It was somehow came to me a thought….that change my perception of “destiny”. Well.. actually I heard somewhere from someone about this matter but..I forgot who and when …(like usual, pity me).

Jadi ceritanya saya mikir seperti ini…

Tuhan, barangkali kalau saat itu aku milih kawin tak dengan si A, tapi kawin dengan si B, mungkin nasibku gak gini gini amat ya? Hancur lebur adat istiadat luar dalam all in all set in shit! Mungkin kalau saat itu aku kawin dengan si C hidupku bisa lurus2 manis tanpa dosa derita duka nestapa, tanpa luka sana tanpa luka sini, tanpa ambruk and I will just gonna be fine oooh sooo fine :(.

Banyak banget kemungkinan2 lain yang dengan bebasnya saya “kreatifkan” sedemikian rupa sehingga membuat saya menyesal sedalam dalam magma bumi bahwa saya telah memilih si A untuk saya kawini dan si B untuk saya lepas. Dan lain lain dan lain lain . (Versinya bejubun… dikarang sesuka hati soalnya)

And then …saya mendengar sesuatu semacam kutipan (apa membaca ya?) kira2 intinya seperti ini: tak akan ada kejadian yang luput darimu jika ALLAH berkehendak untuk kau mengalaminya. 

Sontak otak saya yang “tidur” seperti disentil sehingga dia berdenyut bekerja, berpikir, dan menganalisa.

Ohh? jadi, dengan siapapun saya menikah waktu itu, kalau memang saya sudah digariskan harus mengalami “pailit” (misalnya, atau kekurangan, atau penderitaan, atau kegilaan, atau apalah yang gak enak gak enak, you name it) artinya kejadian itu akan tetap menimpa saya tak peduli dengan siapa saya berpasangan? Oh well… cerita bisa saja berbeda tapi inti dari PELAJARAN HIDUP yang harus saya “grabe” as my purpose of life akan tetap “menguji” saya dan me”nimpa” saya tanpa tundaan tanpa cegahan dan tanpa halangan; lancar mulus dan sukses! No way to run away from it.

Bahkan kalau saat itu saya dipilih untuk berpasangan dengan soulmate saya yang tak bisa tidak akan saya cintai mati matianpun, saya akan tetap harus mengalami ujian seperti yang sedang menerpa saya saat ini. Saya tetap harus mengambil “mata kuliah” jenis ini ntah untuk berapa SKS, its really walahuallam berapa lama mata kuliah ini akan berlangsung. Yang pasti I must pass!!! kalau tak ingin mata kuliah gak enak ini berlarut larut menggayuti pundak. Berrrat.

Lalu saya berhenti menyesal. Saya baru ngeh se-kengeh kengehnya bahwa its stupid berpikir untuk menyesal. Tak ada kejadian yang di “bebankan” pada kita dengan sia-sia, dan tak ada kejadian yang bisa kita hindari kalau sudah digariskan menuju pada kita untuk kita jalani sebagai ujian.

That’s why my religion urges us muslims to be sabr and thankfull for whatever happen. Pertama, kita memang tak bisa melarikan diri dari ujianNYA, kedua kita hanya diminta sabar dan syukur dalam menghadapi ujianNya. Not complicated, isn’t it? but not easy too.

Can we?

cb16dcfcac590fdecd3d5f9b19f0d73bb5aae00c2fd84fedb6d9c8ecbde4c96b  3256d1e5f3a8834c0c8717456e237e05 9f20a823ce35f4f35737d324560186ca (1) 4790d3e9053a303568a4f69bce7b84b9

Advertisements