Kemarin saya mendengarkan beberapa dakwah ustad Nouman Ali Khan. Karena ada beberapa dengan durasi rata2 1.5 jam, saya lupa yang nyantol di kepala saya ini dari dakwah yang judulnya apa. Jadi gak bisa attach videonya. Nanti saja kalau nemu hehehehe…

Tapi yang penting banget yang ingin saya noted disini adalah sebuah pengertian (yang buat saya sangat dalam) yang selama ini gak kepikir… atau samar samar terpikir.

Uuhmm susah ya kalau menjelaskannya dari kata2 saya, enaknya sih denger langsung dakwah beliau…. #mikir

Intinya begini….

Allah tak membutuhkan apapun dari kita, not at all! NOT AT ALL!! But we need HIM. Kita yang butuhkan Allah sebutuh-butuhnya. Dan satu hal yang pasti adalah; Allah menginginkan kebaikan untuk kita, bukan untuk DIA. Just for us only. So, DIA ada untuk kita, hanya karena DIA menginginkan kebaikan kita sendiri.

Tapi….

Melakukan sesuatu kebaikan karena ALLAH ternyata bisa “diperdalam” lagi maknanya mengingat bahwa Allah tak meminta apa2 dari kita, tak juga membutuhkan apa2 dari kita. DIA hanya ingin mendidik kita menjadi manusia yang baik bukan manusia setan. Bagaimana?

Misalnya dalam kasus sederhana saja;  “mengucapkan salam”. Kita tau Allah suka jika kita mengucapkan salam pada sesama muslim “Assalamuallaikum”. Tapi ada orang yang mengucapkan salam itu hanya karena dia tau Allah suka, tapi dia tak mengucapkan doa dalam salam itu setulus tulusnya pada orang yang dia beri salam. Karena dia tak suka misalnya dengan orang itu, tapi dia tau dia harus mengucapkan salam. Bukan ini yang dimaksud “demi ALLAH”. Bagaimanapun Allah tak membutuhkan apapun dari hambanya. Makna mengucapkan salam pada sesama muslim itu sendiri adalah mendoakan bukan? Lalu apa yang Allah suka dari saling mendoakan itu? “ketulusan hati”. Ketika kita membenci seseorang, dan sebelum kita mendoakan dia lewat salam… supaya Allah suka dan menerima perbuatan baik kita, maka jadilah baik, JADILAH TULUS TERLEBIH DAHULU. Tata hati sebersih sebening mungkin, sehingga ketika kita mendoakan orang yang kita tak suka lewat sebuah salam, kita benar2 sudah dalam posisi murni iklas dan sukses menghilangkan kebencian dalam hati, karena kita tau Allah ingin kita menjadi orang baik!! Maka melakukan salam lewat cara seperti inilah yang dinamakan : Demi ALLAH, Karena ALLAH!

Sebelum sampai pada titik KARENA ALLAH, tata hati terlebih dahulu , rapikan dan bersihkan dari semua nafs yang mengotori. Karena inilah inti , melakukan sesuatu “KARENA ALLAH”.

Sama halnya dengan melakukan sholat. Sebelum kita berpikir bahwa itu adalah kewajiban yang harus dilakukan KARENA ALLAH, ada hal2 yang harus kita sadari dulu tentang kebaikan apa yang dikandung dalam sholat sehingga Allah mewajibkan? Apa? mengapa derajatnya begitu tinggi sehingga ALLAH mewajibkan? Pasti begitu banyak kebaikan yang dikandung oleh sholat. PASTI!!! Dan kenapa ALLAH Wa Jalla akan begitu marah kalau kita tak melaksanakan kewajiban ini?? Pasti karena sebetulnya begitu banyak kebaikan yang bisa kita ambil dari sholat yang mampu membuat kita menjadi manusia yang in track sesuai penciptaannya dan tujuan hidupnya. Supaya kita tak gampang jatuh dan diganggu setan, supaya kita tak gampang terseret ke neraka oleh bujuk rayu setan misalnya. Atau supaya kita terlatih menggerakkan jiwa dan hati untuk melawan nafs. Supaya kita terlatih disiplin misalnya (karena mendisiplinkan hati dan jiwa jauh lebih sulit dari mendisiplinkan raga). Atau karena Allah menjanjikan ketenangan dan kedamaian dalam sholat… begitu banyak begitu tak terhitung mungkin kebaikan2 itu. Kita harus memungutnya tiap 5x sehari, sebagai power supply. Begitu kita menyadari kebaikan2 ini, dan kita menyerap dalam hati dan jiwa bahwa kebaikanlah yang dinginkan Allah utk kita sehingga kita diwajibkan sholat, kita sudah melaksanakan sholat KARENA ALLAH.

Sholat yang sekedar sholat, yang dilakukan hanya karena kita tau itu wajib dan kita tau Allah suka dan kita tau Allah akan marah kalau kita tak jalankan, sementara makna sholat itu apa? kita tak tau. Kebaikan apa yang ada dalam sholat, kita gak tau.Kita juga tak bisa menikmati apa indahnya sholat, semua itu hanya menyimpulkan 1 hal saja: kita gak sholat KARENA ALLAH. Gak ada kebaikan yang bisa kita pungut kalau menjalankan sholat semata karena takut ALLAH marah. Allah gak butuh apa-apa dari sholat kita itu. Allah ingin kita menjangkau semua hal baik yang DIA sediakan lewat sholat.. seluas-luasnya dan sedalam dalamnya. Begitu kita berhasil memungut kebaikan demi kebaikan dan menjadikan kita manusia yang lebih baik dari hari kemarin, kita telah melakukan sholat KARENA ALLAH.

Saya jadi ingat juga kebiasaan saya mengerjakan sesuatu secara setengah hati. Apalagi  my old lady pernah nasehati begini: kalau kau tak suka melakukan sesuatu karena kau terlalu marah, paling tidak lakukan sesuatu itu karena ALLAH bukan karena siapapun. Nasehat ini pada prakteknya menjadi seperti ini: Misal saya marah pada suami sampai rasanya tak mau ngerjain apapun untuk bantu dia meski itu cuma cuci baju atau setrikakan bajunya. Tapi saya maksa diri seperti ini; saya mau bantu lakukan itu semua hanya karena ALLAH, but saya tetap gak melakukan apapun buat kau suamiku!! ini buat ALLAH dan sama sekali bukan buat kau!!! (sambil marah). Ternyata ini salah. ALLAH tak butuh apapun dari kita!! tidak setrikaan saya, tidak juga cucian saya. Ini bukan makna “KARENA ALLAH”.  Jadi next time, saya harus mengiklaskan diri membantu orang yang saya sedang tak suka LILLAHI TA ALLA karena saya tau ALLAH suka orang2 yang memaafkan dan iklas dan SABAR sehingga bantuan saya itu benar2 tulus dari hati. Saya telah berusaha mengalahkan ego saya dan melakukan kebaikan dengan tulus.  Maka saya telah sukses melakukan sesuatu KARENA ALLAH. Bukankah ALLAH menyukai setiap “kebaikan” yang muncul dalam diri seseorang? yang selalu berawal dari kebersihan hati  dan dieksekusi oleh raga?

Allah hanya ingin kebaikan untuk diri kita sendiri, bukan diriNYA. Jadi melakukan sesuatu KARENA ALLAH harus setelah melalui proses “penyadaran” bahwa Allah mengingkan kita baik, menginginkan kita tak dengarkan setan, menginginkan kita menang melawan nafs, dan banyak keinginan2NYA yang lain yang semata-mata hanya untuk kebaikan kita sendiri, BUKAN KEBAIKAN ALLAH karena DIA TAK BUTUHKAN SESUATU DARI KITA.

Kalau kita menyadari esensi kata KARENA ALLAH, in shaa Allah semua perbuatan baik yang kita lakukan KARENA ALLAH akan membawa kebaikan untuk diri kita sendiri, dunia…. akhirat. Kenali kesukaan Allah lewat segala bentuk perbuatan2 baik yang dilakukan tak hanya oleh tubuh tapi juga dengan hati dan jiwa,….disitulah esensi “KARENA ALLAH” itu terletak.

Saya jadi inget hadist (tapi lupa hadis apa), bahwa hablum minnallah belumlah sempurna sebelum sempurnanya hablum minnannas. Allah tak akan memaafkanmu, sebelum saudaramu memaafkanmu. Jadi nyambung banget dengan esensi “KARENA ALLAH” yang sudah saya jabarkan diatas kan? Allah hanya menginginkan kebaikan buat kita, sebagai No.1 dan Untuk ALLAH justru di no.2! Subhanaa Allah… MAHA BESAR ALLAH dengan segala sifat MAHA PENGASIHNYA….

eb772e92697e8852aa01b12494ecf12d

Advertisements