Reject itu kalau di “tape” di pencet, lalu tutupnya kebuka, kaset sedikit terlontar, njedul keluar. Terdorong oleh makanisme “reject”. Kalau di pabrik sepatu, qualiti kontrol itu harus jago membedakan mana sepatu yang pantas masuk di grade A, grade B, atau grade C alias sepatu reject. Sepatu reject itu sepatu yang dikeluarkan dari grade A dan grade B karena tak layak. Biasanya dibakar di pembakaran khusus. Sebagian buruh yang kedudukannya agak lumayan, kadang bisa nyelundupin satu dua pasang sepatu reject untuk dipake sendiri atau dijual murah. Se reject reject nya sepatu lisence luar negeri yang merk nya terkenal secara Internasional, rasanya tetap saja nge-branded meski rejected. #ngelantur

But, tau gak rasanya kalau yang di reject itu kamu? Diri kamu, hati kamu, keberadaan kamu, perasaan kamu? Don’t you feel like sampah? Pastilah. Sakit hati? jelas. Dan semua orang harus tau rasanya di reject karena semua orang pasti pernah me-reject. Karma itu ada? ya ada…..ntah lagi kalau buru2 minta ampun, tobat dan bener2 gak kambuhan lagi dosanya, mungkin karmanya nabrak tembok. Tapi itu juga baru asumsi… bisa jadi karma tak mengenal tobat. Ampun gak ampun, karma tetap jos gandos balas “dosa”. Walahuallam… berdoa saja supaya cara kerja karma bukan begitu alias bisa di begal dengan tobat nasuha.

But, sayangnya gak semua orang yang pernah me-reject orang lain ingat bahwa mereka pernah me-reject. Biasalah itu. Orang yang menyakit hati orang lain gak bakal inget kalau pernah nyakiti. Yang inget itu selalu orang yang disakiti. Orang2 oppresed itu ingetannya tajam soal hati dan perasaan. Cium “baunya kejadian” aja dia langsung terbakar lagi dan lagi dan lagi. Sementara orang yang nyakiti itu, biar kata diingatkan dengan bom nuklir juga kadang2 gak inget; amnesia akut.

Tapi ya begitulah hidup. Ada hal2 yang kalau memang harus dia atau kita rasakan, hal itu akan datang tanpa bisa dicegah. Lu nyakiti orang, maka lu akan disakiti balik dengan kadar sakit yang sama persis seperti ketika lu nyakiti orang itu. Begitu aturan karma. Makanya lain kali jaga2, kalau tak ingin kesakitan yang kita beri ke orang lain, menyerang balik diri kita sendiri, you better diam or do nothin. Kekuatan tiap orang itu berbeda, tergantung kekuatan iman masing2. So you’d better be carefull.

But nampaknya gak semua manusia jago menganalisa keadaan dan menganalisa diri sendiri untuk sekedar instropeksi diri. Gak semua diberi blessing soal ini. Bukan urusan saya bagaimana mendamaikan hati orang atas serangan karma yang dirasanya, kalau dia tak bisa ngaca pada kekurangan dirinya sendiri? stress?…. your bad luck… 🙂

60e34def126a28dbc5456929cccf081d

Advertisements