkat kesulitan yang berbeda. Mereka juga punya style yang berbeda dalam menghadapi permasalahannya masing2. Ada yang nyantai super nyantai, ada yang menggebu-gebu, ada juga yang cuek aja adem ayem. Itu semua kan manusiawi, kita juga begitu kok.

Jakarta yang dipegang Ahok itu masalahnya apa sih? macet ya banjir kan?. Bandung itu juga naudzubilla macetnya woi!! Saya kalau ke Bandung lebih milih naik angkot daripada bawa mobil, atau lebih baik jalan kali kalau jauhnya tanggung. Macetnya bisa lebih gila dari Jakarta kalau week days. Banjir? ya Bandung itu banjir juga kok. Citarumnya itu malah tiap hari ngangkut tinja sebanyak 10 ton. Kebayang gak kalau banjir gimana???? Angkot di jalan Pasteur itu kalau pas banjir bisa tenggelam keliatan atapnya doaaang. Tapi ya orang Bandung mah kalem aja gak berisik seperti orang Jakarta. Tanya aja kenapa. Sebentar lagi Surabaya or Bandung bakal nyusul rekor Jakarta sebagai kota termacet sedunia. Liat aja.

Nah ini soal sekolah juga, Bandung itu sekolah negeri masih banyak yang bayar uang sekolah. Range nya macem2, dari 150-300 rb / bulan (SD Negeri), dan 500rb/bulan (SMA). Itu tuh kalau mau ujian kudu bayarrrrr lagi. Hhhhhh… sedihnya jadi orangtua di Bandung. Coba di Jakarta begitu, tinggal angkat telp, lapor ke pak Ahok, kepsek nya langsung di suspend!!!

So come on…. berhentilah membuat perpecahan dan cobalah lebih nasionalis. Melihat sesuatu dengan kacamata positif, jangan nyinyir. Berprestasilah kalau memang kalian cinta bangsa ini. Kalau tak bisa berprestasi setidaknya kalian membangun optimisme bangsa dengan berpikiran yang gak melulu berisi provokasi. Diam saja kalau niatnya mau provoke. Kalian gak akan pernah tau efeknya ke orang yang membaca tulisan kalian. Mau bertanggung-jawab kalau terjadi sesuatu akibat tulisan2 kalian???

Kalau saya sih, lebih suka menginspirasi daripada memprovokasi…… semua tinggal soal pilihan.

ff5d954b1d656c00508b2cd0fe03245e

Advertisements