Sabr itu mulia, tapi juga tak gampang. Hanya orang-orang “KUAT” yang bisa sabr dan itupun mereka tak berani mengakuinya. Kenapa? Karena mereka tak tahu dimana batas sabar itu dan kapan puncak sabar itu? Satu-satunya manusia yang kesabarannya sudah teruji sampai tingkat yang “mematikan” adalah Nabi Muhammad saw. Sila googling sendiri kesabaran setingkat (tinggi) apakah yang beliau miliki?

Saya tak pernah menyamakan diri dengan Rasulullah saw. Never be the same. Tapi untuk tingkat2 “kerucuk” kadang2 saya merasa sudah sabar dan berani pulak mengakuinya , hhhhhhhhhh. Bukan mentang2 dengar dakwah soal sabar terus terusan lalu kita merasa sudah sabar. Ohooo ho ho, saya membuktikan bahwa itu perasaan yang menipu. Tak pernah benar perasaan itu sampai kita “teruji”. Dan ujian itupun datang pada saya.

Saat itu saya sedang memasak di dapur. Suddenly si kembar saya berantem seru gara2 rebutan tablet. Mereka saling berteriak, saling nagging, saut menyaut dan volumenya rising. Di dapur saya mulai terganggu tapi mencoba men-sabar kan diri. Saya nasehati mereka tapi , tak digubris. Mereka malah mulai saling menangis kesal dan terus berbantah-bantahan. Arguing, debat yang muter bolak balik itu itu saja. Saya kembali ke dapur, baca istigfar dan masuk ke kamar tempat mereka berantem setelah sekian menit. Merampas tablet mereka tanpa kata2 dan berlalu kembali ke dapur.

Saya pikir setelah sumber masalah di segel, mereka akan berenti ternyata salah. Oh man. Mereka pindah memperebutkan acara TV. Kali ini mereka sudah sama2 histeris argue nya sampai2, saya pikir, satu kecamatan bisa mendengar suara mereka. Again saya , yang merasa sudah sabar, kudu menyabarkan diri lagi. Tunggu punya tunggu, volume pertengkaran tak menurun malah naik. Up up up. Again saya masih mampu menguasai diri. Tanpa kata saya matikan TV dan kembali ke dapur meneruskan kerjaan dengan harapan, the fight was over karena sekali lagi objek masalah sudah dismissed.

But I was WRONG!!!. The test continued….

Mereka pindah rebutan play station. OMG! what was wrong? usually mereka langsung berenti di aksi saya yang pertama, kenapa ini tidak??? But, again karena saya merasa saya adalah orang yang sabar, maka anak2 yang bertengkar bak kucing garong bertengkar itu masih tak mampu menggoyahkan saya. I am so sure at that time bahwa I was sabr …I was a sabr mother. Oh yeahh… I didnt get angry at all. Amazing!

Saya masuk diantara mereka dan mencabut PS nya. Berlalu ke dapur kembali, tanpa kata, tanpa marah. Salah satu dari si kembar memandang saya dengan marah sementara yang satunya ngeloyor ke kasurnya karena merasa tak ada lagi objek yang bisa mereka rebutkan.

Yang pindah marah kepada saya ini meneruskan kesalnya dengan berbalik mengatai saya jahat : ibu jahaaat!! ibu jahaaaat!!!. Oh well… saya masih diam saja.

Teriakan2nya itu makin lama makin merobek kuping dan saya mulai terganggu. Kesabaran saya mulai terusik, sampai Allah menggerakkan kaki anak saya itu untuk menendang kerangjang sampah yang isinya penuh. Tendangan kesalnya itu melontarkan keranjang sejauh 3 meter dan sampah berhamburan memenuhi lantai rumah.

That’s it!!! it was when my eyes looked at the mess he made, my sabr was gone…..

Pada saat itu nafs saya menutupi hati dan membuat pikiran saya lupa sama sekali lupa soal teori tentang sabr.

Teorinya pada saat itu harusnya saya “melakukan sesuatu” dengan sabr. Datangi si anak, minta dia dengan baik2 supaya membersihkan sampah sambil kita berusaha menekan amarah yang dengan senang hati melahap hati. Tapi saya gagal melakukan itu karena saya ambil sapu buat nyabet kakinya. Fyiuuuuuh……

Saya berhasil memerintahkan dia membersihkan kembali sampah2 itu tapi tidak dengan sabr melainkan dengan amarah. Saya harus demo amarah dulu bahkan di depannya dengan mematahkan gagang sapu jadi dua. I really wanna show him that I could be a scary monster if he did not do what I asked him to do… and what I did WAS NOT A SABR thing. I failed.

Later I thought….. ketika saya merasa bahwa saya sabr itulah yang disebut dengan RIYA . RIYA ini termasuk penyakit tingkat tinggi karena dia menyusup ditengah-tengah orang alim biasanya. Dia ada ditengah-tengah kebenaran justru, dan dia waswasa yang sangat kental dari setan yang menyerang kita ketika kita HANYA merasa senang atau bangga hati justru pada PERBUATAN BAIK. Sangat sangat susaaah menahan RIYA supaya tak menyerang kita. Begitu kita lepas dari INGAT pada ALLAH, sedikiiiiit saja,  riya masuk! (Baca doa ini:  Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku sadari. Dan aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui)

Saya membuktikan sendiri, bahwa ketika kita merasa sabar, kita justru tak sabar dengan perasaan ketika kita merasa sabar itu sendiri, sehingga kita jadi riya. Dan Allah membuktikan pada saya bahwa, benar saya ternyata tak sabar seperti yang saya duga. Oke… now I wont say that I am already a sabr person. Nope. Saya akan tetap meminta kekuatan untuk menjadi orang yang sabr.

Lalu kapan saya harus bilang bahwa saya sudah sabar? nampaknya sampai matipun saya tak akan berani bilang bahwa saya sudah sabar. Never. Itu cuma contoh kecil dari “uji” sabar yang saya ternyata gagal. Belum sampai ke sabar2 tingkat tinggi lainnya. Sabar segitu sajaaaa, saya sudah riya??? memalukan sekali!!!

Dan begitulah, saya belajar sesuatu dari kejadian ini. Dan saya semakin kagum luar biasa pada Rasulullah saw. Saya ingin seperti beliau. Bukan ujiannya hehehehe…. tapi sabarnya 😀

f4ba4d41a6da7a09d36f8529610a8be3 9ef2b41c5c67365ab6bdd8d903bcbc2f b06096f20d293f95bb583743033b7ad4 192be4b5826f4e9fa292963ccd6be1c1 f79deb1f97aca98732e6f55182779526 c8b74bf91941f8e5359c49f78cdbe587 0aeaecda84a0f3716e8aeb83e6fc649e 9c18d580671922f95604ec4bc132b8de (1)

Advertisements