Aku rasa kalau dosa itu tak pernah dihitung, malam itu sudah kupecahkan kepalanya dengan godam duri yang kurebut dari tangan iblis. Begitu sesaknya dada ini oleh api yang ber karbondioksida sehingga, beberapa kali aku harus menarik oksigen untuk bernafas supaya bisa tetap sadar.

Kadang2 ada batas2 sabar, yang kalau terpaksa, harus dilangkahi tanpa proposal. Karena ada orang2 yang tak peka pada situasi, karena rasanya sudah menguap terbawa ego, dan akalnya membeku diujung dendam yang asalnyapun hasil karangan sendiri. Bukankah pikiran bisa mempermainkan kita sesuka hati jika kita memang mengijinkannya? dummy…

Aku merasa bahwa itulah akhir cerita kalau saja tak ada bisik2 malaikat bijak yang mengingatkanku berkali kali bahwa marah itu boleh tapi tak boleh lupa diri. Memberengut pada kehidupan itu manusiawi tapi memutuskan sesuatu tanpa pikir panjang itu bodoh. Dan aku bukan keledai.

Maka menghempas semua nafsu pada dinding ego paling keras yang ada di muka bumi saat itu adalah cuma satu satunya hal yang bisa dilakukan. Puingnya berserakan berantakan. Tak harus kubersihkan.

Tapi keimanan ternyata menuntunku pada damai qada. Mendudukkanku disana dan mengipasi cerita dengan ketawakalan yang dinginnya meniup niup hati. Sehingga api yang menyala nyala itu sedikit demi sedikit mengecil lalu hilang.

Memang ternyata ada kejadian2 yang “dibuat” melintas dihadapan kita hanya untuk sekedar menguji kesabaran. Kesabaran untuk tak mengambil gada dan menahan diri tak memecahkan kepala orang, kesabaran untuk menahan diri tak melakukan sesuatu dan kesabaran untuk berkuat hati menjinakkan amarah. Kejadian itu hanya melintas sesaat… tapi kesabaran yang kemudian mau tak mau dilatih itu bisa membuat kekuatan yang tak satupun kontraktor mampu membangunnya.

Lalu malam itu berlalu begitu saja…. begitu saja… dengan kemenangan ditanganku tanpa aku harus berbuat apa2.

52348e88b13e92e865fe430f992c81fb

Advertisements