Saya sih menyebutnya riya ibadah.

Orang yang suka gembar gembor tentang hal-hal baik yang dilakukannya suka bikin jengah kuping. Alih2 menimbulkan inspirasi untuk meniru langkah serupa, saya malah lebih terdorong untuk meludahi mereka.

Apa yang salah dengan ini? ego saya atau ego si pe-riya ibadah?

Kebaikan dia bisa jadi memang lebih besar dari dosa-dosa saya sehingga dia bisa merasa pas pas saja kalau mau sombong. Tapi maaf, sombong itu bukankah sifat setan? Bahkan the best sifat of setan, the #1 most excelent sifat setan? Bukankah sombong itu adalah jihad utama kita untuk menundukkannya diujung pedang “kerendahan hati?”

MY GOD! Pantas saya ingin meludahi. Itu sifat setan!!!

Inget dakwah ustad Webb:

Suhaib Webb:
“If a person falls into sin because of a desire, I fear not because Adam ate from the tree, repented and was forgiven. However, if a person sins because of arrogance, I fear for them because Satan sinned in arrogance and was cursed.” Sufyān bin ‘Uyanah

Tapi kita memang tak bisa memilih harus menghadapi apa, atau berhadapan dengan siapa. Tak ada kebaikan atau keburukan yang bisa kita cegah kalau memang harus kita hadapi. Itu takdir. Suka atau tak suka, ada saja cerita yang bisa menguji iman kita, atau sekedar diambil contoh untuk sebuah pelajaran yang tak datang dari sekolah manusia.

Hidup ini sekolah Tuhan…. ada pelajaran2 yang tak tertulis, yang harus dilihat dengan hati dan dimengerti oleh akal, supaya tak dilakukan secara fisik (mulut).

Jadi orang-orang riya ibadah ini, saya hanya bisa menjadikan cermin untuk diri sendiri. Untuk tidak seperti itu.. jangan seperti itu… never…

In shaa Allah

349289ab62a2607da446b211b9eb0b78

Advertisements