Adik saya bilang: hey! kau berubah ya sekarang???

And me like questioning myself: me? change? really?

Dia menyambar lagi : bunyimu sekarang berbeda. Sangat berbeda.

Saya berbeda?

Ya memang ada yang berbeda yang saya lakukan sih. Paling tidak saya percaya, kalau ingin sesuatu yang tak biasa ya lakukanlah sesuatu yang tak biasa pula. Kalau masih melakukan cara lama, pastinya keinginan yang di dapat ya yang itu itu lagi. Gak bakal kerjaan nyuci piring bisa menghasilkan masakan gulai ayam. Kalau mau gulai ayam ya gak cuci piring dong, kudu masak!! Ke pasar, beli bahan, racik bumbu, lalu masak. Logikanya begitu kan?

Beberapa teman curhat saya yang belum “move on” rata2 mulai tak betah dengan saya karena udah kebanyakan nasehat. Mungkin sudah terdengar seperti curhat ke nenek-nenek. Gak asik. Gak nimpali lagi melainkan meng-counter. Tapi saya sendiri memang gerah mendengar curhatan mereka. Bukan gerah karena bosan, no, mereka masih bebas kontak saya kapan saja dan ngomong sepuas puasnya. saya akan jadi pendengar setia; still. Tapi cara saya merespon mereka sekarang sudah gak asik buat mereka, karena mendadak batas antara benar dan salah itu menjadi begitu terang benderang di mata hati saya. Gak ada lagi kompromi. Saya tak suka lagi mencari-cari alasan pembenaran.

Lucunya, teman2 baru yang rata2 alim berdatangan menjadi kawan saya. Funny rite? Rasanya mulai terbukti perlahan-lahan bahwa perubahan itu harus dimulai dari diri kita sendiri dulu, barulah situasi sekitarnya akan ikut berubah. We do our part, dan left the rest to ALLAH’s hands.

Saya benar2 tak mau ambil pusing lagi dengan urusan orang lain. Mau gak sholat kek, gak berubah kek, tetap keras kepala kek, tetap gak peduli, tetap pundung, tetap apalah itu maunya, terserah. Bukan urusan saya lagi. Karena keyakinan saya kuat, bahwa kontrol keadaan itu ada dalam diri kita sendiri, dan bukan di diri orang lain.

Gak gampang merubah diri. Saya bukannya diam2 saja lalu, cling* berubah. No. Saya fight diri saya sendiri, saya fight pikiran2 lanturan saya, saya fight waswasa di hati, saya fight nafs saya, saya fight malas saya, saya fight jiwa bumi saya yang bawaannya memang sudah hitam dari sononya tanpa harus dijelagai tangan setan. Tiap detik menit jam hari minggu bulan, saya fight.

Hasilnya buat saya belum seberapa rasanya karena kadang2 saya lost khusyu, malas, dan masih suka nyeleneh dengan pikiran2 liar. Tapi meski begitu, susah payah saya seret kembali diri saya ke jalan yang saya niatkan untuk benar.

Dan hasilnya mungkin seperti itu… seperti kata adik saya.

Ya syukurlah kalau begitu…paling tidak sekarang saya tak lagi mau jadi pencari sinyal wifi karena bakal pontang panting sampai naik2 pager rumah supaya dapat sinyal, itupun kadang mampet loadingnya lama.

Saya mau jadi HOT SPOT!!!

5cdb899cf0f736cc6b1526085598f8496ffadcb8cd49e528f658061f7c3a1419