Saya ngobrol dengan seorang teman tadi malam. Dia dan saya berbeda keyakinan, tapi soal ketuhanan, kami punya pandangan yang sama. Lucu ya?

Bagaimana mungkin orang2 sereligius itu bisa dibenci? sehingga harus dibunuhi seperti ISIS membunuhi 1500 orang kristian di Iraq. Saya bisa melihat hati teman saya ini penuh kasih dan sayang… bahkan ketika dia mendoakan saya seperti ini : ” May Jesus bless you…” saya mengamini and said thanks. Sepertinya dia tau bagaimana me-lafazkan nama Jesus pada seorang muslim…. tak pakai embel2 Tuhan sebelum nama Jesus; begitulah adab nya :D.

Sebagian kristian bisa saja tak mengakui Nabi Muhammad saw, tapi kami muslim, kita muslim mengakui kerasulan nabi Jesus a.k,a Isa Al Masih. Rasul yang memang di Qur’an pun dilukiskan sebagai rasul yang berhati lembut, putih dan penuh kasih sayang. Sama seperti rasul-rasul yang lain, saya juga mengagumi Nabi Isa a.s

Dari obrolan2 religius kami berdua yang notabene berbeda keyakinan, ada banyak hal yang kami sependapat dengan pemahaman segaris lurus, tak ada mencongnya sama sekali. Sampai saya harus bertanya: kenapa bisa berpikiran begitu? apakah hasil analisa sendiri atau hasil pendalaman ajaran religi? Teman saya menjawab singkat : hasil ajaran Tuhan. Ooooh… pantesan sama. Ajaran Tuhan memang harusnya berlaku universal, tidak mengkotak kotak. Tapi kenapa kemudian harus terjadi pengkotak kotakan, walahuallam….. bisa saja karena kehendakNYA. Tak perlu dipertanyakan kenapa, karena yang terpenting adalah, sudah sejauh mana ajaranNYA itu kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Obrolan kami itu tak begitu berat, tapi tidak juga ringan. Kami bisa membicarakan masalah religi dari sudut pandang yang sama melalui kotak yang berbeda. Dan itu asik. Dia tak melihat saya sebagai muslim dan saya tak melihat dia sebagai kristian. Saya dan dia sama2 merasa sebagai ciptaan yang dalam kehidupan ini harus banyak memohon padaNYA untuk keselamatan dunia akhirat, untuk kekuatan, dan untuk keiklasan yang besar tentang apa yang kita punya adalah apa yang kita butuhkan dan bukan kita inginkan.

Dititik ini saya merasa Firman Allah tentang : “Bahwa yang paling dekat denganmu adalah umat nasrani dan yahudi (people of the book)” menjadi terasa benarnya. Nasehat2 spiritual teman saya itu begitu mengena dengan jiwa saya dan sejalan dengan apa yang harus saya lakukan sebagai seorang muslim. Sama sekali tak ada pertentangan. Bahkan kata per kata bisa begitu samanya.

Saya pikir, andai dunia ini bisa sempurnya, tentunya umat Nabi Musa a.s sampai umat Nabi Muhammad saw akan memegang prinsip2 religi yang sama, mengingat ajaran ketuhanan yang memang sifatnya universal. Tapi dunia ini bukan letaknya kesempurnaan. Dan disitulah arti perjuangan itu sebenarnya.

In shaa Allah saya akan selalu berusaha bersikap ‘humble’ pada sesama manusia. Keragaman itu adalah hasil karyaNYA yang harus kita kagumi keberadaannya, dan bukan untuk dimusnahkan. Karena kalau DIA mau, DIA lah yang akan memusnahkannya.

Indahnya Tuhan itu terasa ketika perbedaan tak lagi terlihat sebagai perbedaan, melainkan sebagai kebesaran ILLAHI.

images (8)

Advertisements